Latest Event Updates

KEPEMIMPINAN KERJA DAN KETERAMPILAN MANAJEMEN

Posted on

Abstrak

Dimanapun seorang pemimpin berperan, apakah ia sebagai pemimpin di sektor publik (lembaga pemerintahan atau swasta) maupun pemimpin di sektor bisnis (perusahaan negara atau swasta), ataukah ia sebagai pemimpin organisasi nirlaba dan organisasi laba,  maka mereka tetap membutuhkan  kepemimpinan yang diperlukan untuk membawa keberhasilan organisasinya ke depan. Dengan menyebut secara eksplisit kedua kata, yakni kata “kepemimpinan” dan kata “manajemen”, dimaksudkan agar keduanya dibedakan. Kepemimpinan merupakan kegiatan menginspirasi, memotivasi, menetapkan visi dan arah, berpikir strategik, dan memberi jalan  keluar  terbaik bagi tim kerja dan organisasinya. Sedangkan manajemen menangani semua mata rantai  operasi bisnis sehari-hari. Yang jelas, untuk sukses seseorang harus melaksanakan  wewenang dan tanggung jawabnya sesuai posisi yang diembannya jika ia ingin berhasil.

 

Kata Kunci : Kepemimpinan kerja, Keterampilan dan Manajemen

 

  1. A.  Pendahuluan

Saat memasuki dunia kerja, anda mungkin akan diminta menjalani beberapa peran yang berbeda. Jika anda dalam bidang manajemen, mungkin anda akan diminta menjadi seorang generalis yang mengoordinasikan sumber daya teknis, SDM, atau sumber daya kreatif di perusahaan anda. Jika anda dibidang riset, desain, atau pekerjaan dibidang produksi lainnya, anda mungkin harus menggunakan teknologi baru dan berkomunikasi secara efektif dengan banyak karyawan yang beragam.

            Salah satu cara mengembangkan keterampilan kepemimpinan adalah mengadopsi perspektif “outside-in” dalam organisasi anda. Ini berarti fokus pada kekuatan teknologi di luar organisasi dan memperkirakan kekuatan dan kelemahannya dari perspektif stakeholder eksternal”, seperti konsumen, supplier, dan bahkan pemerintah. Anda berarti harus mengadopsi pandangan yang lebih luas mengenai peran organisasi anda di dalam lingkungan.

            Untuk itu dibutuhkan visi. Menurut David Campbell dari Center for Creative Leadership,” Visionaris terbaik bukan mereka yang bisa memprediksi wajah abad ke 21. Visionaris adalah mereka yang dapat memetakan jalan konseptual untuk arah organisasi menuju masa depan. Dengan cara inilah kita akan sampai ke sana”.[1] Jenis kepemimpinan ini tidak mengandung unsur mistik. Ini adalah pendekatan strategis dan praktis yang didesain untuk memenuhi tantangan spesifik diabad informasi.

            Kepemimpinan dapat dipelajari, dan dapat diadaptasi untuk memecahkan problem. Jadi, tulisan ini dimaksudkan untuk membantu memahami dan mengembangkan keterampilan kepemimpinan. Selanjutnnya akan dibahas keterampilan dan fungsi manajemen dan kepemimpinan. Serta memberikan tinjauan singkat teori manajemen, yang membantu untuk memahami beberapa gaya manajemen yang berbeda, teori kepemimpinan berbasis model komunikasi strategis yang membantu sukses secara profesional, akademik dan personal.

 

  1. B.  APA YANG DILAKUKAN PEMIMPIN

Kepemimpinan memegang peranan yang sangat penting dalam perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan. Untuk memperoleh pengertian yang lebih jelas mengenai kepemimpinan maka penulis akan mengemukakan pendapat dari para ahli:
Pengertian Kepemimpinan Secara Umum Menurut Para Ahli “ Pendapat dari T Hani Handoko : Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang-orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran.[2]

Pendapat dari Soewarno Handoyo Ningrat : Kepemimpinan itu merupakan suatu proses dimana pimpinan digambarkan akan memberi perintah atau pengarahan, bimbingan atau mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[3]
           Dari pendapat-pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan seseorang atau kelompok dalam usahanya mencapai tujuan didalam situasi tertentu.

Hersey dan Blanchard, yaitu “leadership is the process of influencing the activities of an individual or group in efforts toward goal achievement in given situation”. [4] Pendapat ini menekankan bahwa upaya mempengaruhi individu atau kelompok agar mau dengan sukarela melakukan kegiatan dalam suatu situasi tertentu adalah proses kepemimpinan. Di dalamnya ada unsur-unsur, pemimpin (leader), yang dipimpin/anggota (followers), dan situasi (situation) dimana interaksi atau pengaruh itu berlangsung. Interaksi ketiga unsur ini menciptakan apa yang disebut proses kepemimpinan.

            Jamal Madhi, berpendapat hakiki kepemimpinan dalam Islam adalah untuk mewujudkan khilafah di muka bumi, demi terwujudnya kebaikan dan reformasi.[5]

            Istilah kepemimpinan dan manajemen sering dipertukarkan. Akibatnya kadang-kadang muncul kebingungan tentang delegasi aktual dari tanggung jawab dalam organisasi. Kepemimpinan dan manajemen adalah konsep komplementer yang menekankan pada mind-set dan tindakan yang agak berbeda. Manajer mengoordinasikan dan mengorganisasikan aktivitas. Pemimpin mempengaruhi orang dan perilakunya serta memotivasi organisasi ke arah perubahan yang konstruktif.[6] Misalnya, saat anda bekerja di proyek kelompok di kelas, dosen anda bertindak sebagai manajer apabila dia memberi tugas dan mengorganisasikan kelompok. Pemimpin, disisi lain adalah orang dimasing-masing kelompok yang memotivasi anggota lain agar berhasil menyelesaikan tugas dengan baik. Manajemen dan kepemimpinan, meskipun ada perbedaan sama-sama didasarkan pada keterampilan fundamental yang serupa. Kita awali dengan beberapa perilaku, keterampilan dan fungsi yang umumnya diasosiasikan dengan manajemen dan kepemimpinan.

  1. 1.    Fungsi Manajerial dan Keterampilan Kepemimpinan

Manajemen umumnya memiliki empat fungsi dasar : perencanaan, pengorganisasian, motivasi, dan pengendalian.[7]

  1. Perencanaan mengandung penentuan tujuan dan menyusun langkah umum untuk meraih tujuan.
  2. Pengorganisasian adalah proses mengumpulkan dan mengoordinasikan sumber daya manusia dan modal yang dibutuhkan untuk melaksanakan rencana.
  3. Pemotivasian menciptakan komitmen dan dukungan pada rencana.
  4. Pengendalian menggunakan otoritas dan kekuasaan untuk memastikan rencana berjalan dan berhasil.

Semua fungsi ini penting bagi kesuksesan organisasi, namun tingkat penekanannya tergantung pada situasi. Fungsi perencanaan mungkin paling penting dalam industri yang mengalami banyak perubahan dan inovasi. Pengendalian kurang berguna dalam bisnis yang mengutamakan kreativitas. Pengorganisasian mungkin kurang penting dalam operasi rutin seperti perakitan, dimana motivasi adalah lebih penting.

Manajemen selalu berusaha meraih tujuan yang direncanakan, namun kesuksesannya jarang dipakai tanpa kepemimpinan, baik itu kepemimpinan dari manajer atau dari orang lain yang terlibat. Kepemimpinan yang berarti bahwa tujuan yang baik harus ditentukan lebih dahulu.Pemimpin juga mesti pandai dalam memotivasi setiap aspek dari manajemen. Manajer biasanya merupakan pihak yang memiliki kontrol, sedangkan pemimpin adalah orang yang paling efektif dalam mejalankan kontrol dalam rangka meraih tujuan. Disisi lain, manajer yang baik biasanya unggul dalam hal pengorganisasian. Sampai tingkat tertentu, fungsi manajemen dan kepemimpian juga penting bagi mahasiswa. Anda sudah mengembangkan kemampuan untuk merencanakan waktu anda, mengorganisasikan studi atau materi riset, dan memotivasi diri anda sendiri untuk menyelesaikan kuliah atau tugas anda. Anda mungkin dalam posisi mengontrol orang lain, atau mungkin juga tidak. Namun pikirkan pengalaman anda di tem olahraga, di pekerjaan anda sebelumnya, atau di aktivitas lain yang pernah anda  jalani di mana anda pernah memimpin sekelompok orang. Anda akan terkejut saat ternyata banyak situasi kepemimpinan sekarang dengan mengidentifikasi peluang-peluang dan aktif menggabungkan fungsi kepemimpinan dalam rutinitas harian anda.

Kemampuan teknis manusia dan konseptual adalah penting bagi kerja manajer.[8] Keterampilan teknis mencakup kemampuan untuk menggunakan data, informasi, inovasi, dan teknik. Sebagai karyawan baru, anda mungkin dibei latihan khusus di bidan teknis, seperti cara menggunakan software perusahaan. Bertanya adalah cara lain untuk mendapatkan informasi teknis dan sekaligus menunjukkan semangat anda untuk belajar.

Keterampilan manusia (Human skills) adalah kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain dalam rangka mencapai tujan. Mengembangkan keterampilan kepemimpinan dapat dimulai dngan berusaha mengetahui tipe orang sepeti apa yang bisa bekerja sama dengan baik dengan anda. Untuk itu, anda harus tau cara mengukur kemampuan orang lain secara objektif dan menggunakan pengalaman anda sebagai bahan pertimbangan.

Keterampilan konseptual adalah kemampuan untuk melihat tugas anda dalam hubungannya seluruh organisasi dan mengetahui bagaimana organisasi berinteraksi dengn lingkungannya. Cara yang baik untuk memulai pengembangan keterampilan konseptual adalah dengan berpikir kritis tentang interaksi organisasi dengan lingkungan. Misalnya, pikirkan hubungan kampus anda dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Bagaimana hubungan itu ditingkatkan? Apa yang dapat dilakukan mahasiswa untuk memperbaiki hubungan? Mahasiswa di beberapa kampus mengadakan acara bakti sosial dimana mereka ikut membantu membersihkan lingkungan kampus dan lingkungan masyarakat sekitarnya, menjadi relawan untuk memperbaiki rumah penduduk, atau memberi bantuan bagi orang jompo dan sakit. Kegiatan semacam itu dapat meningkatkan keterampilan kepemimpinan.

  1. 2.      Keterampilan Berorientasi Masa Depan

Kemampuan untuk menangani imformasi adalah penting bagi fungsi manajemen dan kepemimpinan. Gareth Morgan mengatakan bahwa informasi menjadi produk terpenting didalam perekonomian global dan nasional, dan kemampuan unuk mendapatkan, mengasimilasi, menganalisis dan mengomunikasikan informasi akan sangat penting bagi kesuksesan organisasi.

Sebagai karyawan baru mungkin akan menghadapi tuntutan teknologi yang tak terduga. Anda harus siap untuk menghadapi tuntutan teknologi itu. Perlu menguasai cara menjalankan program komputer seperti word processing dan yang lainnya agar bisa menjadi karyawan yang efektif. Dengan cara ini anda dapat menunjukkan keterampilan kepemimpinan yang berpikir kedepan.

  1. 3.      Keterampilan Mendengar

Selain keterampilan berorientasi masa depan, Keterammanajer juga harus punya keterampilan komunikasi yang bagus. Salah satunya adalah keterampilan mendengar. Keterampilan ini dibutuhkan untuk memahami dan merespon pandangan karyawan, motivasi dan niat. Pada level yang lebih luas, manajer papan atas harus mendengarkan imformasi dari lingkungan secara terus menerus.

Meskipun kebanyakan pemimpin dan manajer mempraktekkan keterampilan dan fungsi yang dijelaskan disini, cara mereka melakukannya akan bervariasi. Sebagaimana organisasi memiliki struktur dan pola komunikasi yang berbeda, demikian pula manajer dan pemimpin menggunakan berbagai macam teknik untuk memotivasi dan memberi penghargaan kepada karyawan.

  1. C.  TEORI MANAJEMEN

Sejumlah peneliti telah mengemukakan teori tentang bagaimana manajemen dilaksanaknan dalam organisasi. Bahwa organisasi disusun strukturnya secara berbeda dan struktur organisasi itu mengindikasikan aliran komunikasi didalam organisasi. Peneliti telah  mengembangkan teori untuk menjelaskan gaya komunikasi spesifik didalam organisasi.

  1. 1.      Sistem Manajemen Likert

Likert mendeskripsikan manajemen dari segi apakah manajer fokus pada tugas ataukah pada hubungan dengan karyawannya, dia berpendapat bahwa penekan disatu sisi berarti akan mengurangi penekanan pada sisi yang lain. Likert mengusulkan 4 sistem yang menjadi karakteristik gaya kepemimpinan :

            Sistem 1. Gaya manajemen sistem 1 adalah berorientasi tugas dan sangat terstruktur dan otoriter. Relasi interpersonal dianggap tidak penting. Manajer sistem 1 kurang mempercayai bawahannya dan tidak melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan. Bawahan bekerja dalam iklim intimidasi dan takut. Komunikasi berlangsung dari atas ke bawah, mengikuti rantai komando.

Sistem 2. Gaya manajemen sistem 2 berorientasi tugas, namun kontrol organisasi atau unit tidak terlalu otoriter. Manajer mau turun menemui bawahan tetapi masih belum terlalu percaya kepada bawahan. Beberapa pembuatan keputusan diserahkan pada level bawah, namun problem organisasi dipecahkan oleh jajaran pimpinan organisasi. Meski sebagian besar komunikasi dari manajer menggunakan rantai komando, beberapa interaksi dilakukan secara langsung antara manajer atas dengan bawahan.

            Sistem 3. Manajer sistem 3 secara terbuka percaya pada bawahannya. Manajer mengontrol bawahan melalui negoisasi dan kolaborasi. Pengambilan keputusan diizinkan dilevel bawah, khususnya dalam masalah yang langsung mempengaruhi karyawan. Aliran komunikasi relatif bebas dari atas atau dari bawah.

            Sistem 4. Manajer sistem 4 berkonsentrasi pada hubungan antara atasan dan bawahan. Mereka mengembangkan rasa saling percaya dengan pekerja dan mendorong pengambilan keputusan disemua level organisasi. Manajer sistem 4 tidak menggunakan ancaman atau intimidasi. Pertukaran pesan yang bebas dan terbuka berlangsung di antara atasan dan bawahan.

 

 

  1. 2.      Managerial Grid Blake dan Mouton

Dalam model teoritis seperti Likert-yakni satu kontinum dengan dua “ ujung “ yang bertentangan-peningkatan ( atau penurunan) di satu ujung akan menyebabkan penurunan (atau peningkatan) di ujng lain. Namun, bagaimana jika yang bertentangan itu eksis secara bersamaan? Dengan kata lain, bagaimana jika kontradiksi itu tidak saling meniadakan? Dalam kasus manajemen, apakah mungkin bagi manajer untuk fokus pada kedua hubungan dan tugas itu? Robert Blake dan Jane Mouton menjawab ya. Mereka menganggap masing-masing fokus potensial-perhatikan pada orang dan produksi-memiliki variabilitas tersendiri. Mereka menggambarkan manajemen sebagai kisi-kisi atau grid yang terdiri dari dua aspek yang interdependen yang ada di dalam setiap situasi setiap kali orang melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan.

Yang dimaksud perhatian pada produksi adalah penekanan manajer pada upaya  pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Meski ada banyak kombinasi dari dua faktor itu, Blake dan Mouton mengusulkan lima gaya manajerial utama.

 

  1. D.    TEORI KEPEMIMPINAN
  2. 1.      Model Pemimpin Partisipasi Vroom dan Yetton

Seberapa sulit kah menyuruh orang melakukan sesuatu ketika mereka tidak ikut ambil bagian dalam mengambil keputusan? Riset Victor Vroom dan Phillip Yetton berfokus pada  partisipasi pengikut dalam pengambilan keputusan.[9] Menurut Model mereka, ada lima opsi untuk mendeskripsikan bagaimana bawahan bisa terlibat dalam pengambilan keputusan .

Model Pemimpin partisipasi ini penting karena dua sebab. Pertama ia dapat mendeskripsikan pemimpin yang memilih satu level secara konsisten dan yang bawahannya diikutsertakan dalam pengambilan keputusan. Model ini juga menunjukkan bahwa ada fleksibilitas  di antara gaya pengambilan keputusan. Orang lebih mau menerima keputusan apabila mereka terlibat di dalam proses pengambilannya.

  1. 2.      Teori Kepemimpinan Transaksional Kuhnert dan Lewis

Kepemimpinan transaksional , teori yang dikemukakan oleh Karl Khnert dan Philip Lewis menjelaskan hubungan antara atasan dan bawahan yang didasarkan pada pertukaran untuk mendapatkan keuntungan bersama. Menurut teori ini, pemimpin menawari bawahannya hal-hal yang mereka inginkan seperti gaji tinggi, cuti, atau tunjangan untuk mendapatkan hal-hal tertentu sebagai imbalannya seperti kerja lembur untuk proyek spesial, kerja tambahan, dan loyalitas. Transaksi terjadi ketika masing-masing pihak memberi sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain.

            Kepemimpinan transaksional hanya berhasil apabila satu pihak memiliki sesuatu yang diinginkan pihak lain. Tetapi apa yangterjadi jika pemimpin tidak bisa menawarkan sesuatu yang diinginkan bawahan? Misalnya, dimasa ekonomi sulit, pimpinan mungkin tidak bisa memberikan bonus untuk kerja ekstra, namun pekerjaan tetap harus dilakukan. Dalam situasi seperti itu, pemimpin harus mencari alternatif untuk ditawarkan kepada bawahannya, seperti janji kenaikan gaji jika kondisi membaik atau diberi penghargaan lain. Agar gaya kepemimpinan ini efektif, kedua belah pihak harus menyadari hubungan mereka.

  1. 3.      Teori Kepemimpinan Transformasional Kuhnert dan Lewis

Kuhnert dan Lewis mengidentifikasi satu tipe kepemimpinan yang disebut kepemimpinan transformasional.[10]Berbeda dengan kepemimpinan transaksional, kepemimpinan transformasional berfokus pada upaya pencapaian tujuan melalui penawaran nilai dasar kepada anggota organisasi.

            Pemimpin transformasional tidak sekedar mengomunikasikan nilai-nilai mendasar ini kepada bawahannya, perilakunya juga harus mencerminkan nilai-nilai itu. Menurut Kuhnert dan Lewis pemimpin transformasional yang sukses memiliki rasa percaya diri, kepribadian yang dinamis, keyakinan kuat, kemampuan menyampaikan tujuan, mampu membangun citra baik, dan berbakat dalam memotivasi orang lain.[11]

            Selanjutnya ada beberapa teori kepemimpinan menurut pendapat para ahli yaitu :

1. Teori orang-orang terkemuka

Bernard, Bingham, Tead dan Kilbourne menerangkan kepemimpinan berkenaan dengan sifat-sifat dasar kepribadian dan karakter.

 

2. Teori lingkungan

Mumtord, menyatakan bahwa pemimpin muncul oleh kemampuan dan keterampilan yang memungkinkan dia memecahkan masalah sosial dalam keadaan tertekan, perubahan dan adaptasi. Sedangkan Murphy, menyatakan kepemimpinan tidak terletak dalam dari individu melainkan merupakan fungsi dari suatu peristiwa.

3. Teori personal situasional

Case (1933) menyatakan bahwa kepemimpinan dihasilkan dari rangkaian tiga faktor, yaitu sifat kepribadian pemimpin, sifat dasar kelompok dan anggotanya serta peristiwa yang diharapkan kepada kelompok.

4. Teori interaksi harapan

Homan (1950) menyatakan semakin tinggi kedudukan individu dalam kelompok maka aktivitasnya semakin meluas dan semakin banyak anggota kelompok yang berhasil diajak berinteraksi.

5. Teori humanistik

Likert (1961) menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan proses yang saling berhubungan dimana seseorang pemimpin harus memperhitungkan harapan-harapan, nilai-nilai dan keterampilan individual dari mereka yang terlibat dalam interaksi yang berlangsung.

6. Teori pertukaran

Blau (1964) menyatakan pengangkatan seseorang anggota untuk menempati status yang cukup tinggi merupakan manfaat yang besar bagi dirinya. Pemimpin cenderung akan kehilangan kekuasaaanya bila para anggota tidak lagi sepenuh hati melaksanakan segala kewajibannya.[12]

 

  1. E.     KEPEMIMPINAN VERSUS MANAJEMEN

Ahli kepemimpinan terkenal, Peter Drucker mengatakan bahwa “Manajemen adalah melakukan hal dengan benar, kepemimpinan adalah melakukan hal yang benar.[13] Mengetahui apa itu hal yang benar membutuhkan keterampilan yang berbeda dengan melakukan sesuatu yang benar. Jenis keterampilan kepemimpinan ini mungkin merupakan bagian dari gaya manajemen seseorang, atau juga tidak. Banyak manajer madya, khususnya dapat berfungsi dengan baik. Namun kebanyakan posisi manajer menawarkan kesempatan untuk menunjukkan kepemimpinan.

Model komunikasi strategis memberikan arah tentang keterampilan kepemimpinan. Keterampilan itu dibagi menjadi empat komponen utama: penentuan tujuan, pengetahuan situasi, kompetensi komunikasi, dan manajemen kecemasan. Dengan menguasai masing-masing area anda dapat memahami dasar-dasar yang dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan.

 

  1. F.     DASAR-DASAR KEPEMIMPINAN STRATEGIS

John F. Kennedy pernah mengatakan bahwa kepemimpinan dan proses belajar mutlak saling melengkapi. Kemampuan pemimpin untuk menentukan tujuan akan diperkuat oleh pengetahuan situasional informasi yang dibutuhkan pemimpin untuk mengelola situasi secara efektif. Pengetahuan ini mencakup informasi tentang organisasi dan pengetahuan tentang diri sendiri. Semakin banyak pengetahuan tentang kemampan diri, kelemahan diri dan gaya personal, semakin siap pemimpin untuk mengambil langkah perubahan.

  1. 1.      Pengetahuan Tentang Diri

Opini anda tentang diri anda, konsep diri anda adalah penting bagi pengembangan keterampilan kepemimpinan. Pemimpin perlu punya pandangan yang benar tentang dirinya sendiri. Ini bukan berarti pemimpin egois dan benar sendiri. Ini berarti pemimin harus tahu kekuatan dan kelemahannya sendiri.

Metode lain untuk evaluasi diri adalah menilai pendapat anda sendiri tentang isu yang mempengaruhi diri anda. Pandangan anda sebagian dipengaruhi oleh kultur anda, dan orang dari kultur yang berbeda mungkin punya sikap dan pandangan yang berbeda tentang isu yang sama. Akan tetapi, adalah penting bagi anda untuk menilai pendapat personil anda. Anda mungkin berfikir bahwa anda punya opini pada isu tertentu, namun sebelum anda menuliskannya atau mengartikulasikannya, opini anda masih kabur.

  1. 2.      Pengetahuan Organisasional

Pemimpin yang cerdas memahami semua tugas dalam operasi organisasi, meski tidak sampai mengetahui detail spesifik dari deskripsi kerjanya. Dengan memahami gambaran besar inilah pemimpin bisa mengoordinasikan semua faktor yang diperlukan untuk mencapai tujuan.

            Thomas Peters dan Robert Waterman menunjukkan bahwa manajer belajar tentang bisnis dengan berkeliling-keliling.[14]Yang lainnya berbicara tentang manajemen di tangan. Frasa semacam ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif adalah aktif dan interaktif, sebagian tergantung pada perhatian pemimpin pada kontribusi orang lain terhadap organisasi. Frasa ini juga menunjukkan bahwapemimpin yang baik adalah orang yang mengawali dengan sederhana dan berjuang naik dari level rendah di dalam organisasi.

            Sumber penting untuk pembelajaran berkesinambungan adalah kegagalan. Kebanyakan orang memandang kegagalan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Tetapi pemimpin yang cerdas menekankan pentingnya mengambil risiko dan belajar dari kegagalan. Anda bisa terbiasa dengan resiko dengan mengembangkan rencana respons untuk mengubah kegagalan menjadi pengalaman pembelajaran. Rencana itu berupa empat tugas untuk merespon kegagalan :

Meninjau                    Menilai                    Memprediksi                         Memecahkan

            Segera setelah terjadi kegagalan, tinjau kembali urutan kejadian yang menyebabkan kegagalan, baik oleh diri sendiri maupun bersama orang lain yang terlibat di dalam proses itu. Tentukan titik di mana realitas menyimpang dari yang ideal. Kemudian nilailah penyimpangan itu. Apakah problemnya kecil atau besar? Apakah ada lebih dari satu problem? Apakah problemnya berasal dari  kurangnya persiapan, informasi yang kurang tepat, konflik atau beberapa sebab lain? Gunakan penilaian itu untuk memprediksi kemungkinan problem itu akan terjadi lagi. Apakah kemungkinannya kecil? Ataukah mungkin terjadi seminggu lagi? Terakhir, gunakan analisis anda terhadap tiga faktor itu untuk memecahkan cara menangani situasi semacam itu di masa depan.

 

  1. G.    KOMPETENSI KOMUNIKASI MENUNJUKKAN KETERAMPILAN KEPEMIMPINAN

Keterampilan komunikasi apa yang dibutuhkan untuk kepemimpinan dan bagaimana dapat mulai mengembangkannya sekarang? Selain keterampilan mendengar secara efektif, elemen penting dari komunikasi adalah membangun kepercayaan, meningkatkan pemahaman, dan memberdayakan orang lain. Kepercayaan (rasa percaya) berasal dari komitmen yang kuat terhadap perilaku etis di dalam sistem nilai organisasi. Pemahaman berasal dari tindakan mendengarkan orang lain, menggunakan bahasa yang jelas dan hormat, dan menggunakan teknik kontrol perilaku yang tepat. Pemberdayaan berarti memberi orang kesempatan untuk berfikirdan bertindak bagi dirinya sendiri berdasarkan pedoman nilai dan visi organisasi.

  1. 1.    Kepercayaan

Kepercayaan mengalir dua arah. Pengikut tidak akan mempercayai pimpinan yang tidak mempercayai mereka dan sebaliknya. Manajer atau atasan yang mempercayai karyawannya dengan memberi mereka tugas penting atau tambahan sering akan mendapatkan penghormatan dari karyawan karena manajer itu dianggap memahami kemampuan karyawan. Pemimpin dan karyawan dapat membangun rasa saling percaya untuk mencapai tujuan yang penting.

Ciri lain dari kepercayaan adalah sifatnya yang rentan. Membangun kepercayaan dapat lama dan lambat, tetapi sering kali satu atau dua kali penghianatan akan membuat pemimpin kehilangan akan semua pengikutnya yang sebelumnya percaya padanya selama beberapa tahun. Kepercayaan adalah salah satu unsur penting dalam kepemimpinan, namun juga rapuh.

  1. 2.    Pemahaman

Keterampilan kedua yang penting bagi kepemimpinan, dimulai dengan memperhatikan apa-apa yang dikatakan oleh anak buah. Mengdengar bisa menambah pemahaman karena menunjukkan bahwa pemimpin memperhatikan masukan bawahan dan mempertimbangkannya secara serius. Perhatikan saran-saran yang bisa dipakai pimpinan meminta nasehat dari bawahannya.[15]       

  • Mengajak teman kerja dalam membahas prolem dan isu.
  • Mendorong individu untuk berpikir
  • Permudah bawahan untuk mengomunikasikan ide kepada anda.
  • Pikirkan masak-masak dan bahas ide-ide itu.
  • Berikan penghargaan bagi mereka yang memberi saran yang bagus.
  1. 3.      Pemberdayaan

Pemberdayaan memberi otoritas kepada orang untuk bertindak secara independen. Pemberdayaan dapat meningkatkan kreativitas, kerjasama dan inspirasi. Warren Bennis menulis, pemimpin yang baik membuat orang merasa penting dan dihargai, tidak disisihkan. Setiap orang merasa dirinya berarti bagi kesuksesan organisasi. Ketika itu terjadi orang akan merasa diperhatikan dan pekerjaan mereka bermakna. Pemberdayaan dapat direalisasikan hanya melalui keterampilan kepemimpinan yang efektif, seperti mengurangi perbedaan status dan membangun tim.

Mengurangi perbedaan status. Pemimpin yang efektif pada umumnya dianggap memiliki stats lebih tinggi daripada bawahannya. Status ini membuat mereka mengemban tanggungjawab membuat keputusan penting. Namun perbedaan status antara pimpinan dan bawahan dapat menimbulkan efek masalah menurunnya semangat, efisiensi, dan produktivitas. Pemimpin yang lebih suka menjaga perbedaan status kemungkinan akan menghadapi masalah. Relasi yang lebih seimbang terjadi apabila bawahan memandang atasannya sebagai mitra senior yang bekerjasama untuk mencapai tujuan.

Pembentukan tim. Pembentukan tim (team building) dapat memberdayakan orang karena ia membuat pekerjaan bisa diselesaikan dengan sedikit arahan dan manejemen. Team building mengandung dua elemen: keterlibatan dan integrasi.

Keterlibatan, atau mengajak orang melakukan aktifitas selain tugas hariannya akan membuat dirinya penting dalam organisasi. Partisifasi dalam aktivitas khusus seperti tim mandiri, penentuan tujuan, workshop pengembangan profesional, dan survei[16] organisasi dapat membuat karyawan merasa dirinya diberdayakan.

Integrasi, atau menyatukan orang sehingga berbagai keahlian dan talenta mereka dapat saling melengkapi dan saling mendukung, akan membuat mereka merasa mampu bekerjasama dengan baik. Teamwork dapat memuaskan karena bekerjasama dengan orang lain dapat membuat orang bekerja lebih baik ketimbang kerja sendirian.

Mengelola Kecemasan adalah bagian penting dari kepemimpinan. Pemimpin mengalami kecemasan hampir setiap hari seperti orang lain. Manajer dan pimpinan yang efektif mengontrol kecemasannya dan tidak membiarkan dirinya dikuasai kecemasan. Optimisme, ketabahan, semangat dan menerima tanggung jawab atas kegagalan akan membuat pemimpin akan bisa mengatasi kecemasan kerjanya.

 

 

 

  1. H.    PENUTUP

Manajemen dan kepemimpinan, meski tidak sama secara konseptual, memiliki beberapa fungsi yang sama. Perencanaan, pengorganisasian, motifasi dan pengendalian membutuhkan keterampilan yang sama dalam teknis, manusia, kognitif dan orientasi masa depan. Fungsi-fungsi ini dapat lebih efektif dengan bantuan komunikasi yang cerdas.

Keterampilan kepemimpinan strategis dapat bermanfaat bagi siapa saja yang perlu berkomunikas dengan kelompok atau untuk mendapatkan dukungan atas ide. Keterampilan ini tidak hanya milik eksekutif, ia bisa bermanfaat untuk komunikasi sehari-hari.

Kompetensi komunikasi menunjukkan etika organisasi, meningkatkan pemahaman dalam pengambilan keputusan dan mempelajari strategi komunikasi yang efektif untuk tujuan memberdayakan orang lain . Kecemasan sering mengiringi resiko komunikasi kepemimpinan namun bisa dihadapi dengan optimisme, keuletan, semangat dan penerimaan tanggung jawab atas kekeliruan.


[1] Dikutip dalam W.Keichell. A Hard Look at Executive Vision. Fortune. 1989, hlm.207.

[2] T.Hani Handoko. Manajemen. Yogyakarta: BPFE. 1986, hlm.294.

[3] Soewarno Handoyo Ningrat. Pengantar Ilmu Studi Administrasi dan Manajemen. Jakarta: CV. Haji Mas agung. 1980, hlm.64.

[4] Hersey, Paul dan Kenneth H. Blanchard. Managament of Organizational Behavior. New Jersey: Prentice Hall Company. 1988, hlm.86.

[5] Mahdhi, Jamal. Menjadi Pemimpin Yang Efektif dan Berpengaruh. Terjemahan Amang Syafrudin & Ahmad Fauzan. Bandung: Syamil Cipta Media. 2001, hlm.23.

6 P.G. Northouse. Leadership Theory and Practice. Calif: Sage, 2004, hlm.184.

 

[7] P. Hersey dan K. Blanchard . Manajemen of Organizational Behavior. Englewood Cliffs: Prentice Hall, 1982, hlm.185.

[8] Ibid

[9] V. Vroom & P. Yetton. Leadership and Decision Making. Pittsburgh: University of Pittsburgh Press. 1973, hlm. 647.

[10] . Kuhnert & P. Lewis. Transactional and Transformational Leadership: A Constructive Development Analysis. 1987, hlm. 648-657.

 

[11] Dan O’Hair, Gustav W. Friedrich, & Lynda Dee Dixon. Strategic Communication. Jakarta: Kencana. 2009, hlm. 193-194.

 

 

[13] Dan O’Hair, Gustav W. Friedrich, & Lynda Dee Dixon. Op.cit. hlm. 193-194.

[14] T. Peters  & R. Waterman. In Search Of Excellence. New York: Warner Books. 1982.

[15] J.K.Van Fleet.The 22 Biggest Mistakes Managers Make and How to Correct Them. West Nyack: Parker. 1982, hlm. 147

[16] D.Seibold dan B. C. Shea. Participation and Decision Making, The New Handbook of Organizational Communication. Calif: Sage. 2001, hlm. 664-703.

Advertisements

PUBLIK RELATIONS DALAM PERSEPEKTIF ISLAM

Posted on

ABSTAKSI

 

 

Kegiatan public relation ini sangat berkaitan dengan pembentukan opini public dan perubahan sikap dari masyarakat. Peranan public relations memiliki kekuatan dalam membentuk opini ublic dan menekankan fingsi untuk menggalang pengertian antara lembaga yng diwakilinya dengan public yang menjadi target sasarannya, serta pengbdiannnya demi kepentingan umum.

 

 

 

Public Relations dalam Islam memerlukan suatu kode etik yang berdasarkan Al- Qur’an dan Al- Hadis dan bukan berdasarkan kode etik Barat.

Karena Al-Qur’an merupakan firman Allah SWT dan Al- Hadis merupakan penuturan, perbuatan, tindakan atau pengakuan Rasulallah SAW yang mempunyai  pribadi yang mulia adalah sumber Islam

 

 

Pendahuluan

 

 

 

 

 

 

Kegiatan publlik relation di Indonesia diterjemahkan dengan hubungan masyarakat (humas) dan istilah ini sudah sangat populer dimasyarakat. Public relations ini dipraktekkan dalam suatu lembaga organisasi, perusahaan dan badan lainnya. Kegiatan ini mulai berkembang sejak awal decade lima puluhan pada saat bangsa Indonesia mulai mengisi kemerdekaan setelah diraih secara de facto dan de jure, terutama pada saat-saat pesatnya kemajuan di masa orde baru.

Kegiatan Public relation adalah suatu kegiatan yang menyelenggarakan komunikasi timbal balik (two way communications) antara peruahaan atau lembaga organisasi dengan public yang bertujuan untuk menciptakan saling pengertian (understanding) dan dukungan (goodwill) bagi tercapainya suatu tujuan tertentu, demi kemajuan dan membentuk citra positif (good image) bagi perusahaan, lembaga ataupun organisasi yang bersangkutan.

Kegiatan public relation ini sangat berkaitan dengan pembentukan opini public dan perubahan sikap dari masyarakat. Peranan public relations memiliki kekuatan dalam membentuk opini ublic dan menekankan fingsi untuk menggalang pengertian antara lembaga yng diwakilinya dengan public yang menjadi target sasarannya, serta pengbdiannnya demi kepentingan umum.

Defenisi Public Relations dan Public Dalam Public Relation

Banyak defenisi Public Relation yang ditawarkan oleh para pakar Pulic Relation, dari defenisi yang ditawarkan adanya tanggapan bahwa Public Relation merupakan suatu ilmu, suatu sistem, seni, fungsi, proses, profesi, metode, kegiatan dan lain sebagainya. Walau tanggapan tersebut berbeda namun, sebenarnya esensi maupun pokok pikiran defenisi yang ditawarkan semuanya sama. Defenisi tersebut antara lain dari:

The British Institute of Public Relation;

“Upaya yang sungguh-sungguh, terencana dan berkesinambungan untuk menciptakan dan membina saling pengertian antara organisasi dengan publiknya.”

Edward L. Bernays dalam bukunya PR mengatakan:

“Public Relations yaitu 1. penerangan pada masyarakat, 2. Persuasi untuk mengubah sikap dan tingkah laku masyarakt dan. 3. Usaha untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan suatu badan dengan sikap perbuatan masyarakat dan sebaliknya”.

Frang Jefkinse

Public Relations consint of all forms of planned communications, outwards and inward, between an organizations and its publics for the purposes of achieving specifict objective concerning mutual understanding.”[1]

The International public Relations Association

“Public Relations adalah Fungsi manajemen yang bersangkutan dan terarah lewat mana organisasi dan lembanga umum maupun pribadi,berusaha memenangkan dan mempertahankan pengertian,simpati dan dukungan orang-orang yang mereka inginkan dengan menilai pendapat umum disekitar mereka sendiri, untuk kemudian dihubungkan d sejauh mungkin dengan karsa dan tingkah lakunya, gna mencapai kerjasama yang produktif dan lebih efisien untuk memenuhi kepentingan mereka bersama denngan suatu imformasi yang direncanakan dan disebarluaskan”.

Sam Black

“Praktek hubungan masyarakat adalah suatu seni sekalligus ilmu untuk mencapai keserasian dengan lingkungan lewat saling pengertian yang didasarkan pada kebenaran dan imformasi yang lengkap”.[2]

Scott M. Cultip dan Allen H. Center dalam buku Efektif Publik Relation

“Publik relations merupakan fungsi manajement yang menilai sikap public, mengidentifikasikan kebijaksanaan dan tata cara seseorang atau organisasi demi kepentingan public, serta merencanakan dan melakukan suatu program kegiatan untuk meraih pengertian, pemahaman, dan dukungan dari publiknya”.

Jhon E. Marston dalam bukunya Modern Publik Relations

“Publik relations is planned, persuasive communications designed to influence significant public”.[3]

            Dari defenisi yang tertera maka dapat disimpulkan bahwa public relation adalah suatu kegiatan komunikasi dan fungsi manajemen untuk menanamkan dan memeroleh pengertian (understanding), good will, toleransi (tolerence), kepercayaan (confidence), penghargaan (appreciation), memperoleh opini public yang favorable serta image yang tepat berdasarkan prinsip-prinsip hubungan yang harmonis baik kedalam (internal) maupun keluar (eksternal).

            Sedangkan defenisi dalam perspektif Islam kita dapat mengikuti defenisi yang dipakaioleh sarjana The Institute of Public Relations Malaysia (IPRM) yakni:

a planned and sustained between an organization and its publics based on Islamic principles and values”. (upaya terencana dan berkesinambungan untuk menciptakan dan membina komunikasi dan saling pengertian antara organisasi dan publiknya berdasarkan prinsip-prinsip Islam dan nilai-nilai Islam).[4] Defenisi ini merupakan defenisi yang diikuti dan dimodifikasi dari defenisi yang ditawarkan olehb the British Institute of Public Relations Amerika.

            Publik dalam publis relations adalah kelompok yang harus senantiasa dihubungi dan diperhatikan, ada dua macam public yang menjadi tujuan yaitu: publik intern dan publik ekstern.

            Publik interen yakni public yang menjadi bagian unit badan, lembaga organisasi, perusahaan seperti; pegawai/karyawan dan termasuk juga para pejabat pengambil keputusan dari lembaga itu sendiri.

            Publik Ekstern yakni public umum atau orang luar dimana suatu lembaga itu berada yang harus diberi penerangan atau imformasi demi tumbuhnya goodwill dari mereka.[5]

Peranan Fungsi dan Tujuan Public relations

Dalam lapangan  mempunyai peran ganda  yang bersifat berperan sebagai komunikator, sekaligus menjadi mediator (perantar), organisator serta konsultan dan ia juga mempunyai tanggungjawab sosial. Dalam menjalankan peranannya harus berlandaskan etika dan moral yang tinggi sebagai penyandang professional public relations serta berkewajiban memberi pelayanan yang sebaik-sebaiknya demi kepentingan public atau pihak lembaga yang pandai menjaga rahasia dan citra baik lembaga tersebut dimata public.[6]

            Pada hakikatnya public relation terbagi dua pengertian sekaligus menjelaskan fungsi dan tujuan, pertama ; public relation dalam arti sebagai method of communication, kedua; public relation dalam arti sebagai state of being.

 

Public relation dalam arti method of communication adalah suatu rangkaian atau sistem kegiatan komunikasi. Menurut Rusadi dalam bukunya Praktek dan solusi public relations dalam situasi krisis dan pemulihan citra, kegiatan komunikasi dalam public relation berciri komunikasi yang berlangsung dua arah dan timbal balik (two way traffic comunication) antara komunikator dan komunikan dalam rangka meningkatkan pembinaan kerjasama dan pemenuhan kepentingan bersama dengan lambang-lambang yang sama (komunikasi paradigmatis).[7] Harold D. Lasswell mengatakan komunikasi paradigmatis memilki komponen-komponen sebagai berikut: “Who say what in which channel to whom with what effect”.[8]

  1. Who say ( Siapa yang mengatakan)

Who say bertindak sebagai komunikator, yang melakukan fungsi komunikasi merupakan bentuk penyebaran imformasi dan komunikasi juga berlangsung dalam bentuk penyampaian pesan dan menciptakan opini public.

  1. What ( Menyatakan apa)

What merupakan suatu pernyataan yang didukung oleh lambang-lambang tertentu baik itu tulisan, bahasa lisan dan gambar. Pesan yang disampaikan merupakan suatu pernyataan sebagai paduan antara buah pikiran dan perasaan (cognitife and affective) yang berupa ide, imformasi keluhan, keyakinan, anjuran, persuasi, publikasi, berita, dan sebagainya.[9]

  1. In which channel ( melalui saluran apa)

Sarana saluran atau alat yang dapat mendukung dan menunjang penyampaian pesan. Media komunikasi dalam public relation terdiri dari: media berita, media siaran, komunikasi tatap muka atau komunikasi tradisional.

  1. To whom ( kepada siapa)

Objek yang dijadikan sasaran dan sebagai penerima pesan disebut dengan public.

 

 

 

  1. With what effect ( dengan efek apa)

Pesan yang disampaikan menghasilkan suatu reaksi berupa tindakan (actions), sikap atau prilaku tertentu (behavior) pada sasaran yang dituju, apakah itu mendukung (proponent), menentang (opponent) atau tidak peduli ( uncommitted).

            Begitu halnya metode komunikasi public relations menurut onong dalam bukunya Human Relations and Public Relations, mengatakan bahwa setiap pemimpin dari suatu organisasi dapat melaksanakan public relations, suatu komunikasi yang khas mempunyai ciri-ciri dan meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

  1. Komunikasi yang dilakukan berlangsung dua arah atau timbal balik.
  2. Kegiatan yang dilakukan terdiri dari penyebaran informasi, pelaksanaan, persuasi dan pengkajian opini public.
  3. Tujuan yang dicapai adalah tjuan organisasi itu sendiri.
  4. Sasaran yang dituju adalah publlic didalam dan public diluar.
  5. Efek yang diharapkan adalah terjadinya hubungan yang harmonis antara organisasi dengan publlic.[10]

Fungsi Public Relations officer dalam menjalankan tugas dan operasionalnya sebagai komunikator dan mediator, maupun organisator onong juga mengatakan dalam bukunya Hubungan masyarakat suatu komunikologis sebagai berikut:

  1. Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan organisasi.
  2. Membina hubungan harmonis antara organisasi dengan public internal dan public eksternal.
  3. Menciptakan komunikasi dua arah dengan menyebarkan imformasi dari organisasi kepada publiknya dan menyalurkan opini public kepada organisasi.
  4. Melayani public dan menasehati pimpinan organisasi demi kepentingan umum.
  5. Operasionalisasi dan organisasi public relations adalah bagaimana membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publiknya, untuk mencegah terjadinya rintangan psikologis, baik yang ditimbulkan dari pihak organisasi maupun dari pihak publiknnya.[11]

Dari beberapa pernyataan diatas tentang fungsi public relations kita juga dapat membuat suatu kesimpulan akan fungsi tersebut dalam perspektif Islam yang berdasarkan Al- Qur’an yaitu:

  1. Pemberi Peringatan

Surat Al- Fath ayat 8: “Sesungguhnya kami mengutus kamu sebagi saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.”[12]

  1. Menyebarkan dan imformasi

Surat Al- Maidah ayat 67: “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya….[13]

  1. membangun kerja sama dan memelihara saling pengertian antara organisasi dan public.

Surat Al- Maidah ayat 2:”… Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajukan dan takwa dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…”[14]

  1. memberi peringatan atau menasihati pimpinan demi kepentingan umum.

Surat Adz- Zariaat ayat 55: ”Dan tetaplah memberi peringatan kerena sesungguhnya peringatan itu bebmanfaat bagi orang-orang yang beriman”.[15]

Public relations dalam arti State of Beinng adalah merupakan perwujudan kegiatan berkomunikasi sehingga melembaga atau keadaan wujud yang merupakan wahana kegiatan hubungan masyarakat.[16]

Ciri-ciri dan aspek-aspek yang ditawarkan Onong seperti diatas dapat dilaksanakan oleh seorang pimpinan apabila organisasi atau lembaga atau perusahaan dan lain-lain itu dalam suatu bentuk kecil. Tetapi apabila organisasi atau lembaga tersebut menjadi besar dalam arti kata jelas dapat dilihat wujudnya yakni ruang kantornya lengkap dengan segala peralatannya dan pula pegawai-pegawainya, maka ciri-ciri dan aspek-aspek tersebut hendaknya dilakukan oleh bagian atau seksi yang didalamnya terdapat seorang pejabat untuk melaksanakan fungsi public relations tersebut, dan inilah yang dinamakan Public relations dalam arti state of being.

Dalam melakukan kegiatan komunikasi dalam public relations agar terwujudnya komunikasi yang efektif maka perlu adanya kunci sukses dalam berkomunikasi.  Kunci sukses tersebut tentunya tergantung pada prinsip-prinsip komunikasi perspektif Islam, Jalaluddin Rahmat menawarkan enam prinsip,[17] dan ditambah dengan beberapa prinsip menurut penulis diantaranya:

  1. Qawlan Syahid

Surat An-Nisa’ ayat 9: ”… hendaklah mereka mengucapan perkataan yang benar”.[18]

  1. Qaulan Maysurah

Surat Al-Isra’ ayat 28: “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhan yang kamu harapkan , maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”.[19]

  1. Qaulan Baligha

Surat An-Nisa’ ayat 63: “… Karena itu berpalinglah dari mereka dan berilah mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”.[20]

  1. Qaulan Karimah

Al- Isra’ ayat 23: “… Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur, maka janganlah kamu mengatakan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.[21]

  1. Qaulan layyinah

Surat Thahah ayat 43-44: “ Pergilah kamu berdua kepada Firs’un, sesungguhnya ia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut…”[22]

 

  1. Qaulan Ma’ruf

Surat An- Nisa’ ayat 5: “… Berilah mereka belanja dan pakaian dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik”.[23]

  1. Mengucapkan salam yang berbunyi “Assalamua’laikum”

Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Tirmizi

Nabi Saw bersabda: ”Ucapkanlah salamsebelum kamu berkata” 

  1. Konsisten atau mengatakan sesuatu sesuai dengan perbuatan

Surat Ash Shaff ayat 2-3: “ Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.[24]

  1. Memberi pelajaran yang baik.

Surat An-Nahl ayat 125: “serulah manusia kepada jalan Tuhamnu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.[25]

  1. Diskusi/berdebat dengan cara yang baik.

Surat Al- Ankabut ayat 46: “Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainka dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim diantara mereka…”[26]

Etika Publik Relation

Para sarjana public relations mendefenisikan etika menurut filsafat Barat, seperti Hazel Barnes, Ewing, Fletcher, Banner dan Mabbott mendefenisikan publik relations sebagai suatu cabang ilmu filsafat yang membantu menentukan apakah tingkah laku yang baik dan patut.[27]  

Sedangkan istilah etika dalam “Encyclopedia of Islam” adalah akhlak.[28] Mufassir Quraish Shihab dalam karangannya wawasan Islam menjelaskan beberapa persamaan arti dan amkna akhlak yang terambil dari bahasa Arab yang bisa dikonotasikan dengan berbagai perkataan yang berkaitan dengan budi pekeri,[29]  Sebagaimana tertera dalamAl-Qur’an (QS, 68:4).[30] Dan menurut Sadr Al-Din  Al Aihrwani mengatakan akhlak merupakan sifat-sifat kebaikan dan cara-cara mencapainya, juga sifat keburukan dan cara-cara menjaga diri agar tidak melakukan yang buruk itu.[31]

Public Relations dalam Islam memerlukan suatu kode etik yang berdasarkan Al- Qur’an dan Al- Hadis dan bukan berdasarkan kode etik Barat.

Karena Al-Qur’an merupakan firman Allah SWT dan Al- Hadis merupakan penuturan, perbuatan, tindakan atau pengakuan Rasulallah SAW yang mempunyai  pribadi yang mulia adalah sumber Islam.

Untuk menambah pengetahuan wawasan bagi pembaca, penulis akan menuliskan etika public relations Barat dan etika public relations Islam yang ditawarkan oleh Imam Al-Ghazali sebagai berikut:

Pertama, kode etik public relation Barat, yakni:

  1. Seorang anggota harus bersikap jujur terhadap klien ataupun penyewa jasanya baik dimasa lampau maupun dimasa yang sedang dialami. Demikian teerhadap sesama praktisi dan masyarakat umum.
  2. Seorang anggota bertingkah laku dalam kehidupan profesionalnya sesuai dengan kepentingan umum.
  3. Seorang angggota harus tunduk kepada kebenaran dan ketepatan dan kepada standar citarasa yang diterima umum.
  4. Seorang anggota dilarang mewakili kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan ataupun bersaingan tanpa persetujuan yang dinyatakan oleh pihak-pihak yang terlibat setelah mereka tahu semua fakta-fakta yanng ada. Ataupun menempatkan dirinya dalam suatu posisi yang ternyata bertentangan dengan kewajibannya terhadap kliennya ataupun orang lain tanpa menyatakan secara terus terang mengenai kepentingan-kepentingannya yanng terbaik.
  5. Seorang anggota harus menjaga kepercayaan dari klien/ penyewa jasanya baik yang sekarang maupun yang telah lalu dan dilarang menerima upah ataupun yang lainnya yang dapat menyebabkan terbukanya ataupun yang dimanfaatkannya kepercayaan tersebutuntuk kerugian ataupun tersangka yang merugikan terhadap klien/ penyewa jasa.
  6. Seorang anggota dilarang terlibat dalam praktek apapun yang cenderung merusakkan integritas jalur-jalur komunikasi ataupun pelaksanaan pemerintah.
  7. Seorang anggota dilarang terlibat menyampaikan informasi palsu ataupun menyesatkan dan wajib berhati-hati untuk mencegah pemberian informasi yang palsu ataupun yang menyesatkan.
  8. Seorang anggota harus siap sedia menyebutkan identitas dari klien ataupun penyewa jasa dari komunikasi masyarakat yang dibuat.
  9. Seorang anggota dilarang memanfaatkan nama seseorang ataupun suatu hal yang tidak jelas, ataupun seolah-olah babas ataupun tanpa bias akan tetapi sebenarnya dipergunakan untuk melayani suatu kepentingan tersembunyi dari seorang anggota/klien penyewa jasa.
  10. Seorang anggota dilarang dengan sengaja merugikan nama baik, ataupun praktek professional dari praktisi lain. Namun demikian apabila seorang anggota mempunyai bukti bahwa anggota lain telah melakukan kesalahan secara tidak etis melawan hukum atau praktek-praktek yang curang termaasuk pelanggaran dari pada kode ini, maka anggota tersebut hendaknya menyampaikan informasi tersebut segera kepada pejabat organisasi yang berwenang untuk diambil tindakan sesuai dengan prosedur yang diatur dalam pasal 13 dari Bylaws.
  11. Seorang anggota yang dipanggil sebagai saksi dalam suatu sidang untuk menegakkan kode etik ini harus hadir kecuali apabila terdapat alasan yang dianggap cukup oleh oleh dewan pengadilan.
  12. Seorang anggota dalam melaksanakan pelayanan bagi seorang klien/ penywa jasa dilarang menerima upah komisi ataupun barang-barang berharga lainnya dari orang selain dari si klien/ penyewa jasa dalam hubungannya dengan pelayan-pelayanannya tanpa persetujuan lebih dulu daripada klien/penyewanya setelah mereka diberitahukan secara lengkap mengenai fakta-faktanya.
  13. Seorang anggota dilarang memberikaan jaminan atas berhasilnya suatu tujuan tertentu yang berada diluar penguasaan langsung anggota tersebut.
  14. Seoran anggota hendaknya segera mungkin memutuskan hubungan dengan organisasi ataupun perseorangan apabila hubungan tersebut menyebabkan anggota harus berbuat hal-hal yang bertentangan dengan pasal-pasal dari pada kode ini.[32]

Kedua, kode etik yang bisa digunakan para praktisi public relatios dalam organisasi Islam yanng besumber dari Al- Qur’an dan Al- Hadis sebagaimana yang diberikan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab besarnya Al-Ihya sebagai berikut:

  1. Amanah

Amanah berarti setia dan jujur dalam melaksanakan sesuatu yang dipertanggungjawabkan bersama baik berupa tugas maupun materi. Amanah berlawanan dengan sifat khianat. Sifat ini terdapat dalam Al-Qur’an:

”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak…” (QS. 4:58)

  1. Menepati janji

Menepati janji berarti wajib bagi muslim untuk memenuhi setiap janji yang yang dibuat bersama, baik itu kepada muslim maupun non muslim. ”Hai orang-orang yang beriman twepatilah janji-janjimu itu” (QS. 5:1)

Mengingkari janji merupakan perbuatan yang tidak sesuai denngan kepribadian seorang muslim, dalam Islam ini dinamakan munafik. Rasulallah saw. Bersabda: ”Tamda orang minafik itu ada tiga ; apabila ia berbicara ia berdusta, apabila ia berjanji ia ingkar dan apabila ia diberi amanah berkhianat.” (Bukhari Muslim)

  1. Benar

Seorang muslim seharusnya berlakku benar dalam perkataan dan perbuatan. Benar dalam perkataan berarti menyatakan perkara yang benar dan tidak menyembunyikan rahasia kecuali untuk menjaga nama baik sesorang. Benar dalam perbuatan adalah mengerjakan sesuatu yang laras dengan tuntunan agamanya.

Allah menyruh orang-orang beriman supaya berlaku benar dan menyertai golongan-golongan yang benar dengan firmannya, ”hai sekalian orang-orang yang beriman berbaktilah kepada Allah dan jaddilah kamu termasuk dalam golongan orang-orang yang benar” 9QS. 9: 119)

  1. Ikhlas

Ikhlas berarti melakukan sesuatu pekerjaan semata karena Allah Swt. Dan tidak karena mengharap balasan, pujian atu kemashuran. Dalam Al- qur’an Allah Swt meminta pada setiap muslim supaya ikhlas dalam beribadah, ”dan mereka hanya diperintahkan menyembah Allah dengan tulus ikhlas. (QS. 98:5)

Ikhlas ini bukan hanya dalam ibadah tetapi juga dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sehari-hari.

  1. Adil

Adil berarti memberikan hak kepada orang yang berhak tanpa menguranginya. Berlaku adil kepada sesama manusia,baik muslim maupun non muslim adalah perintah Allah sebagaimana firman-Nya berbunyi,

”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan dan memberi kamu kerabat dan Allah melaranng dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan…” (QS. 4:58)

  1. Sabar

Sabar berarti tabah manghadapi ujian, cobaan dan kesulitan Allah swt. Sangat suka pada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah,mereka mengucapkan: Innaa lallaahi wa innaa ilaihi raajiun.” (QS. 2: 155-156)

”… Mereka tidak lesu dan tidak pula menyeerah. Allah menyukai orang-orang yang bersabar. (QS. 3: 146)

  1. Kasih Sayang

Kasih sayang kepada sesama manusia terutama kepada sesama manusia yang seagama dipandang tinggi dan digalakkan oleh Islam. Firman Allah swt. Dalam al-Qur’an: ”Mereka saling berpesan dengan kesabaran, mereka saling berpesan dengan kasih sayang” (QS. 90:17) dan rasul juga bersabda: ”siapa yang tidak bersifat kasih kepada yang ada dibumi, diapun tidak dikasihi oleh yang dilangit.” (Thabrani)

  1. Pemaaf

Memaafkan kesalahan dan kekhilafan orang sangatlah dianjurkan oleh Islam. Allah swt. Berfirman: ” dan hendaklah mereka memaafkan dan merelakan. Tidaklah kamu suka bahwa Allah mengampunidosamu? Allah maha penyayang lagi pengasih” (QS, 24:22)

 

  1. Berani

Berani berarti mampu menguasai nafsu dan jiwa pada waktu marah dan dalam keadaan dicoba. Berani juga merupakan suatu sikap kepatutan bukan bersifat membabi buta. Sebagimana Rasulallah bersabda: ”Bukanlah dinamakan berani orang yang kuat bergaul. Sesungguhnya orang yang berani itu ialah orang yang sanggup menguasai dirinya pada waktu marah” (Muttafaqun Alaihi)

Selain mampu mengendalikan perasaan marah seorang muslim juga harus berani meyatakan yang benar, berarti mengakui kesalahan, membuat keputusan. Mencoba sesuatu yang inovatif dan mempertahankan keyakinan atau pendirian.

  1. Kuat

Kekuatan yang diperlukan bukan hanya kekuatan jasmani, melainkan juga dasri segi rohani dan pikiran. Kekuatan rohani ini berfungsi untuk melawan cobaan, godaan dan gangguan. Dalam membina kekutan ini Allah berfirman: ”Dan janganlah kamu bersifat lemah…”(QS. 3: 139)

  1. Malu

Menurut Islam malu merupakan salah satu bagian dari pada iman. Seseorang yang tidak mersa malu adalah seseorang yang tipis imannya. Seorang muslim harus merasa malu terhadap Allah jika melanggar peraturan yang ditetapkan Allah dan juga merasa malu kepada dirinya sendiri dan anggota masyarakat. Rasul menilai malu merupakan sifat yang baik sebagaimana sabdanya: ”Malu itu tidak membuahkan yang lain kecuali kebaikan” (Muttafaqun Alaihi)

  1. Memelihara kesucian

Memelihara kesucian berarti menjaga diri dari segala keburukan supaya terpelihara kehirmatan diri. Seorang muslim harus senantiasa berusaha memelihara kesucian dirinya ia harus berusaha menjaga hawa nafsunya, lidah dan juga hatinya dai perbutan-perbuatan yang dilarang oleh Allah swt. Sebagaimana dalam Al-Qur’an : ” Berbahagialah orang yang membersihkan jiwanya dan rugilah orang mengotorinya” (QS. 91: 9-10)

            Sementara Yusuf Husain menawarkan rancangan kode etik publik relations untuk organisasi Islam sebagai berikut:

  1. Seorang praktisi PR hendaknya merasakan dirinya senantiasa dalam perhatian Allah SWT ketika menjalankan tugas-tugas hariannya.
  2. Dalam melaksanakan tugas-tugas hariannya seorang praktisi PR hendaknya menhharapkan ridha Allah dan bukan semata-mata mengharapkan pujian majikan atau pelanggannya,
  3. Seorang praktisi PR dalam organisasi Islam hendaknya berlaku adil terhadap majikan, rekan sekerja dan para anggota ,asyarakat.
  4. Seorang praktisi PR dalam organisasi Islam hendaknya senantiasa benar dalam tindakan dan tuturkatanya, khususnya dalam penyampaian keterangan.
  5. Seorang praktisi PR  dalam organisasi Islam hendaknya memelihara amanah yang diberikan kepadanya oleh majikan atau pelanggannya.
  6. Seorang praktisi PR  dalam organisasi Islam hendaknya memepati janji yang dibuat kepada majikan, pelanggan atau rekan-rekan sekerjanya.
  7. Seorang praktisi PR  dalam organisasi Islam hendaknya senantiasa sabar apabila menghadapi berbagai masalah atau rintangan ketika menjalankan tugasnya.
  8. Memupuk perasaan saling memahami, kerjasama kasih sayang dan keharmonosan antara rekan-rekan sekerja dan majikan.
  9. Memaafkan kesalahan dan ketalanjuran yang dilakukan oleh majikan, rekan-rekan sekerja dan pelanggannya.
  10. Berani menolak tugas-tugas yang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama Islam yang suci, berani menegur dan menasehati rekan-rekan sekerja yang melakukan penyelewengan dan juga berani melaporkan kepada pihak yang berwajib tentang berbagai penyelewengan yang dilakukan.
  11. Mempunyai hubungan kekuatan dan kesanggupan untuk menjalankan tugas-tugas yang diberikan kepadanya sehingga berhasil.
  12. memelihara kesucian diri ketika menjalankan tugas-tugas hariannya.
  13. Memilki perasaan malu kepada Allah swt. Pimpinan, rekan-rekan sekerja, dan pelanggannya jika ia melanggar etika PR untuk organisasi-organisasi Islam.

Penutup

Public Relations merupakan suatu kegiatan komunikasi berciri timbal balik (Two Way Communications) yang bertujuan untuk membangun opini, persepsi dan citra baik bagi perusahaan atau lembaga.

Public Relations mempunyai peranan ganda yakni sabagai; komunikator, sekaligus mediator, Organisator serta konsultan dan ia mempunyai tugas tanggungjawab sosial dan dalam menjalankan peranannya harus brlandaskan etika dan moral tinggi sebagai penyandang propesional Public relations. Karena fungsi etika adalah untuk memberikan kepada para praktisi public relations beberapa ukuran yang baku untuk menentukan bagaimana tingkah laku yang baik atau bertanggungjawab dan apa yang buruk atau tidak bertanggung jawab.


[1] F. Rahmadi, Public Relations Teori dan Praktek, Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994), h. 18-19.

[2] Sam Black dan Melvin L. Sharpe, Ilmu Hubungan Masyarakat Praktis, terj. Ardaneshwari (Jakarta, 1988) h. 4-5.

[3]Rosady Ruslan, Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), h. 3.

[4] Narimah dan Saodah, Public Relations From The Islamic Perspective (makalah tidak diterbitkan), h.3

[5] F. Rahmadi, Public Relations Teori dan Praktek, Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah (Jakarta: Gramedia), h. 13

[6] Rosady Ruslan, Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations (Jakarta: Raja Grafindo Persada 1997), h. 3

[7] Ruslan, Praktek dan Solusi Public Relations dalam Situasi Krisis dan Pemulihan Citra, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1995) h. 20

[8] Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Bandung: Rosda Karya, 2001) h. 62

[9] Onong Uchjana Effendy, Human Relations dan Public Relations (Bandung: Mandar Maju, 1993)

[10] Ibid, h. 95-96

[11] Rusady Ruslan,   Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), h. 9

 

[12] Departemen Agama RI, Al- Qur’an dan terjemahan (Jakarta: Toha Putra Semarang, 1989), h 20

[13] Ibid, h. 6

[14] Ibid, h. 157

[15] Ibid, h. 862

[16] Onong Uchjana Effendi, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek ( Bandung: Remaja Karya 1988) h. 171

[17] Jalaluddin rahmat, Prinsip-Prinsip komunikasi menurut Al- Qur’an. Dalam Audienta Jurnal Komunikasi. Vol I, h. 35.

[18]  Departemen Agama RI, Al- Qur’an dan terjemahan (Jakarta: Toha Putra Semarang, 1989), h 116.

[19] Ibid, h. 425

[20] Ibid, h.

[21] Ibid, h. 

[22] Ibid, h. 

[23] Ibid,h.  

[24] Ibid, h.

[25] Ibid, h. 421

[26] Ibid, h. 635

[27] Mohd. Yusuf Hussain, Etika Hubungan Masyarakat dalam Perspektif Islam dalam Audienta Jurnal Komunikasi, Vol. I, h. 57

[28] Gibb, HAR. Et al (eds). The Encyclopedia of Islam. Vol I (Leide: El Brill 1997) hal 321

JURNALISTIK ISLAM

Posted on

 

ABSRAK

Suka tidak suka bahwa dunia jurnalistik, baik media cetak maupun media elektronik  (komunikasi massa) selalu terlibat dan tidak akan bisa lepas dengan gatekeepers, regulator, media dan filters sebelum pesan sampai kepada khlayak banyak. Sadar atau tidak sadar dalam proses tersebut, pesan bisa mengalami reduksi, defiasi maupun manipulasi oleh berbagai pihak dan kepentingan dengan tujuan mendapatkan efek yang diinginkan pada audience/khlayak ramai. Oleh karena itu jurnalistik pada media komunikasi massa memiliki peran yang signifikan dalam penyampaian pesan terhadap khalayak ramai.

            Pada prinsipnya komunikasi secara umum dengan komunikasi Islam adalah berbeda, prinsip komunikasi Islam berupa free and Balance flow pf information yang dipandang lebih adil dan manusiawi bila di lihat komunikasi secara umum hanya sebatas free flow of information. Percaya atau tidak sejarah munculnya dunia pers itu sendiri berasal sejarah perjuangan manusia tentang kebebasan berbicara setiap anggota masyarakat. Maka di Amerika Serikat ada pasal 19 mengatakan bahwa setiap orang mempunyai kebebasan untuk mencari, menerima dan menyebarkan informasi atau idea melalui media massa tanpa ada hambatan. Maka di dunia Barat ada istilah  News Free Flow  (pengaliran berita-berita bebas).

            Maka kita dapat menyaksikan penyebaran berita yang tidak seimbang antara di dunia Timur dan dunia Barat. Begitu berat tugas jurnalistik Islam dalam menyeimbangkan kesenjangan informasi yang diterima khalayak. Setuju atau tidak setuju faktor internal, sosok jurnalis merupakan pihak yang paling disorot dalam penyebaran berita, disamping ada faktor yang lainnya. Di samping itu sebagai makhluk sosial, seorang wartawan juga mempunyai sikap, nilai, kepercayaan dan orientasi tertentu dalam politik, agama, ideologi dan aliran dimana semua komponen itu berpengaruh terhadap hasil kerjanya (media content), sehingga kerap kali media tersebut terlibat dalam sebuah hegemoni (politik,agama,  budaya atau ideologi).

 

Kata Kunci: Prinsip Jurnalisti Islam

 

  1. I.                   Pendahuluan

Sejarah jurnalistik yang diukir oleh  Gutenberg, yang kemudian mengubah Eropa pada abad ke-15 serta melahirkan komunikasi massa melalui penyebaran informasi/berita. Segala yang berkaitan dengan berita inilah yang merupakan masalah sentral dalam kehidupan jurnalistik.[1]

Dilihat dari faktanya, penyebaran berita dilakukan oleh media komunikasi massa, pekerjaannya adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka kesibukan utama media massa adalah mengkonstruksikan berbagai realitas yang akan disiarkan. Media menyusun realitas dari berbagai peristiwa yang terjadi terjadi hingga menjadi cerita atau wacana yang bermakna. Pembuatan berita di media pada dasarnya adalah penyusunan realitas-realitas hingga membentuk sebuah cerita atau wacana yang bermakna. Dengan demikian seluruh isi media tiada lain adalah realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality) dalam bentuk wacana yang bermakna.[2] Oleh karena itu profesional jurnalisme sangat dibutuhkan dalam suatu negara yang demokratis, walau apapun bentuk perubahan kedepan, apakah perubahan ekonomi, politik, sosial dan perubahan yang lainnya yang lainnya.

Dalam jurnalistik tidak ada istilah yang dinamakan “jurnalistik Islam”, yang ada hanyalah jurnalistik yang bercirikan Islam. Fungsi dan kegiatan yang dilakukannya sama saja seperti jurnalistik pada umumnya, akan tetapi yang menjadi beda dari jurnalistik biasa dengan jurnalistik yang bercirikan Islam ialah berita atau informasi yang disampaikannya. Jurnalistik yang bercirikan Islamiyah, lebih menonjolkan informasi tentang larangan dan perintah Allah swt. Jurnalistik ini bertujuan untuk mempengaruhi khalayak untuk berprilaku sesuai ajaran Islam.[3]

Cara penyampaian jurnalistik yang bercirikan Islam ini jelas berbeda dengan jurnalistik pada umumnya. Jurnalistik yang bercirikan Islam selalu menghindari hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam. Jurnalistik Islam adalah jurnalisti dakwah. Seorang wartawan muslim harus menjadikan jurnalistik Islam sebagai “ideology” dalam profesinya. Karena dakwah merupakan kewajiban yang melekat pada setiap muslim.

Dalam persepektif Islam penanggung jawab jurnalistik terhadap hukum masyarakat, dan jurnalistik itu sendiri tidak cukup, yang lebih penting dari itu adalah, semua yang terlibat dalam pers diminta untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada Allah swt: dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 71 yang intinya “jurnalistik” dalam melaksanakan tugasnya hendaknya dengan penuh kesadaran bahwa profesinya adalah sebagai amanah Allah swt, umat dan perubahan. Karena itu pers selalu siap mempertanggung jawabkan pekerjaannya kepada Allah swt.

  1. II.                Pengertian Jurnalistik

Istilah jurnalistik, diambil dari sebuah media yang dikeluarkan oleh Caesar romawi yaitu Acta Durna, Acta Diurna bukanlah sebuah surat kabar, tetapi hanyalah sebuah papan pengumuman yang dipasang di tengah kota Romawi, yang berisi berita-berita resmi ke caesaran dan berita lainnya, yang setiap orang bebas membaca dan mengutipnya. Selain kata diurnal juga dikenal kata diurnarius atau diurnari, yaitu seseorang yang tugasnya mencari berita. Dari kata-kata inilah kata jurnalistik muncul, diurnari yang sangat terkenal saat itu adalah Chrestus dan Caelius Rufus.[4]

Selain itu jurnalistik juga berasal dari bahasa Belanda yaitu journalistiek, seperti halnya dengan istilah bahasa Inggris (journalism), merupakan terjemahan dari bahsa latin (Diurnal) yang berarti harian atau setiap hari.atau jurnalistik adalah Journal yang berarti pewartaan atau catatan harian.[5]  Jurnalistik juga berasal darai bahasa Perancis Do jour yang berarti hari. Journal berarti catatan harian tentang hal-hal yang dianggap penting yang terjadi pada hari itu.[6]

Oleh karena itu orang yang melakukan pekerjaan Jurnalistik, dalam istilah ilmu publisistik adalah hal-hal yang berkaitan dengan menyiarkan berita atau ulasan berita tentang peristiwa sehari-hari yang umum dan aktual (catatan tentang kejadian sehari-hari atau dapat juga berarti surat kabar). Secara terminologi jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit dan menulis surat kabar, majalah atau berkala lainnya.[7] MacDougall menyebutkan bahwa journalisme adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta, dan melaporkan pristiwa.[8] Kegiatan untuk mengetahui apa yang terjadi merupakan  kunci lahirnya jurnalistik.

Secara sederhana jurnalistik dapat didefenisikan sebagai tekhnik mengelola berita mulai dari mendapatkan bahan sampai menyebarluaskan kepada khalayak, apa saja yang terjadi di dunia ini apakah itu fakta peristiwa atau pendapat yang diucapkan seseorang, jika diperkirakan akan menarik perhatian khalayak, akan merupakan bahan dasar bagi jurnalistik dan akan merupakan bahan berita untuk dapat disebarluaskan kepada masyarakat.

Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informasi saja. ini terbukti pada Akta Diurna sebagi produk jurnalistik pertama pada zaman Romawi kuno ketika Kaisar Julius Caesar berkuasa. Dalam perkembangan masyarakat selanjutnya, surat kabar yang bisa mencapai rakyat secara massal dipergunakan oleh kaum idealis untuk melakukan sosial control, sehingga surat kabar tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga persuasif. Bukan saja menyiarkan informasi, tetapi juga membujuk dan mengajak khalayak untuk mengambil sikap tertentu, agar berbuat sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Bentuk jurnalistik yang bersifat persuasif, adalah tajuk rencana (editoral).

Jurnalistik dalam bentuk sederhana mulai dikenal ketika Julius Caesar kenjadi kaisar Romawi. Waktu itu ia mengeluarkan peraturan agar kegiatan-kegiatan senat setiap hari diumumkan kepada khalayak dengan ditempel pada semacam papan pengumuman yang dinamakan Acta Diurna. Berbeda dengan media berita  masa kini yang datang di rumah para pembaca, pada waktu itu orang-orang yang datang pada media berita. Karena itu disamping ada keinginan untuk membaca berita pada Arca Diurna, sekelompok khalayak merasa segan untuk meninggalkan rumah untuk datang di papan berita itu.[9]

Batasan jurnalistik menurut Adinegoro adalah, keahlian dan keterampilan seseorang dalam mencari, mengumpulkan, mengolah dan menyebar luaskan berita/karangan, artikel kepada khalayak seluas-luasnya dan secepat-cepatnya.[10]Oleh karena itu jurnalistik merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana cara atau teknik mencari bahan berita hingga menyusunnya menjadi berita atau laporan yang menarik.

  1. III.             Tugas dan Tanggung Jawab Jurnalistik/Wartawan Sesungguhnya

            Tugas dan tanggung jawab utama seorang wartawan,  bukan tertuju kepada pemilik perusahaan pers, atau kepada redakturnya, bukan pula kepada pemerintahannya atau kepada mereka yang memberikan berita, tugas utamanya adalah untuk khalayak ramai, bukan hanya sebagian/salah satu pihak saja, jikalau seorang wartawan memberikannya kepada salah satu pihak tersebut di atas, ia sebenarnya bukan wartawan yang baik.[11] Wartawan bebas menginformasikan realitas yang ditemuinya sesuai dengan kaidah dan kode etik jurnalistik yang unversal. Dalam hal menyampaikan realitas berita, seorang wartawan bertanggung jawab terhadap pembacanya.

            Jurnalis atau orang yang terlibat dalam komunikasi massa harus mempunyai tanggung jawab dalam memberitakan sesuatu apa yang diberitakan oleh media massa harus bisa dipertanggungjawabkan. Jadi, jurnalis tidak hanya sekedar menyiarkan informasi tanpa bertanggung jawab akan dampak yang ditimbulkannya. Tanggung jawab ini bisa kepada Tuhan, masyarakat, profesi atau dirinya sendiri.

            Tanggung jawab tentunya mempunyai dampak positif. Dampak positif yang terasa adalah media massa akan berhati-hati untuk menyiarkan dan menyebarkan informasi. Media tidak bisa seenaknya memberikan informasi atau mengarang cerita agar mdeianya laris di pasaran. Jurnalis adalah profesi yang dituntut untuk bertanggung jawab terahadap apa saja yang dikemukakannya. Bahwa tujuan utama dari jurnalis adalah menyediakan informasi yang akurat dan terpercaya kepada warga masyarakat agar dengan informasi tersebut mereka dapat berperan membangun sebuah masyarakat yang bebas.

            Mengenai tanggung jawab, Lois W. Hodges dalam Responsible Journalisme menyatakan bahwa ada tiga kategori tanggung jawab yang diterapkan dalam dunia pers, adalah:

  1. Tanggung jawab berdasarkan penugasan
  2. Tanggung jawab berdasarkan kontrak
  3. Tanggung jawab yang timbul dari diri sendiri.[12]

            Sebagai sebuah profesi, maka wartawan terikat kepada kode etik dan kriterianya. Kode etik dimaksudkan sebagai norma yang mengikat pekerjaan yang ditekuni, sedangkan kriteria dimaksudkan sebagai alat seleksi karena tidak setiap orang dapat dengan bebas memasuki lingkaran sesuatu profesi. Lakshamana Rao menyebutkan empat kriteria bahwa pekerjaan itu sebagai suatu profesi, adalah:

  1. Harus terdapat kebebasan dalam pekerjaan itu
  2. Harus ada panggilan dan keterikatan dengan pekerjaan itu
  3. Harus ada keahlian
  4. Harus ada tanggung jawab  yang terikat pada kode etik pekerjaan tadi.[13]

            Kebebasan tetaplah penting, hanya dengan kebebasanlah berbagai informasi bisa disampaiakan kepada masyarakat. Media massa yang tidak mempunyai kebebasan dalam menyiarkan beritanya, ibarat sudah kehilangan sifat dasarnya. Bagaimana mungkin ia akan bisa memberitakan kebobrokan dikalangan masyarakat tanpa ada kebebasan yang dimiliki pers untuk mengungkap dan menyiarkan.

Selain itu  riset Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dan dari para ahli media yang tergabung dalam Committee journalist menyimpulkan bahwa paling tidak ada sembilan inti prinsip jurnalistik yang harus dikembangkan, adalah:

  1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran
  2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga masyarakat
  3. Inti jurnalisme adalah disiplin untuk melakukan verifikasi
  4. Para wartawan harus memiliki kebebasan dari sumber yang mereka liput
  5. Wartawan harus mengemban tugas sebagai pemantau yang bebas terhadap kekuasaan.
  6. Jurnalisme harus menyediakan forum untuk kritik dan komentar publik
  7. Jurnalisme harus berusaha membuat yang penting menjadi menarik dan relevan
  8. Wartawan harus menjaga agar berita proporsional dan komprehensif
  9. Wartawan itu memiliki kewajiban utama terhadap suara hatinya.[14]

            Tanggung jawab tersebut tidak berarti media tidak boleh memiliki kebebasan, tidak berarti pula pengekangan. Kebebasan jurnalistik ini juga mutlak dimilki media massa. Dengan kata lain, kebebasan dan tanggung jawab sama-sama penting. Oleh karena itu kita sering mendengar istilah kebebasan yang bertanggung jawab, semua orang bebas, tetapi bebas disini harus bisa dipertanggung jawabkan dan bukan sebebas-bebasnya.

Kebebasan tetaplah penting, hanya dengan kebebasanlah berbagai informasi bisa disampaiakan kepada masyarakat. Media massa yang tidak mempunyai kebebasan dalam menyiarkan beritanya, ibarat sudah kehilangan sifat dasarnya. Bagaimana mungkin ia akan bisa memberitakan kebobrokan dikalangan masyarakat tanpa ada kebebasan yang dimiliki jurnalistik untuk mengungkap dan menyiarkan.

 

Kewajiban yang diemban wartawan melahirkan tanggung jawab yang harus mereka pikul. Akar dari tanggung jawab ini terutama berasal dari kenyataan bahwa kita ini selain sebagai induvidu juga menjadi anggota masyarakat, dengan keputusan dan tindakan kita, dapat mempengeruhi orang lain. Semakin besar kekuasaan dan kemampuan kita mempengaruhi orang lain, maka semakin besar pula kewajiban moral yang ditanggung.

 

IV. Kode Etik Jurnalistik

Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asai manusia yang dilindungi Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.

Dalam pelaksanaan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat. Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas, serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati kode etik sebagai berikut:

 

Pasal 1

Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak beritikad buruk.

Pasal 2

Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan jurnalistik.

 

Pasal 3

Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberikan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dengan opini yang menghakimi, serta menetapkan atas praduga tak bersalah.

Pasal 4

Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis dan cabul.

 

 

Pasal 5

Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyeiarkan identitas korban kejahatan susiala dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

Pasal 6

Wartawan Indonesia tidak menyalah gunakan profesi dan tidak menerima suap.

Pasal 7

Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitasnya maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “of the record” sesuai dengan kesepakatan.

Pasal 8

Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Pasal 9

Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

Pasal 10

Wartawan Indonesi segera mencabut, meralat dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar dan atau pemirsa.

Pasal 11

Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara propesional.

Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan dewan pers. Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh organisasi wartawan dan atau perusahaan pers.[15]

 

 

 

V. Juranlistik Islam

Ada pepatah sederhana mengatakan “membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya ilmu adalah buku “ ungkapan itu sepintas terlihat sederhana akan tetapi jika di simak, memilki makna yang dalam. Sejalan dengan firman Allah SWT. surat al-‘Alaq ayat pertama “iqra” mengandung makna baca tulis, dari wahyu yang pertama tergambar perintah Allah SWT. Kepada manusia untuk mengggoreskan pena supaya dapat dibaca orang lain. Goresan-goresan  pena itu dari dahulu sampai saat ini bahkan sampai  akhir zaman nanti dibutuhkan dan dinantikan kebanyakan manusia. Karenanya sejak awal Islam telah mengajak manusia untuk mengenalkan baca tulis, kemudian berkembang di abad moderen ini dikenal dengan  media cetak (surat kabar, buku, tabloid, dan lain-lain).

Jurnalistik Islam dapat dimaknai sebagai “suatu proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan-muatan nilai Islam, khususnya yang menyangkut agama dan ummat Islam kepada khalayak, serta berbagai pandangan dengan persepektif ajaran Islam”. Dapat juga jurnalistik Islam dimaknai sebagai “proses pemberitaan atau pelaporan tentang berbagai hal yang sarat dengan muatan dan sosialisasi nilai-nilai Islam”. Jurnalistik Islam bisa dikatakan sebagai crousade journalism, yaitu jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, yakni nila-nilai Islam. Jurnalistik Islam mengemban misi ‘amar ma’ruf nahi munkar ‘(Q.S. Ali Imran ayat: 104).

Dalam hal ini seorang jurnalis atau wartawan muslim dituntut untuk selalu menjadikan Al-Qur’an dan hadis sebagai landasan dalam memberikan informasi kepada khalayak. Hal ini dimaksudkan agar berita yang diperoleh oleh khalayak luas atau masyarakat dapat dipertanggungjawabkan secara langsung oleh sipembuat berita yaitu wartawan itu sendiri.  Kelengkapan al-Quran dengan jurnalistik Islam yang membiaskan pengaruh sangat luas, eksis dalam hubungan keduanya yang seakan-akan saudara kembar atau pinang dibelah dua. Bahwa al-Quran kata-kata Tuhan sedangkan jurnalistik adalah “tulisan tangan manusia”.[16]

Secara sederhana jurnalis Islam itu dapat difahami seorang da’I atau sekelompok umat manusia yang menyampaikan pesan-pesan Islam kepada Umat manusia.[17] Menyampaikan informasi-informasi/pesan-pesan Islam melalui media semestinya melalui media Islam juga, tapi mampukah media Islam itu benar-benar mewujudkan secara nyata ruh keislaman itu dalam kehidupan media?

Dilihat kenyataan sekarang ini begitu dahsyatnya perkembangan media cetak dan media elektronik (komunikasi massa), tapi  yang manakah media Islam? berapakah jurnalis Islam yang benar-benar menyampaikan dakwah Islam?  Berapa persenkah isi berita tentang dunia Islam? Atau dari sekian banyak media berapa persenkah isi media terhadap pesan-pesan/informasi-informasi Islam?

Jurnalistik Islam sangat erat kaitannya dengan komunikasi Islam itu sendiri, komunikasi Islam adalah informasi yanga diterima khalayak pada media informasi. Sedangkan jurnalistik Islam adalah seorang jurnalis/wartawan atau dapat juga dikatakan da’i yang menyampaikan pesan-pesan keislaman kepada khalayak.

Komunikasi Islam merupakan bidang kajian baru yang menarik perhatian sebahagian akedemisi di berbagai perguruan tinggi. Seperti pada bulan Januari 1993, jurnal media, Culture and Society yang terbit di London, memberi liputan kepada komunikasi Islam. Pengakuan satu jurnal komunikasi yang terbit di Barat terhadap komunikasi Islam tersebut  dapat dipandang sebagai suatu tantangan bagi kaum intelektual muslim terutama pakar komunikasi untuk mencari identitas sendiri sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya Islam.[18]

Komunikasi Islam yang masih dalam taraf pengembangan, tentu saja  masih menggunakan atau meminjam teori-teori komunikasi secara umum, yang kemudian dimodifikasi dengan komunikasi Islam. Melihat kenyataan umur  keilmuan komunikasi Islam yang masih tergolong masih muda, maka wajar komunikasi Islam masih menggunakan teori komunikasi secara umum.

Melihat latar belakang munculnya komunikasi Islam yang masih baru, tentu memerlukan perjuangan yang masih panjang dan berat bagi jurnalis Islam.  Oleh karena itu Quo vadis jurnalis Islam? dengan kenyataan bahwa kapitalis lebih dominan di dunia ini, mereka lebih memiliki kekuatan di segala bidang kehidupan. Ditambah lagi dengan keadaan umat Islam itu sendiri terlalu sibuk dengan pemahaman keislaman masing-masing, terlalu sibuk dengan kebenaran partai-partai keislaman masing-masing, sehingga kurang memperhatikan tali persaudaran sesama kaum Muslimin.[19]

Selain itu faktor yang sangat dominan membuat para jurnalistik pada media Islam kurang mampu mengimbangi media Barat tidak lain karena faktor ekonomi dan politik. Para pengamat pengaliran berita Internasional mengatakan bahwa sistem komunikasi  massa dikuasai oleh agensi berita internasional dari negara-negara maju, terutama negara-negara Barat. Empat agensi berita berita internasional yang paling besar, yaitu Associated (AP), United Press International (UPI) dari Amerika Serikat, Agence France Presse (AFP) dari Perancis, dan Reuter dari  Inggris, tetap merupakan sumber utama berita internasional bagi negara-negara Dunia Ketiga.[20]

Karenanya bagaimana dunia Islam/jurnalistik Islam mampu mengimbangi kekutan media Barat supaya Informasi yang mengalir kepada masyarakat seimbang, maka Galtung mengatakan bahwa pengaliran informasi di dunia cendrung tidak seimang (imbalence). Publik Barat hanya sedikit mengetahui tentang Islam, kemudian informasi yang sedikit cendrung bersifat negatif. Akibatnya publik Barat hanya mengetahui Islam sebagai agama yang menyukai tindakan kekerasan, miskin, bodoh, kelaparan dan terkebelakang.[21] Dasar apa negara Barat membuat berita yang tidak adil terhadap dunia Islam? Apakah dunia barat tidak memiliki etika jurnalistik? Apakah etika jurnalistik itu hanya berlaku bagi dunia Timur?

Begitulah media Barat, undang-undang negara Barat pasal 19 Universal Declaration of Human Righ yang mengatakan bahwa setiap orang mempunyai kebebasan untuk mencari, menerima dan menyebarkan informasi atau idea melalui media massa tanpa ada hambatan. pernyataan ini menjadi dasar bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya untuk memperjuangkan News Free Flow (pengaliran berita-berita bebas). [22]

Soal bicara dan berpendapat memang berkaitan dengan sejarah pertumbuhan pers, pers lahir dari sejarah perjuangan manusia tentang kebebasan berbicara setiap anggota masyarakat. Bahkan pada perjalanan selanjutnya, hingga saat ini, pers tetap dipandang sebagai kekuatan moral yang mampu menggerakkan semangat demokrasi.[23] Dalam hal ini perlu digaris bawahi, itulah perbedaan komunikasi Islam dengan komunikasi secara umum. Prinsip komunikasi Islam berbeda dengan prinsip komunikasi secara umum, prinsip komunikasi Islam berupa free and Balance flow pf information yang dipandang lebih adil dan manusiawi bila di lihat komunikasi secara umum hanya sebatas free flow of information.

 

Paling tidak dalam komunikasi Islam ada nilai-nilai etika yang menjadi pegangan jurnalis Islam, adalah sebagai berikut:

  1. Jujur

Kejujuran dalam berkomunikasi, yakni menyampaikan pesannya secara benar dan berdasarkan fakta dan data tidak memutar balikkannya merupakan hal yang utama untuk diperhatikan bagi seorang muslim. Seorang penyamapai berita yang tidak jujur (bohong) sangat begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, bahkan dalam pragmentasi sejarah Rasulullah begitu juga dalam tradisi hadist Rasulullah. Istilah hadist maudhu’ (bohong) dapat membawa kepada kesesatan, kebinasaan dan kecelakaan besar. Beberapa ayat al Qur’an yang menegaskan tentang kejujuran ini dengan sebutan shidiq, amanah. Dengan komitmen kejujuran dalam menyampaikan berita seperti di atas, maka seorang muslim dalam berkomunikasi menurut al Qur’an tidak boleh berdusta (QS:31:6)

  1. Adil

Adil adalah tidak memihak. Dalam menjelaskan proses berkomunikasi al Qur’an telah membimbing kita agar berkomunikasi secara adil dan tidak memihak. Adil dan tidak memihak yang dimaksud disini adalah tidak mengabaikan status sosial seseorang atau kelompok ketika kita harus menyampaikan seluruh informasi. Bagaimana kita agar berkomunikasi atau menyampaiakan informasi secara seimbang baik terhadap kaum kerabat, pejabat dan dengan fakir miskin sekalipun. Kata adil yang erat kaitannya dengan komunikasi atau penyampaian informasi terdapat pada (Q.S. 6: 152)

Seorang jurnalis yang adil, akan menempatkan dirinya untuk tidak menimbulkan keberpihakan. Karena kata adil juga berarti sama dan seimbang dalam memberikan balasan, seperti qishas, diat dan berbagai pidana lainnya. Seorang jurnalis yang adil juga menyangkut keberanian untuk mengatakan yang benar dan yang salah terhadap siapapun.

  1. Bertanggung jawab

Bertanggung jawab. Sikap bertanggung jawab merupakan sikap yang sangat penting untuk dipelihara dalam prilaku seorang muslim dalam segala aktifitasnya. Al Qur’an sangat banyak mengingatkan kita agar bertanggung jawab terhadap setiap pesan dan janji yang telah kita sampaikan. Rasa tanggung jawab secara tegas telah mengingatkan kepada kita ini bukan hanya dikarenakan pesan yang disampaiakan tersebut menyangkut kepentingan seseorang atau kelompok, melainkan kesadaran yang tinggi terhadap Allah swt. Seorang jurnalis yang bertanggung jawab akan menganalisa setiap perkataan dengan hati-hati, memperhitungkan setiap akibat yang mungkin dan secara sadar menimbang dengan nilai-nilai Islam.

  1. Benar-benar akurat

Informasi dan pesan yang akurat. Penyampaian informasi yang tidak jelas sumbernya dan valid datanya adalah sangat potensial untuk menimbulkan fitnah. Maka dengan itu al Qur’an secara tegas telah mengingatkan kepada kita agar sangat berhati-hati dan tidak terjebak kepada informasi bohong.

  1. Dan lain-lain

 

Itulah Islam agama yang indah dan sangat toleran terhadap semua agama dan semua golongan manusia, agama yang rahmatallil’alamin. Tergantung kepada orang Islam sajalah yang harus menyadarkan diri, bagaimana dapat menyeimbangkan jurnalis Islam dengan jurnalis barat sebagai media dakwah Islamiyah. Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa dakwah adalah bentuk yang teristimewa dari komunikasi, maka media-media komunikasi dapat dipergunakan untuk berdakwah.

Walaupun komunikasi Islam terbilang baru, dan belum mampu menyeimbangkan informasi dengan dunia Barta, tetapi paling tidak di Indonesia pada era reformasi ini, pers berbasis agama bermunculan. Kebanyakan adalah pers Islam. Beberapa penerbitan Islam yang lahir di masa reformasi antara lain Sabili, Hidayah, Suara Islam, Hidayatullah, dan lain-lainnya yang berbasis agama. Itu menunjukkan jurnalis Islam cukup peduli terhadap perkembangan dunia pers saat ini.

Disayangkan, yang terjadi sekarang pada sebuah media adalah, media yang lebih ideologis umumnya muncul dengan konstruksi realitas yang bersifat pembelaan terhadap kelompok yang sealiran, dan penyerangan terhadap kelompok yang berbeda haluan. Oleh karena itu untuk menyeimbangkan jurnalisme Islam dengan jurnalis Barat, tidak berlebihan jika penulis menawarkan konsep yang ada di dalam al-Quran surat al-‘Imran ayat 103 (dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…).      

Ajaran Islam itu tidak hanya sekedar ditulis di atas kertas, akan tetapi ajaran Islam itu dapat diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Apapun profesi kita, prinsip-prinsip ajaran Islam wajib dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Makanya antara jurnalistik secara umum dengan jurnalistik Islam ada segi perbedaan, tidak hanya sekedar menyampaikan informasi, akan tetapi bagaimana informasi dapat merubah manusia ke arah yang lebih baik, adil dan manusiawi.

 

V. Prinsip Jurnalisti Islam

Catatan sejarah Islam menunjukkan, komunikasi Nabi Muhammad saw dalam menyampaikan pesan atau informasi mengenai nilai-nilai, dan ajaran Islam, frekuensinya cukup tinggi dan variatif, guna menata kehidupan manusia yang seimbang. Melalui proses komunikasi, Nabi Muhammad telah mengekspresikan ajaran Islam, memberi pengertian, mempengaruhi interpretasi dan merubah prilaku manusia. Pada proses komunikasi yang membawa efek kebersamaan ternyata dapat menciptakan saling kebergantungan antara satu dengan yang lainnya dengan ukhuwah Islamiyah maupun dalam kerangka jihad.

Fenomena menarik lainnya dari isyarat komunikasi Islam adalah, komunikasi berlangsung sebagai tindakan internasional dalam menjawab berbagai persoalan, memunculkan gagasan atau ide-ide yang dimunculkan dari proses komunikasi itu sendiri. Kajian Komunikasi Islam tidak terlepas dari prinsip-prinsip Fundamental begitu juga halnya dengan jurnalistik Islam, yang menjadi krangka dasar bangunan Islam dalam tatanan kehidupan yang seimbang antara duniawi dan ukhrawi. Bangunan Islam dibentuk oleh etika religious Islam. Oleh karena itu jurnalistik Islam harus ditopang oleh pilar bangunan itu dalam bergerak menuju masa depan yang lebih baik.

1. Prinsip Tauhid. Dalam Islam pandangan yang palin utama dan paling mendasar mengenai manusia dan jagat raya adalah tauhid. Dari pilar satu memunculkan tuntunan akan pengabdian manusia kepada Tuhan sang Pencipta. Dengan menggunakan konsep ketuhanan, maka jurnalistik Islam dalam merebut tempat bagi manusia, untuk otoritas dan lembaga harus dalam kerangka pengabdian kepada Allah. Dengan demikian konsep tauhid jika dilaksanakan akan memberikan prinsip dalam menentukan batas legitimasi atau suatu sistem dalam jurnalistik Islam.

2. Prinsip Tanggung Jawab. Dalam persepektif agama, maka Islam dilihat sebagai agama yang bersifat mission, dimana syiar-syiar pesannya harus terus berlangsung dalam kehidupan manusia. Dengan prinsip tanggung jawab, maka jurnalistik Islam mempunyai visi dan misi serta komitmen yang tinggi dalam menyadari jurnalistik Islam adalah amanah Sang Khalik yang akan dimintai pertanggung jawabannya. Oleh karena itu pada koridor ini prinsip jurnalistik Islam adalah dalam doktrin “amar ma’ruf nahi munkar” (QS. 3:10).

3. Prinsip Ummah/hablum minannas

Jurnalistik Islam tidak terlepas dari misi ajaran agama Islam, dimana misi itupun terdapat dalam al Qur’an dan hadist. Sedangkan pada proses komunikasinya, kedudukan al Qur’an dan hadist adalah sebagai sumber/rujukan dari pprilaku komunikasi dan pesan-pesan yang disampaiakan. Dilihat dari persepektif ini maka jurnalistik Islam berada pada siklus al-Qur’an dan hadist yang inipun sekaligus menjadi ciri khasnya. Dalam proses komunikasi antar manusia al Qur’an telah memberikan ketentuan-ketentuan yang disimpulkan menjadi enam prinsip yaitu: Qaulan sadidan (QS. 4 ; 9-33:70), qaulan balighan (QS. 4:630, qaulan maysuran (QS. 17:33), qaulan layyinan (QS. 20:44), qaulan kariman (QS. 17:23), dan qaulan ma’rufan (QS. 4:5). Keenam prinsip ini merupakan kata kunci yang mengajarkan manusia bagaimana seharusnya ia berkomunikasi  pada saat komunikasi itu berlangsung.

 

  1. Kesimpulan

Jurnalistik/Wartawan adalah salah satu gatekeeper yang ikut menentukan hitam-putihnya informasi pada media komunikasi massa. Maka sangat dibutuhkan profesionalisme seorang jurnalisme Islam dalam menyampaikan Informasi.

Fikih Jurnalistik adalah hal-hal yang harus ditempuh, sesuai dengan hukum Islam, dalam berbagai kegiatan jurnalistik yang meliputi mencarai, memperoleh, memiliki, menyimpan, menolah dan menyampaiakn informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan media yang tersedia. Atau kumpulan hukum syari’at yang berhubungan sebagian tahap kerja jurnalistik, hingga sampai pada tujuannya.

Sehingga apabila seorang jurnalis menempuh hal-hal yang terdapat dalam fikir jurnalistik tersebut maka penulis menyakini akan terciptanya jurnalistik-jurnalistik yang profesional, berakhlak mulia dan disenangi juga disayangi oleh masyarakat pada umumnya, dan kalau diperhatikan antara UU pers dengan kode etik jurnalistik itu sangat sesuai dengan ajaran atau norma-norma dalam Islam.


                [1] Prof. Dr. Muhammad Budyatna, M.A.2006.  Jurnalistyik Teori dan Praktek, Bandung : Rosdakarya, hlm. 3.

                [2] Ibnu Hamad. 2004. Konstruksi Realitas politik Dalam Media Massa. Granit: Jakarta, hlm. 11-12.

[3] http//: kancahkreatif.blogspot.com/2011/02pers-dalam-Islam-dakwah-bilqalam.html

                [4] Roy Pakpahan. 1998. Penuntun jurnalistik Terpadu Bagi Kalangan LSM. Jakarta INPI-Pact-SMPI, hlm. 1.

                [5] Onong Uchana Efendy. 1988. Ilmu Komunikasi Teori dan praktek. Bandung: remadja Rosda Karya, hlm. 196.

                [6] Drs. J.B. Wahyudi. 1991. Komunikasi Jurnalistik Pengetahuan Praktis Kewartawanan Surat Klabar, Majalah, Radio dan Televisi. Bandung: Penerbit  Alumn, hlm. 86.

                [7] Dja,far Husin Assegaff. 1985. Jurnalistik Masa Kini  Pengantar Ke Praktek Kewartawanan. Jakarta : Ghalia Indonesia, hlm. 9.

                [8] Curtis D. MacDougall, Interpretatif reporting, Macmillan Publishing Co., Inc., New Yoek, 1972 dalam buku Prof. Dr. Muhammad Budyatna, M.A. 2006, Jurnalistik Teori dan Praktek, Bandung: Rosda Karya, hlm. 15

                [9] Onong. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Citra Aditiya Bakti, 2003. hlm 95-96.

                [10] Adinegoro. Publisistik dan Djurnalistik, Gunung Agung Jakarta, tahun 1961. Dalam Op-cit. Wahyudi hlm. 86.

                [11] M.L. Stein, 1988, Bagaimana Menjadi Wartawan, terjemahan Nancy Simanjuntak. Jakarta : Bina Aksara, hlm.48.

                [12] Luwi Ishwara. 2007. Catata-Catatan Jurnalisme Dasar. Kompas: Jakarta, hlm. 15-16 dalam Lois W. Hodges, “defining Press Responsibility”, dalam Deni Elliot (ed), “Responsible Journalisme (Beverly Hills: sage Publication, 1986).

                [13]Asep Saeful Muhtadi.  1999, Jurnalistik Pendekatan Teori dan Peraktek), Logos:Jakarta, hlm. 35. Dalam Assegaff, tahun 1985 halaman 19./

                [14]Op-cit. Luwi Ishwara. hlm. 7-13.

                [15] http://id.wikisource.org/wiki/kode_etik_jurnalistik.diunduh padatanggal 5 September 2013

                [16]Suf Kasman.  2004, Jurnalisme Universal (Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah Bi Al-Qalam Dalam Al-Quran), Khazanah Pustaka Keilmuan: Jakarta, hlm xi.

                [17] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Tarjemah, (3:104).

                [18] Dr. H. Syukur Kholil, MA. 2007, Komunikasi Islam, Bandung: Citapustaka Media, hlm. 6

                [19] Al-Quran dan terjemah, surat al-Imaran ayat 104.

            [20] Tatarian, R 1978, News Flow in the Third World : An Overview. Dalam Philip, C.H (Ed), The Third World and Press Freedom. New York: Praeger Publisher dalam Kholil, Syukur, 1999, Liputan Agensi-Agensi Berita Internasional Tentang Dunia Islam Dalam Surat Kabar Indonesia, Medan, hlm.1.

               

                [21] Galtung (1992) dalam Ibid Syukur Kholil, hlm. 88.

                [22]  Op-Cit. Syukur Kholil. 1999. Hlm. 89.

                [23]  Op-cit. Asep Saeful Muhtadi.   hlm. 14

Sejarah dan Perkembangan Islam di Pakpak

Posted on Updated on

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Menelusuri sejarah dan perkembangan Islam di Pakpak[1] tentu saja tentu saja merupakan sesuatu yang cukup beralasan. Sebab, Pakpak dalam konteks budaya sangat dipengaruhi oleh Islam[2]—di samping Kristen dan Hindu-Buddha—sebagaimana yang terlihat dalam kebudayaan masyarakatnya. Kenyataan ini setidaknya menunjukkan bahwa pengaruh Islam di daerah ini, walaupun jumlah masyarakat Islam—di daerah ini—bukanlah masyarakat yang mayoritas, tetapi justeru menjadi masyarakat minoritas menempati hanya sebagian kecil dari kecamatan yang ada di Pakpak dengan jumlah tidak begitu signifikan dibanding Kristen.

Dalam proses pekembangan Islam di Pakpak ini, ada kesan kuat bahwa sebenarnya Islam lebih dahulu masuk di daerah ini sebelum Kristen, hal ini setidaknya dapat dilihat dari apa yang dikemukan oleh J. Boangmanalu mengatakan:

Pada waktu itu, agama utama masyarakat Pakpak di Kota Kerangan adalah si pelebegu (animisme). Sebagian sudah beragama Islam. Sementara agama Kristen, baru pada usianya diperkenalkan oleh almarhum Wilfrid Banureah, seorang tukang jahit pakaian yang datang dari kota salak.[3]

Sebagaimana yang dikemukan J. Boangmanalu ini jelas menunjukkan kalau Islam lebih dahulu dibanding Kristen masuk ke daerah Pakpak. Namun, kenyataan belakangan menunjukkan justeru populasi masyarakat Islam lebih sedikit dibanding dengan Kristen. Agaknya, penyebaran Kristen di daerah ini jauh lebih intentif dan terorganisir dilakukan dibanding dengan penyebaran Islam, sehingga wajar kalau Kristen jauh lebih besar pengaruhnya dan diterima di kalangan masyarakat Pakpak sebagai agama resmi atau juga sangat mungkin sekali bahwa proses dakwah Islam di daerah ini justeru mengalami stagnasi setelah selang beberapa lama pasca ketika Islam masuk ke Pakpak.

Selain itu, ada sumber yang menyebutkan penyebaran agama Kristen di Tanah Pakpak pada awalnya tidak diterima karena sebelumnya sudah berkembang agama Islam.[4] Hal ini juga menjadi penegasan lain bahwa Islam di Pakpak tidak dilakukan secara lebih baik sehingga pengaruh Islam dapat disebut “kalah” dengan Kristen di Pakpak, sehingga belakangan Islam justeru menjadi komunitas yang minoritas dibanding jumlah masyarakat Kristen.[5] Sebuah fakta yang menarik dikemukan bahwa masyarakat Pakpak secara umum lebih dikenal beragama Kristen dibanding Islam, walaupun sebagaimana di awal dikemukan bahwa Islam jauh lebih dahulu masuk ke Pakpak dibanding Kristen.

Menarik dikemukakan di sini, dalam sejarah berkembangnya Islam dan Kristen di Pakpak ini, sejak dahulu jarang mengalami konflik yang dapat berakibat menimbulkan keretakan hubungan kedua agama ini. Sebab, hubungan antar kedua agama ini untuk konteks Pakpak diikat oleh kedekatan kekeluargaan atau kekerabatan antara umat beragama di kalangan Islam dan Kristen,[6] yang sampai saat ini nilai-nilai kekerabatan masih sangat kuat dipegangi masyarakatnya. Untuk itu, tidak mengherankan kalau konflik antara Islam dan Kristen hampir dapat disebut tidak ada dikarenakan kuatnya daya ikat kekeluargaan dan kekerabatan yang ada di tengah masyarakat menjadi penyatu antar agama yang berbeda tersebut.

Dalam konteks penetrasi Islam dalam sejarah lokal Pakpak menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa Islam pertama kali di daerah Pakpak ini berasal dari Aceh dan Barus. Sebab, kedua daerah ini memiliki hubungan kontak langsung dengan Pakpak karena memiliki hubungan perbatasan langsung secara geografis. Untuk hubungan kontak dengan Barus telah terjalin hubungan keduanya baik jalur niaga ataupun kontak langsung. Sebab, kedua daerah ini secara ekonomi sangat memberi pengaruh bagi perkembangan masyarakat Pakpak itu sendiri untuk dapat survive dalam memenuhi segala kebutuhan kehidupannya, terutama ketika itu Barus dikenal sebagai sentral niaga internasional pengekspor hasil-hasil alam, termasuk juga damar dan kemenyan yang berasal dari Pakpak.

Sedangkan kontak dengan Aceh memiliki hubungan khusus dengan Pakpak, disamping kedekatan teritorial dengan Pakpak. Oleh sebab itu, sangat besar kemungkinan kalau Islam yang berasal dari Aceh ini lah yang masuk dan berkembang di daerah Pakpak. Fakta ini juga diperkuat bahwa Islam di daerah Aceh jauh lebih dahulu apabila dibanding dengan Pakpak dan daerah lainnya yang berbatasan dengan Aceh karena Aceh juga memiliki hubungan khusus dengan Barus sebagai pusat utama penyebaran Islam ketika itu. Untuk itu, perkembangan Islam di Aceh memberi pengaruh besar dalam proses penyebarluasaan Islam ke daerah lainnya, termasuk ke Pakpak.

Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa orang Pakpak yang pertama sekali mendalami Islam adalah Abdurrauf Singkil, seorang tokoh tasauf yang dikenal dengan ajaran wujudiyah. Namun, proses pengislaman yang lebih serius dan sistemaris baru dilakukan oleh Tengku Telaga Mekar dari wilayah Gayo dan proses pengislaman yang lebih intensif dilakukan pada masa Guru Gindo.[7] Akan tetapi, secara pasti dapat disebut belum ditemukan adanya bukti-bukti yang dapat mempertegas bahwa keterlibatan Abdurrauf dalam proses penetrasi Islam di Pakpak atau juga Tengku Telaga karena sejauh penelitian ini  dilakukan belum ada pengkajian yang dapat secara pasti menjelaskan tentang siapa tokoh-tokoh penyebar Islam ke Pakpak pada awalnya.

Sejauh pengkajian yang dilakukan masih sangat sedikit sekali informasi yang didapatkan tentang sejarah dan perkembangan Islam di Pakpak, maka penelitian ini dimaksudkan sebagai upaya yang lebih serius dalam menemukan deskripsi  perkembangan Islam di Pakpak Barat. Untuk itu, penelitian ini secara sistematis akan menjelaskan tentang bagaimana proses penetrasi awal Islam masuk ke Pakpak serta bagaimana bentuk jalur-jalur Islam berkembang dan selanjutnya juga dijelaskan juga bagaimana perkembangan mutakhir Islam di Pakpak.

 

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukan sebelumnya, maka berikut ini akan dirumuskan apa saja yang menjadi masalah dalam penelitian ini, yang akan diperinci dalam bentuk pertanyaan, yaitu bagaimana asal usul masyarakat Pakpak? bagaimana proses penetrasi awal Islam di Pakpak? dan bagaimana perkembangan Islam di Pakpak?

 

C.                Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab apa saja yang menjadi masalah yang telah dirumuskan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan jawaban yang utuh dari asal usul masyarakat Pakpak, proses penetrasi Islam di Pakpak dan perkembangan Islam di Pakpak. Penelitian ini diharapkan mampu menjelaskan apa saja yang telah dikemukan sebagai upaya jawaban utuh terhadap sejarah dan perkembangan Islam di Pakpak.

 

D.    Signifikansi Penelitian

Signifikansi penelitian ini akan dapat mendeskripsikan Islam di Pakpak secara utuh dan komprehenshif, maka signifikansi penelitian ini setidaknya mencakup dua signifikan utama, yaitu signifikansi akademik dan signifikansi praktis. Signifikansi akademik diharapkan bahwa dengan penelitian ini akan dapat menemukan teori-teori tentang Islam di Pakpak untuk dan kemudian dapat dijadikan sebagai landasan pengembangan pengkajian Islam di daerah-daerah minoritas lainnya.

Signikansi praktis penelitian ini diharapkan mampu menjadi pegangan dalam mengambil kebijakan dalam upaya pengembangan dakwah Islam ke depan, serta sekaligus juga sebagai pijakan dalam penelitian selanjutnya dalam bidang yang sama bagi para peneliti dan pengkaji untuk dapat mengembangkan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

 

E.     Kajian Terdahulu

Sejauh penelitian ini dilakukan, belum ada penelitian khusus tentang sejarah dan perkembangan Islam di Pakpak. Namun, deskripsi umum yang dapat dijadikan pijakan adalah perkembangan Islam di Batak. Karena sejarah Batak sangat berkaitan khusus dengan Pakpak, baik dari sisi antropologis ataupun sosiologis. Oleh karena itu, ada sebagian dari kalangan peneliti Pakpak yang memasukkan Pakpak sebagai bagian dari etnis Batak, walaupun sebenarnya masyarakat Pakpak sendiri ada yang menolak upaya pengidentfikasian tersebut.

Sejauh ini, berdasarkan hasil penelitian Ery Soedewo diduga Islam di tanah Batak sudah ada tahun 1816-1820.[8] Penelitian ini memanglah tidak secara utuh menjelaskan sejarah Islam di Pakpak, tetapi beberapa informasi yang ada di dalamnya dapat dijadikan referensi awal untuk penelitian selanjutnya. Karena memang sebagaimana yang dikemukan sebelumnya bahwa diduga perkembangan Islam di Batak memberi pengaruh—secara langsung ataupun tidak—terhadap perkembangan Islam di Pakpak.

Sedangkan hasil penelitian Baskoro Daru Tjahjono menemukan bahwa seiring dengan masuknya agama-agama besar (Kristen dan Islam) ke dalam masyarakat Pakpak, secara berangsur-angsur kepercayaan terhadap lokal semakin menghilang.[9] Penelitian Tjahjono ini setidaknya menunjukkan bahwa Islam dan Kristen memiliki pengaruh yang besar dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat Pakpak.

Menurut Bungaran Antonius Simanjuntak, proses penyebaran Islam di Pakpak tidak dapat dipisahkan dari penyebaran Islam di tanah Batak, Simanjuntak mencatat bahwa Sementara itu orang Minangkabu sudah menganut agama Islam sejak awal abad ke 14 yang dibawa pedagang Arab. Sekitar 400 tahun kemudian beberapa di antara penganut tersebut menunaikan ibadah haji ke tanah Arab, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang. Sekembalinya dari Arab mereka ingin mengembangkan agama Islam ke daerah-daerah yang belum menganut agama Islam. Mereka tahu bahwa orang Batak masih animisme dan paganis. Mereka menuju ke sana.[10] Berkaitan dengan ini penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan sejarah dan perkembangan Islam di Pakpak secara akademis bahwa agama Islam memiliki pengaruh yang besar bagi masyarakat Pakpak secara keseluruhannya.

  1. F.     Kerangka Teori

Dalam penelitian sejarah dan perkembangan Islam di Pakpak digunakan teori perbatasan. Pemilihan teori perbatasan sebagai landasan teori karena memang Islam yang ada di Pakpak sepenuhnya sangat dipengaruhi oleh daerah-daerah perbatasan dengan Pakpak yang sebelumnya telah lama mengenal Islam. Secara literal perbatasan berarti batas atau daerah jalur pemisah antar unit-unit politik (negara); daerah dekat batas.[11] Dalam penelitian ini, yang dimaksudkan perbatasan adalah daerah dekat batas yang mengubungkan Pakpak dengan daerah lainnya.

Secara teoritis, teori perbatasan ini untuk pertama kali diperkenalkan oleh Karl Haushoper yang mencoba menghubungkan antara politik dan geografi, yang mana sebenarnya keduanya saling mempengaruhi dalam proses perluasan sebuah daerah atau negara pada daerah lainnya.[12] Menurut Nicholas J Spykman teori daerah batas (rimland), yaitu teori wawasan kombinasi yang menggabungkan kekuatan darat, laut dan udara.[13] Secara lebih tegas menurut Haushoffer teori perbatasan ini sebagai bentuk penegasan terhadap upaya dalam bentuk kolonisasi atas negara atau daerah yang dianggap masih kurang berbudaya.

Dalam konteks penelitian sejarah dan perkembangan Islam di Pakpak juga memiliki hubungan politik dengan geografi, khususnya politik penyebarluasaan wilayah Islam yang dilakukan pada wilayah-wilayah yang belum mengenal Islam sebagaimana yang dicatat dalam sejarah bahwa Kesultanan Aceh memiliki peran signifikan dalam proses ekspansi Islam di Sumatera Utara, khususnya daerah-daerah yang basis masyarakat etnis Batak,[14]

Pemilihan teori ini karena  teori perbatasan menjadi relevan dalam melihat sejarah dan perkembangan Islam di Pakpak yang secara tegas dapat disebut bahwa Islam yang masuk dan berkembang di daerah ini melalui jalur perbatasan daerah yang ada di sekitar Pakpak, yaitu jalur Aceh dan Barus. Dalam hal ini, teori perbatasan dimaksudkan tidak dalam kerangka politik semata, walaupun sebenarnya indikasi tersebut ada dalam proses penetrasi Islam di Pakpak, terutama politik ekspansi pengaruh Islam dari Aceh pada daerah-daerah yang berbatasan dengannya, maka tentu saja Pakpak yang secara langsung berbatasan dengan Aceh merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari ekspansi kekuasaan ini berdasarkan jalur niaga dan akulturasi untuk kemudian selanjutnya dikembangkan menjadi penyebarluasan Islam.

Sedangkan perbatasan dengan Barus yang dikenal sebagai sentral niaga pada masa awal Islam di Nusantara juga menjadi sesuatu hal yang juga paling mungkin dalam upaya kontak Islam dengan Pakpak, walaupun sejauh ini belum ditemukan data yang akurat tentang adanya proses penetrasi Islam dari jalur Barus, tetapi dapat diduga kuat bahwa Islam yang ada di Pakpak juga sangat dipengaruhi Islam yang ada di Barus. Berkaitan dengan apa yang dikemukan ini lah menarik untuk dikaitkan penelitian tentang sejarah dan perkembangan Islam di Pakpak ini berdasarkan teori perbatasan.

Sebagaimana yang dikemukan bahwa Islam di Pakpak secara umum dipengaruhi oleh Islam yang ada di Aceh dan Barus karena kedua daerah yang disebut ini jauh lebih dahulu Islam berkembang. Bahkan, dapat ditegaskan bahwa Barus memiliki peran penting dalam perkembangan Islam tidak hanya utuk kawasan sekitarnya, termasuk juga Aceh, tetapi lebih dari pada itu juga Barus sebagaimana yang diyakini umumnya sejarawan bahwa Islam di Indonesia juga sangat berkaitan dengan Barus sebagai sentral utamanya.

Menarik untuk dikemukan di sini bahwa Pakpak secara teritorial memiliki hubungan khusus dengan Aceh dan Barus, maka dapat dipastikan bahwa Islam yang ada dan berkembang di Pakpak juga diduga sangat berkaitan dengan Aceh dan Barus sebagai daerah yang berbatasan langsung. Untuk itu, dalam penelitian ini teori yang digunakan adalah teori perbatasan karena adanya perbatasan Aceh dan Barus dengan Pakpak diduga kuat menjadi penyebab utama penetrasi Islam di Pakpak. sebab, sesuai dengan teori perbatasan bahwa hubungan daerah yang memiliki hubungan perbatasan tidak bisa hindari kontak antar daerah yang berbatasan tersebut.

 

G.    Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian sejarah lokal yang secara umum informasinya masih dalam bentuk tutur lisan, maka diperlukan rekonstruksi sejarah untuk menemukan sejarah yang benar-benar dapat dikaui kebenarnya berdasarkan kerangka ilmu sejarah. Untuk itu, dalam penelitian ini akan digunakan metode penelitian sejarah yang menggunakan sumber sejarah sebagai bahan utama penelitian. Berkaitan dengan ini metode sejarah yang digunakan untuk menguji dan menganalisa segala bentuk informasi yang berkaitan dengan masa lalu objek yang diteliti.

Secara sistematis dapat disebut sedikitnya ada 4 (empat) langkah yang digunakan dalam penelitian ini sebagaimana yang dirumuskan Nugroho Nitisusanto dalam penelitian sejarah.[15]

Langkah pertama, heuristik, yaitu kegiatan menghimpun jejak-jejak masa lampu yang sesuai dengan tema penelitian dan yang mendukung objek yang diteliti. Secara umum data yang digunakan adalah data yang berbentuk tertulis, maka metode yang digunakan juga adalah metode library research dan sekaligus juga field research untuk menemukan data yang sesungguhnya dari tempat yang diteliti. Sebab, sejauh ini informasi tertulis yang bentuk naskah tertulis masih sangat sedikit sekali dijumpai.  Metode library research yang digunakan dalam bentuk naskah tertulis seperti buku, jurnal, disertasi, tesis, skripsi dan lainnya selain mengumpul informasi-informasi yang berkaitan dengan tema yang diteliti, sekaligus juga mengkritisi apabila ada informasi yang dianggap tidak sesuai dengan data-data yang ditemukan. Sedangkan metode field research dilakukan dengan mengunjungi lokasi yang diteliti dan sekaligus melakukan serangkaian wawancara terhadap pihak-pihak yang dianggap dapat menjelaskan informasi-informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

Langkah kedua, kritik, yaitu menyelidiki jejak-jejak itu sendiri, baik bentuk maupun isinya terhadap informasi-informasi yang didapatkan. Dalam upaya melakukan kritik ini dilakukan terhadap informasi-informasi sejarah yang dianggap tidak sesuai dengan sebagaimana mestinya, baik itu secara substansial sisi informasi atau pun juga sumber-sumber yang digunakan dalam menginformasikan informasi yang didapatkan. Dalam hal ini, kritik hanya dilakukan pada informasi-informasi yang dianggap tidak populer dan jauh dari kerangka ilmiah atau terkadang juga dibiarkan saja informasi itu secara desktiptis apabila tidak ditemukan data-data yang mendukung.

Langkah ketiga, interpetasi, yaitu menetapkan makna yang saling berhubungan dengan fakta-fakta yang diperoleh melalui pengujian dan penganalisaaan data yang ditemukan yang kemudian diinterpretasikan berdasarkan apa dan bagaimana seharusnya. Dalam hal ini, pengujian dan penganalisaan dilakukan sehingga memberikan suatu informasi yang benar-benar sesuai dengan kerangka penelitian sejarah. Upaya pengujian dan penganalisaan ini penting karena berkaitan khusus dengan substansi informasi sejarah yang akan disajikan sebagai temuan penelitian yang telah melalui beberapa tahapan yang relevan sebagaimana yang telah dikemukan dengan penelitian dilakukan.

Langkah keempat, penyajian, yaitu menyampaikan sintesa yang diperoleh dalam bentuk naratif yang disajikan dalam bentuk penyunan secara sistematis terhadap apa saja yang telah ditentukan dalam sistematika penulisan. Penyajian ini ditulis secara deskriptis terhadap semua hasil penelitan yang didaparkan dari sumber tertulis ataupun hasil wawancara yang dilakukan dalam upaya pengumpulan data tersebut yang akan dilaporkan dalam bentuk tertulis.

 

  1. H.    Sistematika Penelitian

Untuk memudahkan pembahasan dalam penelitian ini akan disusun sistematika penelitian, yang mencakup semua hal yang dianggap berkaitan dengan tema utama penelitian.

Bab I: Pendahuluan terdiri atas latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, signifikansi penelitian, kajian terdahulu, kerangka teori, metode penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II: Sekilas tentang Pakpak terdiri atas letak geografis, nenek moyang dan asal usul.

Bab III: Penetrasi Islam di Pakpak terdiri atas jalur-jalur Islam di antaranya Barus, Aceh dan Minang, pionir islam dan identitas Islam.

Bab IV: Perkembangan Islam di Pakpak terdiri atas gelombang pertama: sejarah awal Islam, gelombang kedua: kontak dengan Kota Medan, gelombang ketiga: perkembang belakangan dan analisis.

Bab V: Penutup terdiri atas kesimpulan dan saran-saran.[]

 

 

 

 

 

 

BAB II

SEKILAS TENTANG PAKPAK

 

  1. A.    Letak Geografis

Sebelum menjelaskan letak geografis Pakpak, terlebih dahulu akan dijelaskan posisi Pakpak hubungannya dengan Kota Medan sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Utara melalui jalur jalan yang mengubungkan Medan-Pakpak. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan jalan dari Medan menuju Pakpak setidaknya melalui tiga kabupaten atau lima kota, yaitu Pancurbatu (Kabupaten Deli Serdang), Sibolangit (Kabupaten Deli Serdang), Berastagi (Kabupaten Karo), Kabanjahe (Kabupaten Karo), Sidikalang (Kabupaten Dairi), Pakpak (Kabupaten Pakpak Bharat) hingga Singkil (Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh).

Jalan menuju Pakpak ini setidaknya menghabiskan waktu sekitar 3 jam dengan menggunakan kenderaan pribadi, dengan jalan yang berliku-liku mengingat jalan menuju ke Pakpak melalui pegunungan Bukit Barisan yang ada di kanan kirinya dibatasi jurang yang setiap saat dapat membahayakan bagi pengguna jalan. Bahkan, ada juga yang mengistilahkan jalan menujuk Pakpak ini melalui “99 tikungan”,[16] tetapi untuk belakangan ini jalan menuju Pakpak ini cukup baik dengan aspal yang hanya sedikit rusak, sehingga tidak terlalu melalahkan, serta ditambah lagi di kanan kirinya yang jurang banyak pemandangan yang cukup indah untuk ukuran orang yang berdomisili di Kota Medan.[17]

 

Gambar 1, Pemandangan Jalan Menuju Pakpak

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Secara geografis Pakpak menurut catatan Kabupaten Pakpak Bharat dalam angka 2012 mencatat bahwa luas wilayah Pakpak yang dapat dimanfaatkan untuk kawasan budidaya luas sekitar 77.893.39 ha dan hutan lindung luas sekitar 43.936.61 ha.[18] Jadi, jumlah keseluruhan wilayah Pakpak adalah 1.218.30 Km2. Berdasarkan angka jumlah luas wilayah yang dikemukan menunjukkan bahwa Pakpak merupakan bagian dari daerah yang potensial untuk dikelola dan dikembangkan menjadi lebih baik, mengingat jumlah wilayah yang cukup luas tersebut dan sebagian yang lainnya belum dikembangkan menjadi lahan produktif bagi peningkatan kehidupan ekonomi masyarakatnya.

Sebelum berbicara tentang Pakpak lebih lanjut, terutama tentang perkembangan Islam di dalamnya, maka penting juga untuk menjelaskan letak posisi Pakpak tersebut supaya lebih mudah dipahami letak geografis. Pengungkapan posisi Pakpak dipandangan penting karena berkaitan khusus dengan pembahasan berkaitan dengan masalah Islam yang berkembang di Pakpak. Sebab, sebagaimana di awal dikemukan bahwa penelitian tentang perkembangan Islam di Pakpak menggunakan teori perbatasan karena itu pengungkapan letak posisi Pakpak, terutama segala hal yang berkaitannya dengan Pakpak menjadi relevan dijelaskan dalam pembahasan ini.

Secara jamak diketahui bahwa Pakpak merupakan bagian Kabupaten Dairi awalnya sebelum dilakukan pemekaran menjadi Kabupaten Pakpak Bharat. Menimbang bahwa Dairi merupakan sebuah kabupaten yang cukup luas, maka atas inisiatif masyarakatnya diusulkan lah pemekaran Pakpak dari Kabupaten Dairi. Untuk itu, setelah selang beberapa lama akhirnya pada tahun 2003 pada masa Presiden Megawati Soekarnoputi Pakpak resmilah Pakpak menjadi kabupaten yang mandiri dengan nama Kabupaten Pakpak Bharat,[19] yang mengurus sendiri segala hal yang berkaitan dengan daerahnya dengan memisahkan diri dari Kabupaten Dairi yang memang sangat luas untuk ukuran sebuah kabupaten, maka pilihan pemekaran dimaksudkan untuk mempercepat proses pembangunan di daerah ini, termasuk Dairi dan Pakpak.

 

Gambar 2, Peta Perbatasan Kabupaten Pakpak

Sumber: Kabupaten Pakpak Bharat

Secara geografis Pakpak ini di sebelah utaranya berbatasan dengan Kabupaten Dairi sebagai kabupaten yang induk secara ideologi dan kebudayaan masih menyatu. Sebab, sebagaimana yang telah dikemukan sebelumnya Kabupaten Dairi merupakan bagian dari Pakpak awalnya sebelum dimekarkan. Untuk itu, walaupun telah terjadi pemisahan antara Pakpak dan Dairi, tetapi sebagai sebuah entitias masyarakat antara keduanya tidak dapat dipisahkan dari sisi ideologi dan kebudayaan yang ada di masyarakatnya karena memang keduanya memiliki keidentikan dalam banyak hal sebagai sebuah identitas masyarakat yang satu.

Sedangkan di sebelah Selatan Pakpak berbatasan dengan Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Perbatasan sebelah Selatan ini lah yang menghubungkan Pakpak ke Barus sebagai bagian dari kecamatan yang ada di Kabupaten Tapanuli Tengah yang dikenal sebagai jalur penetrasi Islam di wilayah ini. Bahkan, tidak hanya itu Barus juga menjadi sentral pertama perkembangan Islam di Indonesia secara umum sebagaimana yang banyak menjadi menjadi perhatian para ahli sejarah tentang sejarah awal Islam di Indonesia selalu merujuk Barus sebagai pusat niaga internasional pada saat itu, yang dibuktikan sekarang banyak ditemukan bukti-bukti makam tua yang menunjukkan fakta tersebut ada.[20]

Kemudian, di sebelah Timur Pakpak juga berbatasan dengan Kabupaten Dairi, Kabupaten Toba Samosir dan Humbang Hasundutan. Perbatasan sebelah Timur ini menunjukkan bahwa Pakpak dilingkupi daerah Dairi dan Hambang Hasundutan yang secara geografis tentu saja perbatasan daerah ini juga memiliki pengaruh dalam dalam masyarakatnya, terutama dalam hal kedekatan budaya antar kedua daerah ini dan termasuk juga penyebaran masyarakat Pakpak di dalamnya merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dihindari mengingat perbatasan ini juga menunjukkan adanya hubungan ekonomi antar kedua daerah ini, terutama Dairi sebagai bagian dari Pakpak itu sendiri.

Adapun sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Aceh Singkil, yang merupakan sebuah daerah yang tidak merupakan bagian dari kawasan Sumatera Utara sebagaimana daerah-daerah lain yang disebut berbatasan dengan Pakpak. Perbatasan sebelah Barat ini dengan Aceh Singkil menjadi sangat penting dalam penelitian ini, terutama kaitannya dengan proses penetrasi Islam di Pakpak karena secara geografis Pakpak dan Singkil memiliki perbatasan langsung yang menghubungkan kedua daerah ini. Bahkan, jalur transportasi menuju Singkil umumnya melalui jalur Pakpak untuk sampai ke daerah Singkil tersebut.

Dalam pembahasan selanjutnya, perbatasan Pakpak dengan Singkil menjadi sangat penting karena sebagaimana yang akan dijelaskan—dalam pembahasan selanjutnya—bahwa penetrasi Islam di Pakpak sepenuhnya sangat berkaitan dengan Singkil, di sisi lain Barus juga memiliki peran dalam proses penterasi Islam di Pakpak, tetapi dari sisi pengembangan dan kontribusi dapat ditegaskan bahwa Singkil jauh lebih besar dibanding Barus tersebut, walaupun secara jamak dapat disebut Islam untuk pertama kalinya berkembang di daerah Barus ini. Bahkan, beberapa data menyebutkan peneterasi Islam di Aceh juga bersumber dari daerah Barus ini.[21]

Untuk memudahkan pengenalan Pakpak secara lebih rinci berikut ini akan dijelaskan kecamatan-kecamatan yang ada di daerah ini berdasarkan tabel.

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1, Jumlah Kecamatan dan Luasnya

 

No

Kecamatan

Desa

Dusun

Luas

1 Salak 6 29 245,57
2 Sitellu Tali Urang Jehe 10 49 473,62
3 Pagindar 4 12 75,45
4 Sitellu Tali Urang Julu 5 17 53,02
5 Pergetteng-getteng Sengkut 5 22 66,64
6 Kerajaan 10 36 147,61
7 Tinada 6 22 74,03
8 Siempat Rube 6 22 82,36
  Total 52 210 1.218,30

 

Sumber: Pakpak Bharat dalam Angka 2012, h. 7.

Sebagai sebuah Kabupaten Pakpak terdiri atas 8 (delapan) kecamatan, yaitu Kecamatan Salak, Kecamatan Kerajaan, Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Kecamatan Tinada, Kecamatan Siempat Rube, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kecamatan Pergetteng Getteng Sengkut dan Kecamatan Pagindar.[22] Dari kedelapan kecamatan ini secara umum dapat disebut masyarakat Pakpak yang beragama Islam hanya berdomisili di Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe yang secara langsung berhubungan dengan Aceh Singkil, walaupun masyarakat Pakpak yang Islam tetap menyebar di berbagai kecamatan lainnya, tetapi jumlahnya tidak signifikan dibanding di Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe tersebut.[23]

Menurut Mansur Berutu bahwa Sitellu Tali Urang Jehe ini lah penetrasi Islam pertamakalinya terjadi, tepatnya di Desa Kaban Tengah dan Sibande Desa Tanjung Meriah sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan selanjutnya.[24] Sejauh observasi yang peneliti lakukan bahwa simbol-simbol Islam cukup nyata di daerah ini. Bahkan, di Desa Kaban Tengah ditemukan sebuah mushalla sebagai tempat sarana ibadah masyarakat Islam sebagai bagian dari bukti Islam yang ada di daerah ini. Namun, dapat disebut kondisi mushalla sebagai sarana tempat ibadah ini sangat sederhana dan cenderung memprihatinkan. Akan tetapi, dapat dipastikan bahwa mushalla ini memiliki peran strategis bagi masyarakat Pakpak dalam kaitannya dengan hubungan antar sesama.

 

Gambar 3, Mushalla Desa Kaban Tengah

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Peran penting mushalla ini bagi masyarakat Kaban Tengah dapat dilihat bahwa hampir semua aktifitas keagamaan dilakukan di sini, baik itu yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan ritual keagamaan ataupun sosial kemanusiaan semuanya dilakukan di mushalla tersebut. Untuk itu, dapat ditegaskan bahwa bagi masyarakat Islam Pakpak rumah ibadah menjadi sarana pemersatu dan pengikat hubungan antar sesama, yang juga diperkuat dengan ikatan adat dan budaya yang dianut masyarakatnya.

Secara umum dapat dijelaskan bahwa jumlah total keseluruhan masyarakat Pakpak berdasarkan hasil statistik Tahun 2012 menyebutkan bahwa jumlah keseluruhan masyarakat sekitar 40.884 jiwa dan dapat dipastikan bahwa angka ini akan terus bertambah pada tahun depannya mengingat tingginya jumlah masyarakat yang terus mengalami perkembangan.

Tabel 2, Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga

No Kecamatan Penduduk Rumah Tangga
1 Salak 7.360 1.696
2 Sitellu Tali Urang Jehe 9.501 2.061
3 Pagindar 1.216 276
4 Sitellu Tali Urang Julu 3.390 754
5 Pergetteng-getteng Sengkut 3.750 861
6 Kerajaan 8.149 1.780
7 Tinada 3.654 856
8 Siempat Rube 3.864 842
  Jumlah 40.884 9.126

 

Sumber: Pakpak Bharat dalam Angka 2012, h. 51.

Sebagaimana lazimnya sebuah komunitas masyarakat, maka tentu saja masyarakat Pakpak dalam upaya memenuhi segala kebutuhan hidupnya akan selalu berupaya untuk memilih bidang pekerjaan yang sesuai dan relevan dengan kehidupannya sebagai bagian dari strategi untuk survive. Berdasarkan data yang ada di Kabupaten Pakpak menunjukkan bahwa sedikitnya ada 4 (empat) bidang pekerjaan yang dominan dipilih masyarakat Pakpak dalam upaya mengintentifikasi dirinya. Sebab, pekerjaan bagi masyarakat secara umum merupakan bentuk identitas diri dalam struktur sosial masyarakat.

  1. PNS (Pegawai Negeri Sipil)

Sebagaian kecil dari masyarakat Pakpak memilih menjadi PNS, walapun mungkin saja sebagian besar dari itu juga berkeinginan untuk menjadi PNS sebagai bidang pekerjaan dalam upaya memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Pilihan menjadi PNS tentu saja merupakan sebuah pilihan yang agak prestisius bagi masyarakat Pakpak karena PNS sejauh ini dianggap sebagai bentuk bidang pekerjaan yang memiliki makna tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Akan tetapi, untuk menjadi PNS tidak lah semua masyarakat dapat memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.

Pilihan menjadi PNS berdasar data yang ada menunjukkan bahwa setiap tahunnya angka ini terus mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, setidaknya kenyataan ini juga menegaskan bahwa pilihan menjadi PNS merupakan sebuah pilihan yang banyak diminati masyarakat, walaupun pada kenyataannya bidang pekerjaan menjadi PNS di Pakpak tidak sepenuhnya posisi tersebut ditempati oleh masyarakat Pakpak. Sebab, sejauh ini banyak juga ditemukan sebagian besar dari PNS yang ada dan bekerja di Pakpak ini justeru merupakan masyarakat yang transmigran ke Pakpak dari berbagai daerah yang ada di Sumatera Utara.

Menurut data Pemerintah Kabupaten Pakpak menunjukkan jumlah PNS mencapai 2.522 orang PNS dengan ketentuan gologan I sebanyak 10 orang, golongan II sebanyak 1.185 orang, golongan III sebanyak 1.150 orang dan golongan IV sebanyak 177 orang.[25] Berdasarkan jumlah PNS serta klasifikasi golongan menunjukkan bahwa tingkat partisifasi masyarakat Pakpak untuk menjadi PNS dapat disebut cukup sangat tinggi sebagai penegasan bahwa pilihan menjadi PNS merupakan sebuah pilihan yang banyak dari kalangan masyarakatnya.

  1. Pertanian

Selain dari PNS, sebagian masyarakat Pakpak juga memilih bidang pekerjaanya sebagai petani yang mana dari dahulu Pakpak dikenal sebagai tempat pertanian penghasil berbagai hasil alam seperti kemenyan dan damar. Namun, dalam perkembangan berikutnya pertanian yang dilakukan di Pakpak tidak lagi hanya terbatas pada jenis pertanian ini. Bahkan, kedua ini sudah hampir jarang ditemukan di Pakpak karena pertanian umumnya sangat berkaitan dengan kebutuhan pokok masyarakat, maka pilihan jenis pertanian juga ikut terus mengalami perkembangan sebagaimana perkembangan masyarakatnya dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupanya.

Sejauh ini pertanian yang banyak dilakukan masyarakat Pakpak umumnya terdiri dari jenis pertanian kelapa sawit, kemenyan, kopi robusta, kopi arabika, gambir, karet, kulit manis dan tembakau. Berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa masyarakat Pakpak yang memilih pertanian sebagai bidang pekerjaan mencakupn sampai 6.576 rumah tangga, yang termasuk di dalamnya kegiatan bertani dan berkebun dengan teknis yang bervariasi antar satu petani dengan petani lainnya. Hasil pertanian ini umumnya dijadikan sebagai upaya dalam untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya, baik itu yang diekspor ke luar Pakpak ataupun juga dikelola sendiri di daerah ini.

c. Peternakan

Sebagaimana halnya pertanian peternakan juga merupakan bagian dari pilihan lain dari aktifitas bidang pekerjaan yang digeluti masyarakat Pakpak sebagaimana yang ditemukan bahwa masyarakat Pakpak secara umum memiliki beberapa populasi jenis peternakan, baik itu yang termasuk kategori besar dan kecil. Berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa peternakan yang dikelola masyarakat Pakpak terdiri atas kerbau yang diduga mencapai 3.308 ekor, sapi atau lembu sebanyak 206 ekor yang termasuk kegori peternakan besar. Sedangkan peternakan kategori kecil mencakup misalnya peternakan babi sebanyak 3.181 ekor, kambing 2.351 ekor, ayam sebanyak 148.538 ekor dan itik sebanyak 2.380 ekor.

  1. Industri

Dalam upaya memenuhi segala kebutuhan hidupnya masyarakat Pakpak banyak juga terlibat dalam industri sebagai bentuk kegiatan ekonomi dalam mengolah bahan mentah, bahan baku, bahan setengah jadi menjadi barang yang siap pakai. Berdasarkan data yang ada di Pakpak ditemukan 1 unit perusahan industri dalam kategori sedang yang melibatkan beberapa karyawan dan 28 unit industri kecil yang dikelola secara terbatas dalam rumah tangga. Tampaknya, pilihan industri sebagai bidang pekerjaan bagi masyarakat Pakpak masih sangat kecil jumlahnya apabila dibanding dengan bidang usaha lainnya.

  1. Koperasi

Koperasi sebagai bagian dari institusi ekonomi yang berbasis masyarakat tentu merupakan salah satu institusi yang dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Untuk itu, keterlibatan ekonomi dalam bidang ekonomi masyarakat Pakpak merupakan satu bagian yang tidak dapat dipisahkan, walaupun tingkat kesadaran masyarakat Pakpak dapat disebut masih sangat kecil terhadap bidang ini. Menurut data yang ada di Pakpak sedikitnya ada 2 unit koperasi dengan jumlah anggota mencapai sebanyak 1.026 orang dan koperasi yang non masyarakat sebanyak 43 unit dengan jumlah anggota sebanyak 1.472 orang.

  1. Lapangan Usaha

Selain dari bidang pekerjaan yang digeluti masyarakat Pakpak sejauh ini ditemukan juga bidang pekerjaan lainnya yang dapat memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat. Menurut data yang ada beberapa jenis usaha lain yang dipilih masyarakat seperti pertambangan atau penggalian sebanyak 13 unit, industri pengolahan 34 unit, konstruksi 26 unit, perdagangan besar dan eceran 803 unit, penyediaan akomodasi dan penyediaan makanan/minuman 403 unit, transportasi, pergudangan dan komunikasi 51 unit, perantara keuangan 8 unit, usaha persewaan dan jasa perusahaan 10 unit, jasa pendidikan 74 unit, jasa kesehatan dan kegiatan sosial 18 unit, jasa kemasyarakatan dan sosial budaya 60 unit, jasa perorangan yang melayani rumah tangga 4 unit.

Dalam bidang pendidikan yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Sebab, dengan pendidikan masyarakat dapat menjadi lebih tertata sebagaimana mestinya sebuah masyarakat. Dalam hal pendidikan masyarakat Pakpak juga terlibat secara aktif dalam proses dan upaya-upaya untuk memenuhi segala kebutuhan. Berikut ini akan dijelaskan secara singkat tentang tingkat dan jenjang pendidikan yang ada dalam masyarakat Pakpak.

Sejauh ini jenjang pendidikan dasar setingkat dengan Sekolah Dasar (SD) umumnya rata-rata murid yang bersekolah mencapai hanya sebesar 120 orang dengan jumlah murid sebanyak 6.170 orang dengan jumlah tenaga pendidikan sebanyak 120 orang yang tersebar pada delapan kecamatan yang ada di Kabupaten Pakpak. sedangkan pada tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) mencapai 149 orang persekolah dengan rata-rata terbesar ada pada Kecamatan Salak 312 orang persekolah dan rata-rata terkecil di Kecamatan Pagindar sekitar 58 orang, sedangkan pada jenjang pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dengan jumlah murid sebanyak 1.244 orang dengan guru pengajar sebanyak 102 orang guru.

Dalam bidang keagamaan masyarakat Pakpak secara umum menganut 3 (tiga) agama resmi, yaitu Kristen, Katolik dan Islam. Penyebutan Islam pada bagian terakhir dari ketiga agama ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang minoritas dianut masyarakat Pakpak, walaupun sebenarnya di luar tiga agama resmi ini ada juga ditemukan penganut agama lain, tetapi jumlah tidak signifikan. Bahkan, menurut penelitian Edy Sadewo bahwa dalam masyarakat Pakpak menemukan jejak agama Hindu dan Budha dalam masyarakat Pakpak, tetapi sejauh penelitian ini jumlah polulasi penganut kedua agama ini hampir tidak ditemukan, walaupun tentu saja ada.

Masyarakat Pakpak secara umum dapat disebut merupakan masyarakat yang religius, walaupun tentu saja tingkat pengamalan keagamaanya sangat relatif disamping sebagai masyarakat yang patuh pada adat dan budaya. Hal ini setidaknya dapat dipertegas dari banyak jumlah penganut agama berdasarkan agama-agama yang dianut masing-masing. Menurut laporan Kementerian Agama Sumatera Utara mencatat jumlah penganut agama Kristen sebanyak 23,065 orang, Katolik sebanyak 1,223 orang dan Islam sebanyak 16,161 orang.

Tabel 3, Jumlah Penganut Agama

No Kabupaten

Agama

1 Pakpak Bharat Kristen Katolik Islam Total
    23,065 1,223 16,161 40,505

 

Sumber: Kementerian Agama Sumatera Utara

Berdasarkan data yang dikemukan ini dapat dipahami bahwa populasi agama-agama yang banyak dianut masyarakat Pakpak adalah agama Kristen yang menjadi agama mayoritas di Pakpak ini. Namun, dibanding dengan Katolik jumlah masyarakat Pakpak yang beragama Islam jauh lebih besar dibanding Katolik. Besarnya jumlah agama Kristen tentu saja sangat berkaitan dengan besarnya pengaruh ekspansi misionaris Kristen dalam menyebarluaskan agama Kristen pada masyarakat Pakpak sebagaimana yang banyak disebutkan juga berkaitan dengan adanya kepentingan kolonialisme dalam penyebarluasan agama Kristen tersebut. Namun, berkaitan dengan agama Katolik tidak banyak diketahui proses penetrasi dan perkembangannya di Pakpak.

 

  1. B.     Nenek Moyang

Menelusuri asal usul nenek moyang orang Pakpak—sejauh penelitian ini dilakukan—belum ditemukan penjelasan ilmiah yang memadai tentang siapa sebenarnya nenek moyang masyarakat Pakpak. Sejauh ini, informasi yang didapatkan tentang orang Pakpak umumnya masih dalam bentuk cerita rakyat yang diyakini oleh orang Pakpak kebenarannya, walaupun tentu saja cerita rakyat yang dimaksudkan di sini agak sulit membuktikannya secara ilmiah karena cerita ini bercampur dengan mitos. Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Pakpak sedikitnya ada tiga versi cerita tentang nenek moyang awal orang Pakpak tersebut.

Adanya tiga versi cerita rakyat tentang asal usul nenek moyang masyarakat Pakpak menunjukkan bahwa banyak kemungkinanan tentang asal usul nenek moyang tersebut. Dari ketiga versi cerita rakyat tentang nenek moyang Pakpak ini tidak satu yang dapat dipastikan mendekati kebenaran tentang asal usul nenek moyang masyarakat Pakpak. Sebab, informasi berdasarkan cerita rakyat ini hampir sepenuhnya berisikan tentang mitos-mitos yang agak sulit untuk diterima kebenarannya berdasarkan analisis sejarah, walaupun tentu saja ada cerita yang mungkin paling dekat dengan dugaan asal usul nenek moyang masyarakat Pakpak.

Versi Pertama, certita rakyat tentang asal usul nenek moyang masyarakat berasal dari India Selatan. Menurut cerita rakyat bahwa masyarakat Pakpak berasal dari Assam, sebuah daerah yang ada di India Selatan, selanjutnya masuk ke pedalaman dan berkembang menjadi masyarakat Pakpak. Cerita rakyat tentang asal usul nenek moyang masyarakat Pakpak ini secara lebih rinci disebutkan oleh Mansehat Manik dalam “Silsilah Pakpak dengan Manik Pergetteng-getteng Sengkut dan Hubungannya terhadap Marga-marga Pakpak lainnya”. Manik menulis:

Menjelang tengah malam, hujanpun reda, badai dan topan pun mulai berangsur menghilang serta petir dan kilatpun tak pernah menyambar, guruh da gunturpun tak kedengaran lagi. Bulan pun nampak terang bercahaya menyinari dua sosok manusia yang terapung-apung di tengah lautan Indika tanpa kemudi, tanpa arah tujuan. Sebab, mereka tak tau lagi di mana tongkang mereka pada saat itu, sungguh pun tidak secepat badai saat badai dan topan mengamuk sebelum di mana kini hanya angin sepoi-sepoi yang berhembus.

Mereka dicahayai oleh sinar rembulan di malam itu, keadaan sunyi dan dingin mencekam serta lapar harus ditahan, yah… hampir hilang keseimbangan badan mereka dan jika hilang kesimbangan badan, maka nyawalah taruhannya, mereka akan mati di tengah lautan. Di dalam keadaan mencekam itu, si suami terus menghibur agar si isteri sabar dan dapat bertahan sampai kapan saat indah akan diberikan Ilahi kepada mereka.

Singkatnya… setelah beberapa lama mereka di sana si lelaki menyampaikan usul kepada Lona, agar si Kada pergi ke arah matahari terbit, melihat dan mencari mana tau ada manusia di sana. Tujuannya adalah mencari manusia sebagai kawan dan bila seandainya ada, maka akan pindah kesana nantinya. Demikian lah Kada dan Lona bertempat tinggal menentap di tempat itu, sedangkan mereka selalu mendapat tantangan buasnya alam. Beberapa lama kemudian, Kada dan Lona dianugerahi putra oleh Debata Guru yang diberi nama Hyang yang artinya keramat, maka Hyang menjadi nama keramat bagi suku Pakpak, sampai semuanya disebut punya Hyang.[26]

Berdasarkan versi cerita rakyat yang dikemukan Manik ini menunjukkan bahwa nenek moyang masyarakat Pakpak berasal dari India. Tampaknya, cerita rakyat ini diperkuat dengan adanya jejak Hindu-Budha dalam budaya Pakpak.[27] Berdasarkan adanya dugaan ini menunjukkan bahwa sebelum Islam dan Kristen datang ke Pakpak terlebih dahulu mengenal agama Hindu, yang sangat mungkin sekali berkaitan dengan cerita rakyat tentang asal usul nenek moyang Pakpak yang berasal dari India. Sebab, agama Hindu umumnya berkembang dan menyebar dari India, termasuk juga di Indonesia keseluruhannya.

Terlepas dari bagaimana kebenaran versi pertama asal usul nenek moyang masyarakat Pakpak ini, versi lain ada juga yang menyebutkan bahwa asal usul nenek moyang masyarakat Pakpak berasal dari etnis Batak. Adanya dugaan ini disebabkan adanya kesamaan struktur sosial dan kemiripan marga-marga antara masyarakat Batak dengan masyarakat Pakpak.[28] Tidak hanya itu, menurut Uli Kozok kemiripan Batak dengan Pakpak juga terjadi dalam bahasa, semua dialek bahasa Batak berasal dari satu bahasa purba (proto language) yang sebagian kosa katanya dapat direkonstruksikan.[29] Lebih lanjut, Kozok mengatakan bahwa kelima suku Batak memiliki bahasa yang satu sama lain mempunyai banyak persamaan. Namun demikian, para ahli bahasa membedakan sedikit dua cabang bahasa-bahasa Batak yang perbedaanya begitu besar sehingga tidak memungkinkan adanya komunikasi antara kedua kelompok tersebut. Bahasa Angkola, Mandailing dan Toba membentuk rumpun Selatan. Sedangkan bahasa Karo dan Pakpak-Dairi termasuk rumpun Utara.[30]

Berdasarkan penjelasan yang dikemukan Kozok ini dapat dipahami bahwa sebenarnya Batak dan Pakpak memiliki banyak kemiripan dalam bahasa, maka tentu saja adanya dugaan bahwa asal usul nenek moyang Pakpak berasal dari Batak juga sangat mungkin saja apabila melihat banyak kemiripan antara Batak dengan Pakpak dalam segalanya, termasuk bahasa. Karena memang sangat sulit menolak bahwa Batak dan Pakpak tidak memiliki hubungan sama sekali berdasarkan banyaknya kemiripan yang dimiliki masing-masing suku ini. Sebab, kemiripan dalam bahasa bukanlah kebetulan belaka, tetapi lebih dari pada itu adanya hubungan antar keduanya yang saling mempengaruhi.

Berbeda dengan versi kedua tentang asal usul nenek moyang Pakpak, versi ketiga justeru kebalikan dari versi kedua bahwa diduga Pakpak jauh lebih dahulu ada sebelum Batak, maka walaupun ada kemiripan tentu saja Batak merupakan bagian dari Pakpak. versi ketiga tentang asal usul nenek moyang Pakpak ini diperkuat dengan adanya cerita rakyat Pakpak tentang tiga zaman manusia di Pakpak, yaitu zaman Tuara (manusia raksasa), zaman si Aji (manusia primitif) dan zaman manusia (homo sapien).[31] Versi ketiga ini menunjukkan bahwa berdasarkan cerita rakyat yang berkembang bahwa Pakpak lebih dahulu ada dibanding Batak, sehingga menurut versi ini Pakpak lah yang mempengaruhi Batak.

Berdasarkan tiga versi cerita rakyat yang dikemukan setidaknya menunjukkan bahwa dari ketiga versi yang dikemukan sebelumnya menunjukkan bahwa ketiga versi sebenarnya sangat berkaitan dengan kaitannya apabila dihubungkan dengan asal usul nenek moyang masyarakat Pakpak. Sebab, sangat mungkin juga kalau sebenarnya nenek moyang masyarakat Pakpak berasal dari India, mengingat bahwa Barus sebagai sentral niaga internasional ketika itu, maka sangat mungkin juga kalau ada kemungkin adanya nama-nama yang disebut telah melakukan perjanalan menggunakan kapal yang hingga akhirnya terdampak di Barus dan untuk selanjutnya tinggal di daerah Pakpak seperti yang dikenal sekarang ini.

Sedangkan Pakpak berasal dari etnis Batak Toba juga sangat memungkin menjadi asal usul nenek moyang Pakpak karena mengingat bahwa dari sisi adat dan kultur memiliki kedekatan antara Pakpak dan Batak Toba. Tampaknya, ini juga yang menjadi salah satu alasan para pengkaji Pakpak sebelumnya memasukkan Pakpak sebagai bagian dari etnis Batak karena adanya kedekatan dengan Batak Toba. Kemudian, untuk dipertegas lagi bahwa kedekatan adat dan kultur bukan lah sesuatu yang sangat mungkin terjadi apabila tidak memang memiliki kesamaan dan kedekatan. Sebab, manusia umum cenderung membentuk adat dan kulturnya sendiri masing-masing.

Demikian juga hal dengan versi ketiga cerita rakyat tentang asal usul nenek moyang yang mengatakan kebalikan dari versi kedua bahwa justeru Pakpak lebih dahulu dibanding Batak, yang didasarkan folklor tentang asal usul nenek moyang masyarakat Pakpak. Hampir sama seperti yang dikemukan tentang versi kedua asal usul Pakpak bahwa kedekatan adat dan budaya masyarakat Pakpak dan Batak menjelaskan bahwa keduanya memiliki hubungan atau kedekatan dalam identitas masyarakat karena memang antar keduanya memiliki adat dan kultur yang sulit dibedakan.

Berkaitan dengan asal usul nenek moyang masyarakat Pakpak yang dikemukan penelitian ini tidak dapat menjustifikasi mana dari ketiga versi cerita rakyat tentang asal usul nenek moyang Pakpak yang paling mendekati. Namun, penelitian ini setidaknya menunjukkan bahwa sangat mungkin ketiga versi cerita ini merupakan cerita rakyat yang utuh tentang asal usul nenek moyang Pakpak. Untuk itu, dapat dikemukan bahwa asal usul nenek moyang masyarakat Pakpak sangat berkaitan dengan ketiga versi cerita yang dikemukan.

 

  1. C.    Asal Usul

Sebagaimana hal tentang asal usul nenek moyang Pakpak banyak memiliki versi-versi cerita rakyat, maka asal susul kata Pakpak pun memiliki banyak versi cerita-cerita berasal dari cerita rakyat. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sedikitnya ditemukan ada 3 (tiga) versi cerita rakyat tentang asal usul kata Pakpak, yang mana cerita ini juga kemungkinan benarnya juga masih dapat diperdebatkan. Namun, sejauh penelitian ini dilakukan belum ditemukan adanya informasi yang dapat dipercayai kebenarannya, maka untuk menjelaskan asal usul kata Pakpak digunakan lah versi-versi cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat Pakpak itu sendiri.

Versi pertama tentang asal usul kata Pakpak ini ada yang menyebut berasal dari kata “Pakpak” yang dalam bahasa lokal Pakpak berarti tinggi.[32] Penyebutan kata Pakpak berasal dari kata “Pakpak” yang berarti tinggi jelas menunjukkan bahwa posisi daerah Pakpak berada pada dataran tinggi atau pegunungan mengingat bahwa daerah Pakpak memang berada di daerah pegunungan, maka kata Pakpak berarti tinggi tentu saja dimaksudkan masyarakat umumnya menyebut bahwa daerah tinggi dengan sebutan “Pakpak”. Untuk itu, asal usul nama Pakpak versi ini jelas menunjukkan bahwa Pakpak dengan makna tinggi berkaitan dengan posisi Pakpak yang memang berada di tempat yang tinggi.

Sedangkan versi kedua mengatakan Pakpak berasal dari nama orang yang berasal dari cerita rakyat yang mengatakan bahwa dahulunya ada tiga orang pemuda bersahabat yang berasal dari Aceh Singkil, yang bernama si Gayo, si Karo dan si Pakpak. Menurut ceritanya ini ketiga pemuda ini melakukan perjalanan arah yang berbeda si Gayo memilih jalan mengikuti jalur sungai Kali Alas hingga tiba disebut daerah yang belakangan disebut Gayo, sedangkan si Karo memilih jalan Lae Ulun hingga akhirnya ti di daerah yang belakangan disebut Karo. Adapun si Pakpak memilih jalur mengikuti Lae Renun dan hingga akhirnya sampai di Pegagan Hilir dan menetap di sana yang akhirnya daerah ini disebut dengan nama Pakpak.[33]

Kemudian, selain dari kedua versi yang dikemukan ada juga versi lain yang menyebutkan bahwa Pakpak berasal dari suara yang dihasilkan dari orang yang menebang pohon. Dalam versi cerita ini disebutkan bahwa Pakpak dahulunya merupakan sebuah peladangan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon, maka aktifitas masyarakat ketika itu selain beladang juga menebang pohon untuk dijadikan kayu. Secara ringkas Kerani Berutu menyebutkan:

ada, sebab dulunya, kira-kira tahun 1600 waktu—masih—manusia sama burung-burung, sama jin-jin masih berhubungan dia. Jadi, pada waktu itu Pakpak ini kebetulan beladang-beladang di gunung-gunung, memakai parang-parang. Jadi, parang ini ditebangkan sama kayu-kayu itu… pakpak.. itu makanya termasuk pakpak itu dari peladangan![34]

Berdasarkan versi cerita ini menunjukkan bahwa asal usul kata Pakpak berasal dari suara pohon-pohon yang ditebang sebanarnya agak sulit diterima kebenarannya, terutama kaitannya dengan asal usul kata Pakpak. Sebagaimana hal dengan versi cerita-cerita rakyat yang dikemukan tentu saja belum ada penulusuran yang serius dan mendalam terutama kebenaran cerita-cerita yang berkembang tentang asal usul kata Pakpak tersebut.

Selain itu, itu ada versi lain yang mengatakan bahwa asal usul kata Pakpak berasal dari kata “wakwak” sebuah kawasan yang berada di negeri Abunawas yang sekarang dikenal dengan Irak pada zaman baheula, kata-kata “wak-wak” ini mengalami pergeseran istilah menjadi Pakpak, tetapi versi cerita ini agak sulit diterima karena jejak kemiripan budaya ataupun etnis antara Pakpak dengan Irak sangat tidak berhubungan sama sekali. Terlepas dari kebenaran versi-versi cerita yang telah dikemukan tampaknya yang paling mungkin mendekati kebenaran tentang asal usul Pakpak adalah versi cerita pertama yang menjelaskan bahwa Pakpak berasal dari kata “Pakpak” yang berarti tinggi. Sebab, kenyataan yang ada berkaitan dengan Pakpak yang memang berada di dataran tinggi.

Dengan demikian, berdasarakan penjelasan yang dikemukan tentang asal usul kata Pakpak bahwa semua informasi yang berkaitan dengan hal ini sepenuhnya merupakan cerita rakyat yang berkembang. Namun, sebagaimana yang disebut bahwa dari cerita rakyat ini sendiri terdapat kedekatannya dengan fakta yang ada dalam kenyataannya dengan Pakpak, maka tentu saja kedekatan ini dapat dijadikan sebagai penegasan bahwa asal usul Pakpak berkaitan dengan nama Pakpak yang memang berada pada datan tinggi.[]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENETRASI ISLAM DI PAKPAK

 

  1. D.    Jalur-jalur Islam

            Secara umum dapat disebut bahwa jalur-jalur penetrasi Islam ke Pakpak umumnya melalui jalur niaga yang kemudian diperkuat dengan adanya hubungan pernikahan antara masyarakat pendatang ke Pakpak atau sebaliknya masyarakat Pakpak dengan masyarakat di luarnya. Jalur niaga ini[35] sebagai jalur pentrasi Islam di Pakpak, dapat dipahami bahwa antara Pakpak dengan Aceh dan beberapa daerah lainnya umumnya telah lama terbangun hubungan kontak niaga yang secara langsung ataupun tidak telah memperkenalkan Islam kepada masyarakat Pakpak, baik itu jalur hubungan antar masyarakat Pakpak dengan masyarakat Islam di luar daerah Pakpak.

Sejauh penelitian ini dilakukan, setidaknya ditemukan ada 3 (tiga) jalur penetrasi Islam ke Pakpak, yaitu Aceh, Barus dan Minang. Dari ketiga jalur penetrasi Islam ini dapat disebut jalur Aceh merupakan jalur yang paling besar memberi kontribusi dalam proses penetrasi Islam ke Pakpak. Sebab, Aceh secara geografis memiliki hubungan langsung dengan Pakpak dan memiliki hubungan khusus dalam masalah kepentingan ekonomi, tentu saja interaksi antara keduanya merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari, terutama dalam kaitannya dengan hubungan niaga kedua daerah ini.

Untuk itu, sebagaimana yang telah disebut bahwa kontak ini tidak saja memiliki kepentingan ekonomi, tetapi lebih dari pada itu proses interaksi budaya dan agama juga tidak dapat dihindarkan di dalamnya. Hubungan geografis ini berdasarkan teori perbatasan sangat memungkin untuk terjadinya ekspansi pengaruh satu daerah ke daerah lainnya. Berkaitan dengan ini diduga kuat bahwa Aceh memiliki kepentingan ekspansi Islam ke Pakpak sebagaimana dalam pembahasan selanjutnya akan dijelaskan keterlibatan Aceh dalam proses ekspansi Islam ke Pakpak.

Ketiga jalur yang disebutkan ini secara geografis memiliki hubungan langsung dengan Pakpak, maka tentu saja proses penetrasi Islam ke Pakpak memiliki hubungan khusus dengan ketiga jalur tersebut. Selain itu juga penting ditegaskan bahwa ketiga jalur ini jauh terlebih dahulu berkembang Islam dalam masyarakatnya.[36] Untuk itu, proses penetrasi Islam di Pakpak ini dapat disebut sangat berkaitan dengan teori perbatasan daerah yang menyebabkan antar daerah ini terhubung satu dengan lainnya. Keterhubungan daerah ini jelas memberi pengaruh besar dalam penyebaran Islam di dalamnya karena Islam masuk ke Pakpak juga berdasarkan hasil interaksi antar daerah-daerah ini.

Dalam proses penetrasi Islam ke Pakpak ini dapat disebut bahwa Islam tidak hanya masuk dalam bentuk doktrin, tetapi lebih luas dari pada itu juga tidak bisa dipisahkan pengaruh budaya di dalamnya, terutama di mana Islam itu berkembang dan untuk selanjutnya dikembangkan ke daerah lainnya. Kenyataan yang dikemukan ini sangat mudah dilihat bahwa transformasi budaya Aceh misalnya dapat ditemukan dalam budaya Islam yang berkembang di Pakpak. Sebab, sebagaimana diyakini bahwa Islam yang berkembang di Aceh tidak lah dalam sebuah ruang yang hampa, tetapi melainkan telah bersentuhan dengan budaya-budaya lokal yang ada di dalam masyarakatnya.

Untuk selanjutnya, akan dijelaskan jalur-jalur Islam yang masuk ke Pakpak berdasarkan teori perbatasan yang menjadi landasan penelitian ini dilakukan. Sebab, sebagaimana yang telah dikemukan proses penetrasi Islam di Pakpak sepenuhnya sangat berkaitan dengan perbatasan wilayah yang menjadi penghubung Pakpak dengan dunia di luarnya, maka tentu saja diyakini bahwa perbatasan wilayah memiliki peran yang besar dalam proses penetrasi Islam di daerah-daerah yang berbatasan sebagaimana halnya dengan Pakpak.

  1. Aceh

Jalur Aceh ini dimaksudkan bahwa sejarah Islam di Pakpak secara khusus dan Batak umumnya berasal dari Aceh karena Islam yang bersumber dari Barus berkembang pertama kali ke Aceh. Menurut Jan S. Aritonang ketika ekspansi Kesultanan Aceh ke Simalungun sejak 1539 dalam rangka penyebaran Islam,[37] maka implikasi lainnya adalah proses penetrasi Islam di daerah Pakpak merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses ekspansi yang dilakukan Kesultanan Aceh ini. Selain itu, proses penetrasi Islam lainnya juga setelah masuknya Keresidenan Sumatera Timur, agama Islam dikenal melalui interaksi masyarakat Batak di sana dengan saudara-saudaranya masyarakat Melayu di daerah Langkat, Deli Serdang dan Asahan yang sudah mulai menganut Islam sejak abad ke 13 yang juga sepenuhnya sangat dipengaruhi oleh Islam dari Aceh.[38]

Sebagaimana yang telah dikemukan sebelumnya bahwa Pakpak dengan Aceh memiliki hubungan geografis, yang mana tentunya antar keduanya saling mempengaruhi atau saling membutuhkan dalam banyak hal. Sebab, keduanya merupakan dua daerah yang berbatasan langsung, yaitu Sitelu Tali Urang Jehe (Pakpak) dengan Singkil (Aceh) merupakan dua daerah yang memiliki hubungan kontak sejak lama sekali. Bahkan, dapat disebut bahwa di daerah Sitelu Tali Urang Jehe ini merupakan basis pertama kali Islam masuk ke daerah Pakpak atau hingga sekarang daerah ini dikenal sebagai basis masyarakat Islam yang ada di daerah Pakpak.

Kenyataan yang dikemukan ini dapat dipertegas bahwa Sitelu Tali Urang Jehe merupakan salah satu daerah yang umumnya masyarakat Pakpak yang beragama Islam, yang secara pasti dapat disebut sangat dipengaruhi oleh masyarakat Islam yang ada di Aceh Singkil. Untuk itu, dalam konteks ini, penetrasi Islam ke Pakpak melalui jalur Aceh dapat dilihat berdasarkan kenyataan yang ada di Sitelu Tali Urang Jehe ini hampir dapat disebut sepenuhnya sangat dipengaruhi Islam yang ada di Aceh pada awalnya, sebelum masyarakat Pakpak melakukan kontak dengan daerah lain di luarnya yang lebih jauh sebagaimana yang akan dijelaskan dalam pembahasan berikutnya.

Menurut satu sumber bahwa kontak masyarakat Pakpak dengan Aceh telah terjalin sejak lama, terutama kontak dalam hubungan niaga bahwa masyarakat Pakpak sebagai penghasil kemenyan dan damar dalam upaya memenuhi segala kebutuhannya selalu melakukan perjalanan niaga ke daerah Aceh untuk menukar hasil pertanian kemenyan dan damar dengan segala kebutuhan kehidupan yang dibutuhkan oleh masyarakat Pakpak dalam upaya mempertahankan kehidupannya. Tentang hubungan kontak ini Kerani Berutu mengatakan:

Jadi, setelah itu sebelum datang Belanda zaman penjajahan pas seperti yang kubilang tadi sekitar …. Pakpak ini berubungan ekonomi ke Aceh, pada waktu itu belum ada duit; uang tak ada, cuman tukar-tukar barang, dibawa dari sini kemenyan, damar yang dua macam itu lah.. jadi, sesampainya ke Aceh didagangkan lah ditukarkan dengan garam. Garam datangnya dari sana, garam ini tidak seperti garam sekarang halus, halus dia, tidak pake Cuma ada liter-liternya, satu tumpuk kemenyan entah berapa garam. Ada juga berupa kain-kain itu la ditukar-tukarkan di bawa ke sini![39]

 

Hubungan niaga ini jelas menunjukkan adanya kontak keduanya. Jika demikian, proses saling mempengaruhi dapat dipastikan akan berlangsung dalam perkembangan selanjutnya. Dari hubungan kontak niaga ini jelas memberi implikasi serius dalam kehidupan masyarakat Pakpak, terutama yang berkaitan dengan masalah keagamaan bahwa masyarakat Aceh telah lama memeluk Islam sebagai agama resmi yang dianut oleh masyarakatnya, maka praktek keagamaan tentu menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sebuah masyarakat yang taat dalam menjalankan agama. Tidak hanya itu umumnya masyarakat yang taat beragama juga umumnya meyakini doktrin untuk ikut serta dalam upaya memperluas wilayah Islam atau mengenalkan dan menajarkannya kepada orang lain, maka tentu Pakpak merupakan salah satu sasaran utama penyebaran Islam tersebut mengingat saat itu masyarakat Pakpak belum mengenal Islam. Bahkan, berdasarkan beberapa informasi menyebutkan justeru masyarakat Pakpak saat itu belum mengenal agama resmi.[40]

Dalam kaitan ini, dapat dipastikan sebagai sebuah masyarakat yang taat menjalankan agama, tentu saja dalam proses interaksi yang dilakukan upaya dakwah atau penyebarluasaan ajaran agama yang diyakini merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakatnya, maka dalam tahapan ini dapat dipastikan bahwa masyarakat Aceh telah berupaya memperkenalkan Islam kepada masyarakat Pakpak melalui jalur kontak niaga yang dilakukan dengan berbagai teknis dan pendekatan yang dilakukan sesuai dengan kecenderungan yang dimiliki masing-masing masyarakat. Namun, yang pasti keinginan untuk “mengajak” masyarakat Pakpak ke dalam Islam merupakan bagian dari cita-cita dan keinginan masyarakat Aceh ketika itu ditambah lagi adanya upaya-upaya ekspansi yang resmi dilakukan Kesultanan Aceh dalam memperkenal Islam ke daerah luar Aceh.

Kenyataan yang dikemukan ini dapat diperkuat bahwa ditemukan adanya fakta bahwa sebagian masyarakat Aceh, terutama elit agamanya telah berupaya melakukan proses dakwah ke daerah Pakpak ini, baik itu atas inisiatif sendiri ataupun atas permintaan masyarakat Pakpak itu sendiri yang simpati dengan Islam yang dikenal melalui masyarakat Aceh atau juga adanya keinginan kuat dari kalangan masyarakat Aceh itu sendiri untuk menyebarluaskan ajaran agamanya kepada masyarakat yang belum mengenal Islam. Tampaknya, dalam hal ini, kedua hal, yang disebut ini juga sangat mungkin bersamaan bahwa masyarakat Pakpak yang simpati dengan Islam ingin Islam juga diperkenalkan secara lebih luas ke Pakpak dan masyarakat Aceh sendiri pun ingin mengajarkan Islam kepada masyarakat Pakpak, sehingga terjalinlah kontak agama Islam dengan masyarakat Pakpak.

  1. Barus

Sebagaimana yang telah dikemukan tentang asal usul nenek moyang masyarakat Pakpak yang terdampar di Barus menurut versi cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Pakpak. Kenyataan yang dikemukan ini setidaknya menunjukkan bahwa Pakpak juga punya hubungan kontak dengan Barus dari sejak awalnya, walaupun mungkin saja tidak seintensif dengan Aceh, tetapi hubungan kontak ini dapat dipahami mengingat posisi Barus yang bertetangga di sebelah Selatan daerah Pakpak, maka tentu saja dapat dipastikan akan terbangun hubungan kontak kedua daerah ini, terutama kaitannya dengan hubungan niaga sebagaimana yang dikenal dalam sejarah bahwa Barus merupakan sebagai sebuah pelabuhan internasional tempat singgahnya para niaga dari Eropa dan Timur Tengah.[41]

Posisi Barus sebagai pelabuhan internasional saat tentu saja memberi implikasi tersendiri bagi Pakpak yang mana sebagian besar masyarakatnya bertani kemenyan dan damar. Untuk itu, hubungan kontak Barus dengan Pakpak sebagaimana halnya dengan Aceh juga memberi implikasi tersendiri dengan hubungan kontak dengan masyarakat Islam yang ada di Barus ketika itu. Sebab, sebagaimana yang diakui banyak sejarawan bahwa Barus merupakan jalur pertama kali Islam masuk ke Indonesia yang dibawa para niagawan yang berasal dari India dan Timur Tengah untuk selanjutnya menyebar ke suluruh nusantara. Mengingat begitu pentingnya peran Barus dalam proses islamisasi di Indonesia, maka tentu saja dapat dipastikan bahwa Pakpak yang merupakan tetangga sebelah Selatan Pakpak juga tidak dapat dipisahkan dari pengaruh Barus tersebut.

Namun, sejauh penelitian ini dilakukan, tidak ditemukan adanya data khusus yang menunjukkan bahwa Islam di Pakpak juga berkembang akibat kontak dengan Barus, tetapi sebagaimana yang dikemukan bahwa Barus sebagai sentral penyebaran Islam sangat diduga kuat juga berperan dalam proses islamisasi di Pakpak karena Islam yang ada di Barus menyebar secara luas. Menurut satu sumber menyebutkan bahwa Islam di Barus ini secara langsung berkembang di Aceh dan untuk selanjutnya Islam di Aceh ini lah yang mempengaruhi perkembangan Islam di Pakpak karena Islam di sini telah terinstitusi tidak sebagai halnya di Barus karena pada saat itu konsentrasi di Barus lebih banyak terfokus pada bidang niaga dan penyebarluasaan Islam ke daerah luarnya.

Penting untuk dikemukan di sini, tentang relasi kontak Barus dengan Pakpak ini diperkuat dengan adanya fakta yang menunjukkan bahwa Pakpak merupakan salah satu daerah penghasil kapur barus yang merupakan salah satu jenis perniagaan yang diekspor ke luar Barus. Bahkan, juga sampai ke mancanegara. Hubungan kontak ini dapat dilihat dalam perspektif adanya cerita rakyat tentang tentang Pak Edag-Pak Edong dan Sumbuyak-mbuyak yang menjelaskan bahwa kapur barus berasal dari Pakpak yang dikirim ke Barus untuk selanjutnya diekspor ke luar.

Cerita rakyat tentang Pak Edang Pak Edong ini menurut Tanjung berkaitan tentang cerita tentang perselisihan suami isteri, Tanjung menuliskan:

Suatu hari, merasa suaminya ingkar janji Nan Tartar-Nan Tortor pun minggat dari rumah. Sang suami, Pak-Edag-Pak-Edog, pusing tujuh keliling setelah isterinya raib. Suatu malam ia bermimpi bahwa isterinya bersembunyi di dalam sebatang pohon kapurbarus. Segera ia bertindak. Diambilnya tongkat dan diketoknya setiap pohon kapurbarus yang ia temui di hutan. Benar, Nan Tartar-Nan Tortor ada di dalam pohon. Masalahnya perempuan itu selalu berpindah ke pohon kamper lain saban didekati. Pak-Edag-Pak-Edog tak kenal lelah. Tongkat terus ia pukulkan. Alhasil bunyi ketokan tongkatnya pun menggema di rimba raya: pakpak edag-edog… pakpak edag-edog… pakpak edag-edog… Pendek cerita, hati isterinya kemudian melunak sehingga mereka pulang happy ending. Yang mau dikatakan hikayat ini: sejak bunyi menggema di hutan itulah sebutan “orang Pakpak” diberikan kepada masyarakat yang satu ini yang memang sejak berabad-abad terkenal sebagai pencari ulung kapurbarus.[42]

 

Menurut Tanjung berdasarkan cerita rakyat ini jelas menunjukkan bahwa Pakpak merupakan salah satu penghasil kapur barus ketika itu, yang sangat mungkin dijual ke Barus, tetapi berkaitan dengan cerita rakyat ini Tanjung juga menyebutkan bahwa sebenarnya tanah Pakpak punya kontribusi besar dalam upaya penyediaan kapur barus ke Barus. Namun, sayang sampai sekarang andil ini hampir luput dari catatan sejarah.[43] Berdasarkan kenyataan yang dikemukan, setidaknya menunjukkan bahwa Barus punya peran tersendiri dalam upaya penetrasi dan penyebarluasaan Islam ke Pakpak mengingat bahwa kedua daerah ini telah lama terbangun hubungan kontak, maka Barus sebagai tempat pertamakalinya Islam berkembang tentu saja secara langsung ataupun tidak juga ikut serta dalam upaya memperkenalkan Islam kepada masyarakat Pakpak.

  1. Minangkabau

Jalur Minangkabau ini dimaksudkan adalah bahwa ada dugaan sejarah Islam berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat karena Islam di Minang jauh lebih tua dibanding Islam di daerah Batak.[44] Ada hal menarik yang mungkin penting dikemukan bahwa secara jamak diketahui bahwa Islam pertamakali berkembang dari daerah Barus, tetapi daerah-daerah yang berhubungan langsung dengannya, terutama yang bersentuhan langsung dengan tanah Batak yang merupakan etnis asli masyarakat Barus justeru tidak tersentuhan sama sekali. Kenyataan belakangannya penetrasi Islam ke daerah Batak menunjukkan bahwa Islam yang berkembang di Barus justeru lebih mengambil posisi daerah yang di luarnya.

Sedangkan kaitannya Islam di Minang menjadi jalur perkembangan Islam di Pakpak—sejauh ini—masih berupa dugaan karena sedikit sekali informasi yang menjelaskan tentang hubungan Minang dengan masyarakat Pakpak. Akan tetapi, banyak dugaan menunjukkan bahwa penetrasi Islam di daerah Batak secara umum sebagaimana yang dikemukan juga sangat dipengaruhi oleh Islam yang ada di Minang. Posisi Minang menjadi penting dalam proses penetrasi Islam di Pakpak mengingat hubungan kontak Minang dengan Barus yang memiliki hubungan kedekatan wilayah, maka tentu saja sebagaimana dengan Aceh, Minang juga menjadi tempat penyebaran Islam awal yang bersumber dari Barus.

Mengaitkan Minang sebagai jalur Islam di Pakpak sangat berkaitan dengan Islam yang ada di Batak setidaknya ada 2 (dua) proses penertrasi Islam di daerah ini yang melibatkan orang Minangkabau, yaitu: Pertama, menurut Simanjuntak dalam pengembangan Islam ke tanah Batak, orang Minangkabau yang disebut orang pidari dan diartikan sebagai orang yang berjubah putih, menyerang dalam jumlah ribuan. Tentara Islam itu dipimpin oleh Tuanku Rao dan Si Pongkinangolngola yang diakui oleh orang Batak sebagai bere (kemenakan) Raja Sisingamangaraja X. Si Pongkinangolngola diduga membalas dendam kepada tulangnya (pamannya) karena sakit hati akibat perlakuan tidak manusiawi yang dialaminya dari pamannya itu.[45] Lebih lanjut, menurut Simanjuntak perang paderi berlangsung dua kali, yaitu tahun 1825 sampai 1829 perang pertama, kemudian yang kedua tahun 1830 sampai 1833, mereka banyak membunuh orang Batak karena tidak mau diislamkan. Sebagian ditawan dan dibawa sebagai budak. Sejak perang Paderi, maka agama Islam berkembang di tanah Batak bagian Selatan sampai sekarang. Jadi, masuknya agama tersebut ke tanah Batak disebabkan perang paderi bukan karena hubungan dagang dengan Arab.[46]

Menurut pandangan ini, penetrasi Islam ke daerah Batak, tentu saja termasuk Pakpak di dalamnya telah mengenal Islam pasca perang paderi yang terjadi. Dugaan ini diperkuat bahwa penyebaran tentara paderi mencakup hampir di seluruh daerah tanah Batak, termasuk juga mencakup daerah Pakpak maka pada saat ini lah perkenalan Islam kepada masyarakat Pakpak untuk pertama kali. Perkenalan Islam melalui jalur Minang ini tepatnya lagi melalui jalur perang paderi walaupun ada sangat mungkin sekali tidak memiliki pengaruh signifikan. Sebab, sebagaimana yang dikemukan bahwa jalur perang paderi ini umumnya Islam diperkenalkan dengan cara yang cenderung menampil “wajah” yang keras dan kasar, tetapi secara pasti telah mempernalkan Islam kepada masyarakat Pakpak.

Kedua, menurut Christine Dobbin sejarah Islam di tanah Batak berkaitan dengan peran niagawan Minangkabau,[47] beberapa sumber juga menyebutkan bahwa orang Minangkabau lah yang pertama sekali membuka rumah makan di daerah Pakpak sebagai bentuk aktifitas perniagaan yang dilakukan orang Minang yang sejak dahulu dikenal sebagai peniaga yang banyak terlibat dalam rumah makan. Kenyataan yang dikemukan ini dapat dibuktikan bahwa niagawan Minang sampai saat ini terkenal dengan rumah makannya, yang tidak hanya dikenal di seluruh Indonesia, tetapi juga mencakup mancanegara.

Dalam jalur niaga ini proses islamisasi dilakukan dengan jalan perkawinan antara niagawan Minang dengan perempuan masyarakat Batak yang secara implisit proses islamisasi sudah dilakukan. Berdasarkan penjelasan Dobbin jalur penetrasi Islam melalui jalur niaga masyarakat Minang ini menjelaskan bahwa masyarakat Minang memiliki peran dalam proses islamisasi di Pakpak, terlebih lagi dengan adanya proses pernikahan antara masyarakat Minang dengan masyarakat Pakpak setidaknya memperkuat peran Minang dalam proses islamisasi di Pakpak.

 

  1. E.     Pionir Islam

            Perkembangan Islam di Pakpak tentu saja tidak dapat dilepaskan dari pengaruh pionir-pionir Islam yang telah berjasa mengenalkan dan mengajarkan Islam kepada masyarakat Pakpak. Sebab, para pionir ini tidak hanya berjasa dalam mengislamkan masyarakat Pakpak, tetapi lebih dari pada itu juga pionir ini juga banyak berkorban dalam upaya penyebarluasan Islam dalam masyarakat Pakpak, terutama pengerbanan harta dan tenaga sebagaimana yang akan dijelaskan dalam pembahasan berikut ini.

Para pionir ini umumnya adalah mereka-mereka yang bukan berasal dari daerah Pakpak, hanya satu saja yang ditemukan berasal dari Pakpak, yaitu Abdurrahim Berutu, sedangkan selebihnya berasal dari Aceh dan Medan. Kenyataan yang dikemukan ini setidaknya menunjukkan bahwa di kalangan masyarakat Pakpak memang sangat lah terbatas sekali umat Islam yang dapat menjadi pionir dalam penyebaran Islam.

 

 

  1. Teuku Abdullah

Sejauh penelitian ini, yang mungkin disebut sebagai pionir Islam pertama di Pakpak adalah Teuku Abdullah. Teuku Abdullah ini tidak banyak diketahui tentang asal usulnya, tetapi berdasarkan cerita yang berkembang di kalangan masyarakat Pakpak, khususnya generasi tuanya menyebutkan bahwa Abdullah merupakan tokoh pertama sekali yang secara formal memperkenalkan Islam kepada masyarakat Pakpak. Berdasarkan informasi yang didapatkan Abdullah ini diduga kuat berasal dari Aceh Singkil yang datang ke Pakpak atas permintaan masyarakat Pakpak yang telah kenal dan simpati dengan Islam ketika terjadi hubungan kontak niaga dengan masyarakat Aceh.[48]

Penyematan gelar teuku pada nama Abdullah apabila mengikuti tradisi masyarakat Aceh dapat disebut bahwa beliau ini merupakan seseorang yang memiliki status sosial yang cukup terhormat di kalangan masyarakat Aceh. Sebab, gelar teuku merupakan gelar bangsawan bagi masyarakat Aceh atau setidaknya orang yang dianggap memiliki strata sosial yang terpandang menempati posisi sebagai elit agama. Untuk itu, dapat ditegaskan bahwa Abdullah bukan lah merupakan orang biasa atau awam, melainkan orang yang paham dan mengerti masalah-masalah keagamaan.

Dalam proses mengenalkan Islam kepada masyarakat Pakpak Abdullah tinggal untuk sekian lama di Pakpak, tepatnya menetap di Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu—yang diduga sebagai tempat Islam pertama sekali masuk—berinteraksi dengan masyarakat dengan mengajarkan banyak hal tentang Islam kepada masyarakatnya. Peran Abdullah dalam mengenalkan Islam kepada masyarakat Pakpak ini umumnya tanpa mendapatkan hambatan yang berarti. Sebab, Abdullah dalam proses dakwahnya umumnya menggunakan pendekatan yang lembut. Penting untuk dicatat contoh pendekatan dakwah yang digunakan Abdullah misalnya hanya membatasi hal-hal yang prinsipil saja, seperti dalam hal makanan hanya membatasi pada larangan memakian anjing dan babi, sedangkan selain dari itu masih diperbolehkan.

  1. Teuku Panjang Rambut

Pionir kedua yang dapat disebut sebagai pengembang Islam ke Pakpak adalah Teuku Panjang Rambut. Tidak jauh berbeda dengan Teuku Abdullah, Teuku Panjang Rambut ini juga berasal dari Aceh. Bahkan, ada juga yang menyebut bahwa Panjang Rambut juga berasal dari daerah yang sama dengan Abdullah dan juga memiliki gelar yang sama, yaitu sama-sama teuku sebagaimana yang disebut bahwa gelar ini merupakan sebuah gelar yang cukup prestisius dalam struktur masyarakat Aceh. Tengku Panjang Rambut adalah sebuah gelar yang dinisbahkan kepada Teuku ini karena memang memiliki rambut yang panjang.

Menurut informasi yang didapatkan rambut yang dimiliki Teuku ini tidak dapat dipotong karena kebal terhadap segala bentuk benda tajam, maka akhirnya rambutnya menjadi panjang sehingga akhirnya masyarakat Pakpak memanggilnya dengan sebutan Teuku Panjang Rambut. Menurut Saidup Berutu Teuku Panjang Rambut ini nama aslinya adalah Natar Zainuddin,[49] tetapi nama ini tidak populer di kalangan masyarakat Pakpak, melainkan umumnya masyarakat Pakpak hanya mengenalnya dengan sebutan Teuku Panjang Rambut saja. Teuku ini tidak datang sendirian, melainkan ditemani beberapa orang yang menjadi timnya dalam upaya penyebarluasan Islam di kalangan masyarakat Pakpak.

Agak berbeda dengan Teuku Abdullah, Teuku Panjang Rambut ini memperkenalkan Islam kepada masyarakat Pakpak melalui kanuragan[50] mengingat bahwa masyarakat Pakpak umumnya masih kuat pengaruh supranatural dalam kehidupannya. Tampaknya, menyadari hal ini lah Teuku Panjang Rambut memilih pendekatan kanuragan dalam memperkenalkan Islam kepada masyarakat Pakpak, yang memang memiliki kecenderungan kuat pada masalah-masalah kanuragan yang bisa ditemukan sampai saat ini dalam masyarakat Pakpak. Sebagai contoh yang penting disebut di sini bahwa—menurut informasi yang didaparkan—Teuku Panjang Rambut ini dapat menghilang atau juga bisa di saat yang bersamaan di dua tempat sekaligus.

Pendekatan dakwah melalui kanuragan ini yang digunakan Teuku Panjang Rambut dalam proses penyebarluasan Islam di Pakpak. Menurut keyakinan masyarakat Pakpak seseorang yang mampu melakukan hal-hal yang tidak lazim merupakan seseorang yang disegani dan sekaligus ditakuti. Berdasarkan kemampuan memanfaatkan kanuragan ini Teuku Panjang Rambut menjadi mudah diterima masyarakat Pakpak, yang kemudian selanjutnya mudah menerima dakwahnya.

  1. Abdurrahim Berutu

Pionir ketiga Islam di Pakpak yang penting dicatat adalah Abdurrahim Berutu, ia merupakan satu-satu—sejauh penelitian ini—pionir Islam yang berasal dari masyarakat Pakpak itu sendiri. Abdurrahim Berutu ini awalnya bernama Dehel Berutu, nama ini diganti setelah ia berangkat haji, yang pada masa itu masih menggunakan kapal laut sebagai sarana transfortasi yang dapat menghubungkan masyarakat Indonesia ke Mekah—pada saat itu—dengan durasi lama perjalanan lebih kurang mencapai 4 bulan lamanya.[51]

 

Gambar 4, Abdurrahim Berutu

Sumber: Saidup Berutu

Dalam upaya menyebarluaskan Islam di kalangan masyarakat Pakpak Abdurrahim ini sangat gigih. Bahkan, ia tidak kenal menyerah dan dalam upaya perjuangannya ini hampir saja ia masuk ke dalam bui karena pergerakan dan perjuangan yang dilakukannya dalam upaya memperjuangkan Islam. Berbeda dengan pionir Islam sebelumnya tampaknya Abdurrahim dalam kiprahnya untuk memperkenalkan Islam di kalangan masyarakat Pakpak ia lebih memilih jalur politik sebagai pendekatan perjuangannya untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat Pakpak.

Pendekatan politik dalam memperjuangkan Islam ini setidaknya dapat dilihat dari aktifitas yang dilakukannya dalam memperjuangkan hak-hak umat Islam, serta ditambah lagi kenyataan ketika itu kolonialisme penjajahan Belanda sudah masuk ke daerah Pakpak. Sebagaimana yang diketahui secara jamak bahwa untuk pengalaman tanah Batak penjajah Belanda selain melakukan kolonialisasi juag menyebarluaskan agama Kristen, maka membendung laju penetrasi Kristen di Pakpak ini lah gerakan-gerakan yang dilakukan Abdurrahim dalam memperjuang-kan Islam di Pakpak.

 

 

 

 

Gambar 5, Makan Abdurrahim Berutu

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Berdasarkan catatan yang tertulis dimakannya, Abdurrahim ini wafat pada tahun 1973 dalam usia 103 tahun. Untuk mengenang berbagai aktifitas perjuangan Abdurrahim ini terhadap Islam, maka masyarakat setempatkan menempatkan makamnya di sebelah Masjid Nur Hikmah yang merupakan salah satu masjid yang bersejarah di daerah Pakpak, tepatnya di Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu karena masjid ini merupakan satu-satunya masjid yang tertua yang ada di Pakpak sampai saat ini sebagai saksi perjuangan umat Islam di Pakpak.

  1. Maliddin Maarif Lubis

Tokoh penting lannya yang dapat disebut sebagai pionir Islam di Pakpak adalah Maliddin Maarif Lubis. Malidin ini secara geografis berasal dari Kota Medan yang memiliki militansi dakwah yang sangat luar bisa. Sebab, dalam proyeksi penyebaran Islam di Pakpak ia melibatkan keluarganya, terutama isterinya untuk ikut dan berbaur dengan masyarakat Pakpak. Malidin Maarif Lubis ini adalah merupakan Ketua Yayasan Zending Islam yang beralamat di Jalan Sisingaraja dekat Taman Makan Pahlawan yang tidak hanya terlibat dalam penyebarluasan Islam di kalangan masyarakat Pakpak, tetapi juga memberikan keluasan kepada anak-anak masyarakat Pakpak untuk “nyantri” di yayasan yang ia pimpin.

Menurut Burhanuddin Sitompul sebelum menjabat sebagai Ketua Yayasan Zending Islam, Lubis sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Kepala Penerangan Sumatera Utara.[52] Pengalamannya di birokrasi pada masa pemerintahan orde baru ini tidak membuatnya “betah” untuk hanya duduk di birokrasi, melainkan setelah pensiun dari penerangan ia mengabdikan dirinya kepada masyarakat Pakpak untuk terlibat aktif dalam menyebarluaskan Islam. Sejauh ini, tidak diketahui secara pasti berapa lama Lubis ini berdomisili di Pakpak dalam membangun masyarakat Islam di sana.

Berbeda dengan pionir Islam sebelumnya Lubis justeru melihat bahwa membangun masyarakat harus dilakukan dengan membangun sarana pendidikan bagi masyarakatnya mungkin juga karena memang saat itu masyarakat Islam Pakpak sangat lemah dalam bidang pendidikan. Dalam melaksanakan tugas dakwah ini Lubis dibantu oleh masyarakat setempat membangun madrasah di beberapa titik, terutama yang ada di daerah Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe yang sampai sekarang masih dapat disaksikan madrasah tersebut beroperasi dan sebagian kecil lainnya sudah tidak lagi difungsikan sebagai sekolah.

 

  1. F.     Identitas Islam

Menarik untuk dikemukan di sini bahwa masyarakat Islam di Pakpak secara nominal merupakan bagian dari kelompok yang minoritas, tetapi sejauh penelitian ini dilakukan belum ada ditemukan konflik antar agama yang dapat mengancam kerukunan umat beragam di Pakpak. Kondusifitas keberagamaan di Pakpak ini tentu saja berkaitan dengan entitas masyarakat Pakpak yang sangat kuat dan teguh dalam memegang adat dan budaya leluhurnya, sehingga perbedaan agama tidak lah menjadi penghalang hubungan interaksi masyarakat yang berbeda agama untuk saling menghormati antara satu dengan lainnya.

Jika demikian, tentu saja agama-agama resmi yang dianut masyarakat Pakpak tidak menyebabkan masyarakatnya harus kehilangan adat dan budaya. Pilihan menjadi Islam bagi masyarakat Pakpak tidak harus mesti menjadikan masyarakatnya kehilangan akar adat dan budayanya, tetapi menjadi Islam dalam pandangan masyarakat Pakpak tetaplah menjadi masyarakat Pakpak. Untuk itu, dapat disebut bahwa “wajah” Islam yang asli masyarakat Pakpak adalah wajah Islam yang mampu berakulturasi dengan adat dan budaya lokal. Namun, sebagaimana yang dikemukan bahwa dalam perkembangan kekinian wajah Islam khas Pakpak ini mulai sedikit demi sedikit agak mengalami pergeseran disebabkan kuatnya pengaruh transformasi Islam dari luarnya, terutama yang dikembangkan gerakan-gerakan Islam revivalis yang berkem-bangan belakangan yang akan dijelaskan dalam pembahasan selanjutnya.

Apa yang dikemukan tentang kondusifitas keberagamaan yang ada di dalam masyarakat Pakpak, terutama relasi Islam-Kristen dapat disebut cukup baik. Sebab, dalam relasi Islam-Kristen ini tidak hanya terbangun dalam bentuk hubungan sosial kemanusiaan an sich. Akan tetapi, juga menyentuh pada aspek ritual keagamaan seperti hari raya idul fitri dan natal kedua agama ini dapat “duduk” bersama untuk saling menghargai. Bahkan, tidak itu saja antar umat Islam dan non Islam saling memberikan apresiasi terhadap kegiatan perayaan-perayaan keagamaan seperti ucapan selamat dan berbagi kebahagian dengan pemeluk agama lainnya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Pakpak.[53]

Relasi Islam-Kristen dalam masyarakat Pakpak ini dapat juga dilihat dalam berbagai moment penting sosial kemasyarakat seperti misalnya dalam kenduri 40 hari meninggal,[54] baik itu dari kalangan umat Islam ataupun non Islam umumnya semua masyarakat terlibat di dalamnya, baik itu masyarakat Islam atau non Islam saling berbagi dalam upaya mensukseskan kegiatan tersebut. Bentuk upaya ikut mensukses ini semua masyarakat berpartisipasi dengan memberi kain, ayam, beras, uang dan lainnya yang dianggap sangat dibutuhkan bagi kegiatan yang akan dilaksanakan.

Dalam pandangan masyarakat Pakpak agama (baca: Islam) dan adat sejalan, tidak ada pertentangan sama sekali. Kalau pun seandainya ada tidak lebih hanya persoalan politik yang menyebabkan adanya perbedaan keduanya. Namun, pada hakikatnya keduanya tidak pernah bertentangan sama sekali, maka berdasarkan pandangan ini masyarakat Pakpak mensinegerjikan antar agama dan adat dalam kehidupan. Bahkan, dalam tahapan tertentu sangat sulit membedakan antara agama dan adat. Sebab, keduanya menyatu dalam aktifitas kehidupan masyarakatnya karena sebagaimana yang dikemukan identitas Islam Pakpak adalah Islam yang mampu berakulturasi dengan adat.

Dalam konteks relasi Islam-Kristen ini, dalam moment tertentu dalam masyarakat Pakpak apabila melibatkan makanan biasanya masyarakat non Islam memberikan kekhususan kepada masyarakat Islam untuk dimasak sendiri dari kalangan masyarakat Islam karena masyarakat non Islam mengetahui bahwa masyarakat Islam ada ketentuan-ketentuan tertentu yang menyebabkan tidak boleh makan sembarang karena dalam Islam ada ketentuan khusus tentang makanan yang boleh dan tidak boleh untuk dimakan. Menyadari hal ini masyarakat non Islam memberikan kebebasan kepada masyarakat Islam untuk memasak sendiri apa yang layak dimakan oleh masyarakat Islam sebagai bentuk toleransi dalam hubungan sosial kemasyarakatan.[55]

Bentuk lain yang penting dicatat, dalam kaitannya dengan relasi Islam-Kristen yang menarik adalah bahwa dalam masyarakat Pakpak konversi dari Kristen ke Islam atau sebaliknya dari Islam ke Kristen merupakan sesuatu yang lazim saja terjadi. Konversi agama ini dianggap merupakan hak setiap orang dalam menentukan pilihan dalam beragama. Sejauh ini, konversi agama tidak dianggap menjadi sesuatu penyebab perpecahan antar umat beragama yang ada di dalam masyarakat Pakpak. Sebab, masalah konversi ini biasanya diselesaikan secara adat dengan melibatkan tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh agama sehingga semua hak dan keinginan masyarakat Pakpak dalam menentukan pilihan agamanya dapat terpenuhi sebagaimana seharusnya.[56]

Penyelesaian konversi agama dengan jalan adat setidaknya menegaskan bahwa sampai saat ini dalam masyarakat Pakpak lembaga yang dapat menjadi solusi terhadap permasalahan yang terjadi, sepenuhnya dapat diselesaikan dengan lembaga adat. Sebab, lembaga adat dianggap sebagai lembaga tertinggi dan yang paling netral dalam menentukan kebijakan yang sesuai dengan kondisi masyarakat Pakpak. Untuk itu, tidak mengherankan kalau menjadi sesuatu yang penting bagi masyarakat Pakpak karena adat mampu menjadi mediasi terhadap segala persoalan yang ada dan yang muncul di tengah masyarakat Pakpak.[]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PERKEMBANGAN ISLAM DI PAKPAK

 

  1. A.    Gelombang Pertama: Sejarah Awal Islam

Sejarah awal Islam di Pakpak secara geografis tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan Islam di Aceh, Barus dan Minang. Sebab, Aceh awalnya sebagai merupakan salah satu jalur penghubung utama Pakpak dengan dunia di luarnya di sebelah utaranya dan Barus di sebelah selatannya ketika jalur transportasi ke daerah lainnya belum terhubung, maka tentu saja proses penetrasi Islam di Pakpak tidak dapat dipisahkan dengan Aceh dan Barus sebagai daerah yang lebih dahulu mengenal Islam dibanding daerah lainnya, terutama yang berhubungan langsung dengan Pakpak. Kedua daerah ini telah lama terbangun hubungan kontak perniagaan sebelum masyarakatnya mengenal sistem perniagaan yang menggunakan uang sebagai alat nilai tukar karena memang antara Pakpak dan Aceh dan Barus sama-sama saling ketergantungan dalam hubungan niaga ini.

Dalam hubungan kontak niaga ini dilakukan berdasarkan sistem barter karena pada masa awal kontak ini belum dikenal uang sebagai alat nilai tukar, maka kontak niaga juga dilakukan dengan sistem yang sangat tradisional barter antar barang dengan barang. Hubungan kontak niaga ini umumnya dilakukan oleh para peniaga yang datang dari Pakpak ke Aceh membawa hasil pertanian seperti kemenyan dan damar yang kemudian dibarter dengan garam, kain, tembakau dan aneka barang lainnya yang berasal dari Aceh.[57] Sistem niaga barter yang dilakukan masyarakat Pakpak ini jelas menunjukkan bahwa Pakpak dan Aceh memiliki saling keterhubungan ekonomi antar kedua daerah ini. Namun, tidak ditemukan ada informasi yang menyebutkan kalau Aceh juga sebaliknya melakukan hubungan kontak niaga ke Pakpak karena memang awalnya Aceh menjadi daerah niaga utama masyarakat Pakpak dibanding Barus.

Hubungan kontak niaga ini tentu saja tidak saja memberi implikasi dari sisi ekonomi an sich bagi kedua masyarakat ini, terutama masyarakat Pakpak. Sebab, secara umum dapat disebut bahwa hubungan kontak dengan jalur niaga ini juga—secara langsung atau tidak—untuk pertama kali memperkenalkan masyarakat Pakpak dengan Islam sebagaimana yang dianut masyarakat Aceh saat itu. Sebab, para peniaga yang berasal dari Pakpak ini melakukan kontak dengan masyarakat Aceh yang pada saat itu telah beragama Islam, maka dapat dipastikan kontak ini juga merupakan bagian dari proses perkenalan masyarakat Pakpak kepada Islam sebagaimana yang dianut masyarakat Aceh, yang menjadi iklan utama Islam bagi masyarakat Pakpak.

Berkaitan dengan hubungan kontak niaga dengan Aceh ini dapat disebut untuk pertama kalinya masyarakat Pakpak berkenalan dengan Islam itu sendiri yang dipraktekkan oleh kolega niaga Acehnya masyarakat Pakpak. Namun, perkenalan Islam dalam bentuk praktek masyarakat Aceh tentu saja memberi implikasi tersendiri bagi masyarakat Pakpak tentang Islam, terutama persepsi masyarakat niaga Pakpak tentang Islam. Menurut satu sumber menyebutkan ketika terjadi proses kontak langsung masyarakat Pakpak dengan masyarakat Aceh, masyarakat Pakpak belum mengenal adanya agama formal sebagaimana yang ada dalam masyarakat Aceh. Sebab, masyarakat Pakpak pada saat itu masih menganut sistem kepercayaan lokal yang cenderung besifat animisme.

Namun, dalam beberapa penelitian yang telah dilakukan bahwa sebelum Islam masuk ke daerah Pakpak saat itu telah ada agama resmi Hindu di anut masyarakatnya, tetapi mungkin saja pengaruhnya sebagai agama resmi tidak begitu terlihat dalam masyarakat Pakpak. Adanya jejak agama Hindu dalam masyarakat Pakpak berdasarkan penelitian yang dilakukan Ery Soedewo menemukan bahwa jejak agama Hindu terlihat dalam budaya dan kehidupan masyarakat Pakpak.[58] Namun, sejauh penelitian ini dilakukan tidak diketahui secara pasti bagaimana proses perkembangan agama Hindu dalam masyarakat Pakpak. Akan tetapi, ini juga tampaknya sangat berkaitan dengan kuatnya pengaruh Hindu di nusantara.

Terlepas dari adanya jejak agama Hindu dalam masyarakat Pakpak, dalam kaitannya dengan penyebaran Islam di daerah ini, sebagaimana yang telah dikemukan bahwa pengaruh kontak niaga menjadi proses utama perkembangan Islam di Pakpak. Sebab, kontak niaga tidak hanya berkaitan dengan masalah ekonomi, tetapi juga menjadi penyebab terjadinya transformasi budaya keduanya. Bahkan, tidak itu saja bukti yang sampai saat ini dapat memperkuat kontak kedua daerah ini adalah ditemukan dalam masyarakat Pakpak itu sendiri yang sebagian justeru berdomisili di daerah Subulussalam dan Singkil sebagai bagian dari daerah Aceh dengan tetap mempertahankan budaya Pakpaknya sebagai bukti lain adanya kontak niaga yang berimplikasi pada kontak agama di dalamnya.[59]

Menurut Kerani Berutu bahwa awalnya salah satu kebiasaan masyarakat Pakpak sebelum Islam (baca: orang Aceh) melakukan proses penetrasi dalam kehidupan masyarakat Pakpak yang memperkenalkan Islam, adalah masyarakat Pakpak sering berperang antara satu kampung dengan kampung lainya.[60] Dalam peperangan ini umumnya, kelompok yang kalah akan dibunuh dan anak-anak mereka dijadikan budak yang diperjualbelikan ke Aceh. Ketika melihat terjadi proses perjualbelian anak-anak ini terjadi sikap protes masyarakat Aceh yang berpandangan bahwa manusia tidak boleh diperjualbelikan karena bertentangan dengan agama yang diyakini masyarakat Aceh.

Diduga kuat bahwa sikap protes masyarakat Aceh terhadap praktek jualbeli manusia ini menyebabkan muncul adanya kekhawatiran di kalangan masyarakat Pakpak ketika itu, apabila tidak merespon protes masyarakat Aceh ini akan mengakibatkan terputusnya hubungan kontak niaga dengan masyarakat Aceh, yang tentunya akan dapat mengakibatkan kerugiaan bagi masyarakat Pakpak secara ekonomi dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan kehidupan. Untuk itu, masyarakat Pakpak akhirnya menyetujui untuk melarang praktek jualbeli manusia, serta ditambah lagi adanya kesadaran bagi masyarakat Pakpak bahwa praktek jualbeli manusia merupakan sebuah praktek yang tidak etis dilakukan bertentangan dengan identitas masyarakat Pakpak itu sendiri.

Kemudian, setelah adanya pelarangan terhadap perjualbelian manusia, maka sangat mungkin saja dari pihak yang kalah ada sikap simpati tentang adanya pelarangan perjualbelikan manusia ini untuk mengundang masyarakat Aceh datang ke Pakpak. Berdasarkan suatu sumber disebutkan di sini lah proses awal kontak langsung Islam yang dibawa masyarakat Aceh dengan masyarakat Pakpak, diduga bahwa kontak ini terjadi sekitar pada tahun 1700 yang melibatkan masyarakat Aceh itu sendiri yang datang ke Pakpak dengan misi untuk memperkenalkan dan menyebarluaskan Islam, yaitu salah satu tokoh yang terkenal sebagai pembawa Islam ke Pakpak adalah Tengku Abdullah dalam proses islamisasi masyarakat Pakpak.[61]

Proses awal islamisasi Pakpak ini dapat disebut tidak berjalan secara masal. Sebab, proses islamisasi ini hanya berlangsung pada satu daerah saja yang belakangan dengan kenal dengan nama Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe dan tentu saja adanya kesulitan tersendiri dalam proses islamisasi awal ini berkaitan dengan tradisi yang telah ada di dalam masyarakat Pakpak, yang secara umum sangat kontras dengan keislaman yang berkembang di Aceh saat itu. Maka sangat dimungkin akan menyadari hal tersebut Abdullah sebagai pengembang Islam pertama di Pakpak ini menyadari bahwa proses islamisasi di Pakpak tidak dapat diberlakukan sebagaimana halnya di Aceh. Untuk itu, dalam tahapan ini proses islamisasi hanya dilakukan berdasarkan hal-hal yang prinsip saja tentang masalah pengenalan Tuhan kepada masyarakat Pakpak dan belum menyentuh aspek-aspek lainnya, termasuk juga ritual keagamaan tidak diberlakukan secara kaku.

Menurut Kerani Berutu bahwa salah satu generasi Islam di Pakpak adalah kelompok masyarakat Pakpak yang bermarga Berutu,[62] yang diislamkan langsung oleh Abdullah, tetapi belum dilakukan proses pengkhitanan yang dianggap masyarakat sebagai bentuk ritual yang paling penting dalam proses islamisasi. Sejauh penelitian ini dilakukan, tidak diketahui banyak hal tentang metode atau teknis pengislaman yang dilakukan Abdullah ini. Akan tetapi, diyakini bahwa Abdullah melakukan lebih pada pendekatan mau‘izhah dan kearifan lokal. Sebab, sejauh ini, proses islamisasi yang dilakukan Abdullah ini tidak merusak pada tatanan masyarakat yang telah ada dalam kehidupan masyarakat Pakpak umumnya.

Setelah sekian lama Abdullah tinggal di Pakpak, tidak diketahui secara pasti disebabkan alasan apa akhirnya Abdullah ini memutuskan untuk kembali ke Aceh. Pasca sepeninggal Abdullah proses islamisasi secara langsung dapat disebut mengalami kestagnasian karena tidak ada lagi tokoh pengembang Islam di Pakpak saat itu. Sejauh penelitian ini, dilakukan tidak ditemukan adanya bukti keterlibatan Abdullah dalam proses islamisasi di Pakpak. Namun, dapat dipastikan bahwa nama Abdullah sangat populer di kalangan  masyarakat Islam Pakpak, terutama generasi tuanya sebagai bukti bahwa keterlibatan Abdullah dalam proses islamisasi di Pakpak dapat diakui kebenarannya.

Pasca sepeninggal Abdullah diduga sekitar tahun 1800 baru lah terjadi proses islamisasi besar-besaran di Pakpak yang diduga merupakan kolega dakwah Abdullah yang dikenal dengan laqab Tengku Panjang Rambut datang ke Pakpak dan melakukan proses islamisai dan pengkhitanan bagi masyarakat Pakpak.[63] Proses islamisasi ini dilakukan sedikit lebih intensif dibanding proses islamisasi yang dilakukan Abdullah karena pada masa ini di Pakpak sudah ada komunitas masyarakat yang beragama Islam. Tampaknya, menyadari hal ini dalam proses selanjutnya islamisasi ini dilakukan tidak hanya menyentuh pada wilayah ketuhanan saja, tetapi lebih dari pada itu juga diperkenalkan segala bentuk sistem ajaran Islam, termasuk dalam relasi antar sesama umat Islam dan ini lah diduga menyebarluaskan Islam di Pakpak sampai saat ini dan sekaligus sebagai identitas Islam Pakpak yang mampu mengakulturasi kebudayaan lokal dalam keberagamaan.

 

  1. B.     Gelombang Kedua: Kontak dengan Kota Medan

Perkembangan Islam di Pakpak setelah terbangunnya hubungan kontak dengan Kota Medan memberi pengaruh besar dalam proses islamisasi di Pakpak, walaupun sebagaimana yang telah dikemukan bahwa penetrasi Islam pertamakali berasal dari jalur Aceh, Barus dan Minang untuk perkembangan selanjutnya Kota Medan memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Islam di Pakpak selanjutnya. Kontak Islam Pakpak dengan Kota Medan sebenarnya memiliki hubungan kontak yang sudah cukup lama sekali, terutama dengan adanya dugaan bahwa penetrasi Islam di Pakpak juga memiliki hubungan kontak dengan Kesultanan Deli, tetapi informasi tentang keterlibatan Kesultanan Deli hanya sebatas dugaan tidak ditemukan adanya bukti untuk menjelaskan keterlibatan tersebut.

Dalam perkembangan selanjutnya, setelah proses Islam awal untuk selanjutnya perkembangan Islam di Pakpak, Kota Medan memiliki peran dalam proses perkembangan Islam di Pakpak selanjutnya. Keterlibatan Kota Medan dalam perkembangan Islam di Pakpak dapat dipahami bahwa di Kota Medan telah banyak lahir dan tumbuh organisasi-organisasi keagamaan yang secara organisatoris menjadikan dakwah sebagai bagian dari perjuangannya, terutama dakwah di daerah-daerah Islam minoritas. Sebab, daerah minoritas dianggap sebagai “lahan” dakwah yang paling tepat dalam upaya penyebarluasan Islam berdasarkan adanya pemahaman dari doktrin ajaran Islam sebagai agama dakwah yang harus disebarluaskan, terutama bagi masyarakat yang belum memeluk agama resmi.

Dalam proses pengembangan Islam yang dilakukan organisasi-organisasi Islam di Pakpak setidaknya ditemukan dalam dua bentuk, yaitu keterlibatan langsung organisasi Islam, terutama para pengurusnya dalam proses penyebaran Islam melalui dakwah kepada masyarakat Pakpak dan adanya upaya rekrutmen anak-anak masyarakat Islam Pakpak untuk diberikan pendidikan agama yang dibawa ke Kota Medan. Menurut Saidup Berutu bahwa proses pengembangan Islam yang melibatkan orang-orang langsung adalah yang dilakukan Maliddin Maarif Lubis sebagai Ketua Yayasan Panti Asuhan Zending Islam, terutama pimpinannya yang terlibat langsung dengan membawa serta keluarganya untuk tinggal bersama masyarakat hidup membaur untuk sekian lama waktunya.[64]

Dalam proses pengembangan Islam yang dilakukan Zending Islam ini tidak hanya melakukan dakwah bagi masyarakat Pakpak, tetapi juga berupaya membangun lembaga-lembaga pendidikan Islam yang sampai sekarang lembaga pendidikan tersebut masih beroperasi dan salah satu di antaranya telah menjadi lembaga pendidikan negeri. Tujuan lembaga-lembaga pendidikan ini tentu saja dimaksudkan untuk supaya anak-anak masyarakat Islam di Pakpak dapat mendapatkan pendidikan agama sebagaimana mestinya dan sekaligus juga untuk memperkuat pengaruh Islam di daerah Pakpak. Karena memang lembaga-lembaga pendidikan memiliki peran tersendiri dalam upaya penguatan agama bagi masyarakat yang di lingkungan lembaga pendidikan tersebut, terutama peserta didiknya.

Untuk menjalankan proses pendidikan ini didatangkan lah guru-guru yang berasal dari Zending Islam di Kota Medan, maka saat itu perkembangan Islam di Pakpak menjadi lebih tersebar dari sebelumnya. Guru-guru ini secara lebih intensif akhirnya banyak yang menikah di daerah Pakpak ini dengan gadis-gadis Pakpak, sehingga dapat dipastikan bahwa ketika terjadi proses pembauran melalui perkawinan tentu besar pula upaya pengembangan Islam di Pakpak.[65] Selain itu, tercatat juga selain dari Zending Islam ada juga guru-guru yang datang dari daerah Barus yang mengabdikan dirinya di Pakpak ini yang juga ikut serta dalam proses penyebarluasan Islam di dalam masyarakat Pakpak.

Kemudian, sebagaimana yang dikemukan perkembangan Islam di Pakpak, khususnya setelah terbangunnya hubungan kontak dengan Kota Medan peran organisasi-organisasi Islam cukup signifikan dalam proses penyebarluasan Islam di Pakpak. Organisasi-organisasi keagamaan ini, khususnya yang memiliki panti asuhan seperti Al-Washliyah; Panti Asuhan Al-Jam’iyatul Al-Washliyah Jalan Ismiliyah, Muhammadiyah; Panti Asuhan Putera Jalan Amaliun dan Ittihadiyah; Panti Asuhan Mamiyai Jalan Bromo memprioritaskan anak-anak masyarakat Pakpak untuk disekolahkan di Medan, di bawah panti asuhan yang ada dalam naungan organisasi keagamaan tersebut.[66]

Secara umum anak-anak masyarakat Pakpak yang didik panti asuhan ini dimulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTA) atau Madrasah Aliyah (MA). Dalam proses pendidikan yang dilakukan panti asuhan dilakukan bersadasarkan pada kecenderungan ideologi organisasi keagamaan organisasi tersebut. Sebab, umumnya organisasi keagamaan memiliki ideologi keagamaan tersendiri, di antara ideologi keagamaan, termasuk juga ritual keagamaan yang cukup kontras adalah antara Al-Washliyah dengan Muhammadiyah karena kedua organisasi ini dapat disebut sebagai bentuk repsentasi dari perwakilan apa yang disebut Deliar Noer sebagai kelompok tua (the older faction) (Al-Washliyah termasuk juga Ittihadiyah) dan kelompok muda (the younger faction) (Muhammadiyah).[67]

Dalam upaya penyebaran Islam yang dilakukan organisasi-organisasi keagamaan ini sangat mungkin sekali bahwa sebenarnya ada juga kontestasi antar organisasi-organisasi keagamaan yang datang ke Pakpak, mengingat bahwa setiap organisasi tetap saja mempromosikan ideologi organisasinya dalam proses penyebar-luasan Islam di Pakpak. Kenyataan ini dapat dilihat bahwa masjid-masjid yang ada di Pakpak, walaupun tidak keseluruhannya, tetapi sebagian dari di antaranya adalah merupakan masjid-masjid yang didirikan oleh organisasi-organisasi keagamaan seperti masjid Taqwa yang didirikan Muhammadiyah yang secara ideologis jelas dipengaruhi oleh ideologi organisasi keagamaan itu, maka sangat besar kemungkinan bahwa selain dari proses penyebarluasan dakwah bahwa organiasi keagaman ini juga menyebarluskan ideologi organisasinya.

Penting untuk ditegaskan bahwa walaupun organisasi-organisasi keagamaan ini berbeda ideologi, tetapi secara pasti dapat disebut bahwa pendidikan agama merupakan bagian dari prioritas yang diberikan panti asuhan organisasi keagamaan ini. Dalam perkembangan selanjutnya, setelah anak-anak masyarakat Pakpak ini kembali ke kampung halamannya umumnya akan membawa ideologi organisasi keagamaan tempat ia didik sebagai corak keislamannya. Tampaknya, selain dari adanya upaya proses islamisasi dari organisasi-organisasi keagamaan ini semua organisasi ini memiliki pengaruh tersendiri dalam masyarakat Islam Pakpak. Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya semua organisasi ini memiliki organisasi-organisasi perwakilan di daerah Pakpak sampai saat ini dan organisasi ini juga yang membentuk corak keislaman masyarakat Pakpak sebagai bentuk lain dari adanya penyebarluasaan ideologi organisasi dalam penyebarluasan dakwah yang dilakukan organisasi-organiasi keagamaan tersebut.

 

  1. C.    Gelombang Ketiga: Perkembangan Belakangan

Gelombang ketiga perkembangan Islam di Pakpak merupakan perkembangan mutakhir tentang Islam yang ada di Pakpak, yang tentunya sangat berbeda dengan ketika penetrasi Islam, baik itu gelombang pertama ataupun gelombang kedua. Perbedaan yang dapat disebut adalah bahwa perkembangan gelombang ketiga Islam di Pakpak jauh lebih baik dari sebelumnya. Sebab, perkembangan Islam gelombang ketiga ini justeru umumnya “dimainkan” oleh masyarakat Pakpak itu sendiri dalam proses perkembangan Islam selanjutnya. Kenyataan yang dikemukan ini tentu saja menunjukkan bahwa masyarakat Pakpak sudah memahami Islam secara mapan.

Perkembangan Islam mutakhir di Pakpak ini dapat disebut dimulai dari proses pengiriman ulang anak-anak masyarakat Pakpak yang setelah pendidikan di panti-panti asuhan yang ada di Kota Medan, walaupun tentu saja tidak semua anak-anak masyarakat Pakpak ini kembali ke kampung halamannya, ada sebagian yang tetap bertahan di Kota Medan atau daerah lainnya.[68] Penting dikemukakan di sini bahwa anak-anak masyarakat Pakpak yang kembali ke Pakpak memiliki peran tersendiri dalam proses pengembangan Islam selanjutnya di Pakpak. Sebab, anak-anak masyarakat Pakpak yang “nyantri” di Kota Medan umumnya memiliki peran tersendiri di masyarakat, terutama yang berkaitan dengan masalah keagamaan.

Peran anak-anak masyarakat Pakpak ini umumnya menempati posisi strategis dalam menyebarluasan Islam karena mereka ada yang menjadi ustaz, guru agama di Pakpak dan bidang profesi lainnya, yang secara langsung atau tidak memiliki hubungan dengan Islam maka tentu saja kenyataan yang dikemukan ini menjelaskan bahwa dalam perkembangan ini Islam telah disebarluaskan oleh masyarakat Pakpak itu sendiri.[69] Selain itu, mereka ini juga memiliki hubungan kontak dengan di Pakpak sehingga memungkin peran yang mereka lakukan semakin baik dan Pakpak sendiri menerima segala yang berkembang, termasuk media cetak ataupun elektronik semakin memperkokoh posisi Islam di Pakpak dalam perkembangan selanjutnya.

Dalam perkembangan ini Islam di Pakpak tidak lagi sepenuhnya “bergantung” pada masyarakat Pakpak yang telah menjadi elit agama, tetapi juga sebagaimana disebut bahwa media punya peran tersendiri dalam penyebaluasaan Islam di tengah-tengah masyarakat. Peran media ini sangat penting dalam perkembangan Islam di Pakpak, terutama media masa atau media elektronik seperti TV dan radio. Bahkan, belakangan internet juga memiliki pengaruh yang tidak kalah pentingnya dalam pengembangan Islam di dalam masyarakat. Banyaknya informasi masuk ke Pakpak tentu saja bukan tanpa konsekuensi karena informasi ini tidak sepenuhnya relevan dengan Islam di Pakpak, ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Islam Pakpak, termasuk juga kesiapan diri masyarakat dalam mengaktualisasikan diri dalam kemajuan tersebut.

Perkembangan Islam belakangan di Pakpak dapat disebut menunjukkan arah yang signifikan berdasarkan dalam artian perkembangan sebagai sebuah agama resmi. Kenyataan ini dapat dipertegas berdasarkan jumlah masjid yang ada, khususnya di daerah Kecamatan Setellu Tali Urang Jehe sedikitnya dalam catatan Pemerintah Kabupaten Pakpak tahun 2008 ada sebanyak 22 buah masjid dan 5 mushalla dengan total keseluruhannya yang ada di Kecamatan Pakpak sebanyak 68 masjid dan 12 mushalla,[70] dan dapat dipastikan bahwa angka tersebut terus mengalami penambahan pada tahun-tahun berikutnya berdasarkan perkembangan Islam di Pakpak. Berdasarkan jumlah masjid dan mushalla yang ada di Pakpak dapat ditegaskan bahwa Islam di Pakpak dari sisi pelaksanaan keagamaan dapat disebut mendapatkan kebebasan dan didapat berdampingan dengan agama Kristen yang dianut mayoritas masyarakat Pakpak.

Seiring perkembangan yang terus belangsung, “warna Islam” pun yang masuk ke Pakpak tidak lagi satu “warna”, tetapi justeru “warna-warni”. Warna Islam yang dimaksud di sini bahwa banyaknya gerakan revivalis Islam meminjam istilah Charles Kurzman merupakan sebuah konsekuensi yang harus diterima dari banyaknya informasi dan transformasi yang baru. Sejauh penelitian ini dilakukan, bahwa Islam di Pakpak untuk belakangan ini juga banyak dipengaruhi oleh kelompok-kelompok revivalis seperti Jamaah Tabligh dan Salafi yang secara antusias berupaya mempekenalkan ideologinya pada masyarakatnya. Kelompok revivalis ini tentu saja sangat kontras dengan “wajah Islam” yang ada di Pakpak sebelumnya, yaitu Islam yang mampu berakulturasi dengan kebudayaan masyarakat Pakpak sebagaimana yang dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya tentang identitas Islam Pakpak.

 

Gambar 6, Jamaah Tabligh di Pakpak

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Sejauh penelitian ini, tidak diketahui secara pasti bagaimana proses penetrasi gerakan-gerakan Islam revivalis ini masuk ke Pakpak, tetapi tampaknya ini sangat berkaitannya dengan mudahnya sarana transportasi dan komunikasi yang menghubungkan Pakpak dengan Medan ataupun Aceh, maka diduga kuat bahwa penetrasi kelompok ini juga disebabkan terbukanya segala informasi yang ada, atau juga ada kemungkinan sebagian dari masyarakat Pakpak yang transmigran ke berbagai daerah setelah berkenalan dengan gerakan Islam ini di daerah lain, akhirnya membawa doktrin dan gerakan Islam ini ke Pakpak, atau juga sangat mungkin kelompok-kelompok ini memang menjadikan Pakpak sebagai target penyebarluasan ideologinya.

Menarik untuk dikemukan di sini bahwa di antara gerakan-gerakan Islam revivalis ini terjadi semacam kontestasi pengaruh dan upaya perekrutmenan jamaah sebanyak-banyaknya. Kontestasi ini sangat berkaitan dengan ideologi gerakan Islam ini yang memang secara jelas menunjukkan bahwa penyebarannya dengan mengumpul jamaah sebanyak-banyaknya. Dalam proses penyebarluasan jaringan ini gerakan Islam revivalis, terutama jamaah tablig dengan jamaah salafi saling berebut pengaruh, jamaah dan masjid. Perebutan masjid yang terjadi sepenuhnya sangat berkaitan dengan keinginan penyebarluasan jaringan kelompok gerakan Islam ini di daerah Pakpak khususnya.

Terlepas dari bagaimana kontestasi yang terjadi di kalangan gerakan Islam yang ada di Pakpak kenyataan yang dikemukan ini menegaskan bahwa Islam berkembangan belakangan terus terjadi peningkatan dari sisi populasi banyaknya pemeluk Islam setiap tahunnya. Perkembangan Islam yang terjadi di Pakpak di sisi lainnya juga menegaskan bahwa masyarakat Islam di Pakpak juga merupakan sebagai sebuah komunitas masyarakat yang terus mengalami perkembangan, maka tentu saja perubahan pada perkembangan cara berislam juga merupakan suatu konsekuensi yang tidak bisa dihindari dari apa yang ada dan terjadi di dalam sebuah masyarakat.

Berdasarkan penjelasan yang dikemukan bahwa sebenarnya penterasi Islam dengan “wajah” warna-warni yang berkembangan belakangan di Pakpak tentu saja merupakan bukan lah merupakan identitas asli Islam Pakpak. sebab, Islam yang asli Pakpak adalah Islam yang mampu berakulturasi dengan adat yang diyakini dan dipegang teguh oleh masyarakatnya, yang secara jelas sangat kontras dengan Islam yang dibawa oleh kelompok-kelompok revivalis yang masuk ke dalam masyarakat Pakpak.

Untuk itu, dapat ditegaskan bahwa Islam di Pakpak telah melalui tiga gelombang, maka tentu saja Islam di Pakpak ini merupakan sebuah identitas yang tidak hanya merupakan sebuah identitas masyarakat, tetapi lebih dari pada itu sesautu yang menyatu dalam kehidupan masyarakatnya. Dalam perkembangan Islam di Pakpak, dapat disebut justeru perkembangan Islam belakangan sangat kontras dengan wajah asli Islam Pakpak sebagaimana yang diekspresikan gerakan-gerakan Islam revivalis.

Perkembangan mutakhir tentang Islam di Pakpak dapat juga dilihat berdasarkan catatan Kabupaten Pakpak Bharat dalam Angka 2012, yang secara singkat menjelaskan tentang lembaga-lembaga pendidikan yang dibawah naungan Kementerian Agama pada tahun 2011, yang umumnya merupakan pendidikan madrasah dari tingkat dasar, pertengan dan atas. Pengungkapan lembaga-lembaga pendidikan, khususnya yang berbasis madrasah setidaknya dapat menjelaskan bagaimana perkembangan pendidikan Islam di daerah Pakpak tersebut.

Menurut catatan Kabupaten Pakpak Bharat dalam Angka 2012, menjelaskan bahwa jumlah madrasah yang ada di Kabupaten Pakpak hanya ….. madrasah. Jumlah madrasah ini menunjukkan sebuah angka yang relatif kecil apabila dibanding di daerah lainnya. Sebab, sebuah kabupaten hanya memiliki … madrasah. Kenyataan yang dikemukan ini jelas sangat berkaitan dengan kondisi masyarakat Islam yang ada di daerah ini merupakan sebagai masyarakat yang minoritas, maka konsekuensinya adalah tentu saja lembaga-lembaga pendidikan agama juga sangat minim sekali.

Secara terperinci dapat dijelaskan bahwa lembaga pendidikan dasar seperti Madrasah Ibtidaiyah dari 8 kecamatan yang ada di Kabupaten Pakpak hanya terdapat pada 4 kecamatan saja, yaitu di Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe sebanyak 51 buah, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu 13 buah, Kecamatan Pergetteng-getteng sebanyak 15 buah dan Kecamatan Kerajaan juga sebanyak 17 buah.[71] Penyebaran Madrasah Ibtidaiyah diempat kecamatan ini setidaknya juga menegaskan bahwa masyarakat Islam juga menempati empat kecamatan tersebut, walaupun tentu saja jumlahnya tidak signifikan dalam pengembangan sebuah masyarakat.

Sedangkan pada jenjang pendidikan lanjutan, Madrasah Tsanawiyah di Pakpak tercatat hanya ada 4 madrasah saja, yaitu tersebar di Kecamatan Salak 1 buah, Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe 2 buah dan di Kecamatan Kerajaan 1 buah. Angka yang lebih rendah lagi juga ditemukan pada jenjang pendidikan atasnya, Madrasah Aliyahnya, yaitu hanya berjumlah 1 buah madrasah dengan jumlah murid sebanyak 47 orang dengan guru 15 orang.[72] Berdasarkan pemaparan data tentang lembaga pendidikan madrasah ini dapat dipahami bahwa pendidikan madrasah sangatlah minim jumlahnya, yang sekaligus juga menegaskan bahwa umat Islam memang sangat minoritas di daerah ini.

Selain itu, data lain yang dapat menjelaskan tentang kondisi umat Islam di Pakpak, yaitu bahwa berdasarkan catatan Pakpak dalam angka 2012 disebutkan bahwa jumlah jamaah yang berangkat haji dari kalangan masyarakat Islam Pakpak hanya berjumlah 5 orang yang disebut meningkat dari tahun sebelumnya berjumlah 2 orang.[73] Rendahnya jamaah haji yang berasal dari Pakpak ini dapat dipahami sangat berkaitan—selain jumlahnya yang minoritas—berkaitan dengan masih rendahnya kesadaran keagamaan di kalangan masyarakat Pakpak, maka dalam pelaksanaan ibadah haji juga jumlahnya sangat terbatas, serta ditambah lagi bahwa pelaksanaan ibadah haji membutuhkan biaya besar, yang tidak semua dimiliki masyarakat Islam Pakpak.

Dalam perkembangan Islam belakangan di Pakpak tampaknya organisasi juga memiliki peran tersendiri dalam penyebaran Islam di Pakpak, terutama organisasi keagamaan yang berbasis masyarakat Pakpak, baik itu yang berasal dari daerah Pakpak itu sendiri ataupun juga organisasi yang dibentuk di luar Pakpak, tetapi mengatasnamakan keagamaan seperti misalnya di Kota Medan dikenal sedikitnya ada dua organisasi berbasis keagamaan yang melibatkan masyarakat Pakpak seperti misalnya di kalangan mahasiswa ada Ikatan Mahasiswa Muslim Dairi Pakpak (IMMUDA) dan untuk generasi tuanya ada Majelis Taklim Pakpak Kota Medan.

Kedua organisasi yang disebut ini, baik secara langsung ataupun tidak memiliki peran tersendiri bagi Islam di Pakpak. Sebab, organisasi menjadi penghubung Islam yang ada di Pakpak dengan masyarakat Islam Pakpak yang ada di luar Pakpak, khususnya Kota Medan. Organisasi Mahasiswa yang dikemukan selain sebagai wadah untuk perkumpulnya mahasiswa Pakpak juga menjadikan dakwah sebagian dari agenda utamanya, maka tentu saja Pakpak sendiri sebagai basis organisasi ini menjadi target utama dalam penyebarluasan dakwah yang dilakukan.

Organisasi Majelis Taklim Pakpak Kota Medan ini sebenarnya merupakan pengajian kelompok klan Ujung-Beru dan Bre-bre yang telah dikukuhkan sejak tahun 2003 dan telah memiliki keaggotaan mencakup Kota Medan dan Wilayah Deli Serdang sekitarnya dengan agenda pengajian setiap awal bulan. Kegiatan Majelis ini memang sejauh ini masih hanya berkaitan dengan masalah pengajian an sich, tetapi lebih dari pada itu Majelis ini juga menjadi penghubung informasi-informasi yang ada di Kota Medan ke Pakpak.

Sejauh ini Majelis ini dijadikan sebagai media silaturrahmi antar sesama masyarakat yang berasal dari Pakpak, yang tentu saja isu-isu keagamaan tidak dapat dilepaskan di dalamnya. Selain itu, organisasi Majelis ini juga diyakini sebagai bagian dari peningkatan wawasan keagamaan masyarakat Pakpak yang ada di Kota Medan dan sekitarnya. Selain dari organisasi-organisasi yang dikemukan Kementerian Agama sebagai lembaga resmi pemerintah yang mengurusi masalah keagamaan juga memiliki peran tersendiri dalam upaya peningkatan Islam di Pakpak.

Peran Kementerian Agama ini umumnya dilakukan secara organisatoris dalam membina masyarakat Islam yang ada di Pakpak dengan berbagai kegiatan keagamaan yang dilakukan. Sejauh ini Kementerian Agama banyak melakukan kegiatan yang berhubungan dengan Islam seperti misalnya pelatihan dan penyuluhan sosialisasi tata cara pendaftaran haji dan banyak kegitan lainnya yang sejauh penelitian ini dilakukan belum terakumulasi. Kemudian, Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Pakpak juga menjadi lembaga yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Islam di Pakpak. Sebab, lembaga ini memang secara khusus menjadikan Islam sebagai agenda utamanya, terutama dalam bidang pendidikan dan pelatihan.

 

  1. D.    Analisis

Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukan sebelumnya dapat dipahami bahwa sejarah dan perkembangan Islam di Pakpak sedikitnya telah melewati tiga gelombang Islam, yaitu gelombang pertama sejarah awal Islam, gelombang kedua kontak dengan Medan dan gelombang ketiga perkembangan mutakhir Islam di Pakpak. Menarik dikemukan di sini dari ketiga gelombang Islam yang berkembang di Pakpak justeru perkembagan belakangan yang sangat sangat kontras dengan wajah asli Islam Pakpak. sebab, perkembangan belakangan Islam masuk ke Pakpak adalah wajah Islam yang merupakan hasil transformasi dari luar Pakpak.

Untuk itu, perkembangan belakangan merupakan sebuah konsekuensi yang tidak dapat dihindari dari sebuah masyarakat yang terus mengalami perkembangan, maka berkaitan dengan hal ini tentu saja dibutuhkan sikap yang atif bagi masyarakat Pakpak terhadap perkembangan Islam belakangan ini. Sebab, Islam yang berkembangan, terutama yang dibawa kelompok-kelompok revivalis Islam tidak hanya kontras dengan identitas Islam Pakpak, tetapi lebih dari pada itu juga memberi implikasi tersendiri dalam upaya mewujudkan Islam yang sesuai dengan identitas Pakpak itu sendiri.

Berdasarkan hal ini, tentu saja sikap yang paling tepat dilakukan untuk menjaga kesinambungan Islam di Pakpak dengan tetap menjaga keaslian Islam yang mampu berakulturasi dengan adat yang ada di dalam masyarakat. Kenyataan yang dikemukan ini tentu saja Islam versi Pakpak sangat berbeda dengan Islam yang berkembangan belakangan dibawa kelompok-kelompok revivalis, maka apabila hal ini tidak sedini mungkin diatasi tentu saja wajah-wajah baru Islam justeru akan menjadi penyebab munculnya keretakan Islam di Pakpak, yang akan menjadi sejarah baru baruknya relasi Islam-Kristen di Pakpak.

Untuk peningkatan pada upaya menjaga adat sebagai sistem nilai merupakan sebagai sesuatu hal yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Pakpak. Sebab, adata—termasuk juga lembaga adat—sejauh ini bukan hanya mempu membangun utuhan masyarakat Pakpak, tetapi lebih dari pada itu juga menjadi alat perekat hubungan antar sesama masyarakat Pakpak, walaupun perbedaan agama yang dianut masyarakatnya tidak menjadikan hubungan tersebut menjadi terhalangi. Hal ini semakin dipertegas bahwa kearifan lokal menjadi sesuatu yang sampai saat ini dianggap sebagai sebuah warisan yang harus diturunkan secara turun temurun dalam upaya menjaga identitas diri.

Sebagaimana halnya sebuah entitas masyarakat yang berbeda dari sisi agama tetap saja sangat rawan pada upaya pemanfaatan isu untuk kepentingan yang tentu saja tidak pernah direstui agama itu sendiri. Berdasarkan kenyataan ini sebagaimana yang ditemukan dalam penelitian ini bahwa kontestasi kepentingan tetap saja merupakan sesuatu yang selalu mengemuka, terutama hubungan dengan relasi antar agama. Oleh sebab itu, kearifan dari elit agama merupakan sesuatu yang mutlak dalam menjaga kondusifitas keberagamaan yang ada di tengah-tengah masyarakat Pakpak karena tanpa itu dapat saja agama dimanfaatkan pihak-pihak tertentu.

Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukan penting untuk ditegaskan bahwa Islam Pakpak merupakan sebagai sebuah identitas Islam yang mampu menyeimbangkan kepentingan adat dengan budaya. Untuk itu, upaya yang lebih serius dalam membangun masyarakat-masyarakat berbasis kearifan lokal merupakan sebuah keniscayaan di tengah-tengah rawannya agama dijadikan sebagai alat untuk memunculkan konflik, maka dengan menjaga tradisi yang ada sebelumnya merupakan bagian yang sangat penting dalam mewujudkan kehidupan yang benar-benar mampu menciptakan kebaikan bersama.[]

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukan sebelumnya, maka untuk melengkapi penelitian ini akan diberikan beberapa kesimpulan yang menjadi jawaban terhadap apa saja pertanyaan penelitian yang telah diajukan diawal yang sekilgus juga merupakan temuan hasil penelitian ini.

  1. Penelitian ini menemukan bahwa asal usul nenek moyang masyarakat Pakpak sedikitnya ada 3 (tiga) berdasarkan versi-versi cerita rakyat yang berkembanga. Versi pertama menyebutkan bahwa asal usul nenek moyang masyarakat Pakpak berasal dari India Selatan yang terdampar di daerah Barus dan untuk selanjutnya melakukan perjalanan hingga sampai sebuah daerah yang belakangan dikenal dengan Pakpak. Versi kedua menyebutkan asal usul nenek moyang masyarakat Pakpak berasal dari etnis Batak karena keduanya memiliki struktur sosial dan marga-marga yang hampir sama dan versi ketiga menjelaskan bahwa asal usul nenek moyang masyarakat Batak berasal dari etnis Pakpak dengan dugaan yang sama dengan versi kedua cerita rakyat bahwa antara Pakpak dengan Batas memiliki banyak kesamaan dari segi adat dan budaya, maka kuat dugaan keduanya saling mempengaruhi.
  2. Penelitian ini menemukan bahwa proses penetrasi awal Islam di Pakpak memiliki 3 (tiga) jalur, yaitu jalur Aceh, jalur Barus dan jalur Minang. Penetrasi Islam jalur Aceh karena berbatasan langsung di sebelah baratnya yang sejak lama telah terbangun hubungan kontak niaga antar keduanya, maka saat yang bersamaan dapat dipastikan kontak Islam yang dianut masyarakat Aceh juga ikut diperkenalkan ke Pakpak, serta ditambah lagi adanya misi khusus masyarakat Aceh dalam proyeksi islamisasi ke Pakpak. Sedangkan jalur Barus—sebagaimana Aceh—juga berbatasan langsung di sebelah selatannya juga memiliki hubungan kontak niaga. Untuk itu, sebagaimana diketahui secara jamak bahwa Barus menjadi sentral penting dalam proses islamisasi yang ada di Indonesia, maka pengaruh Islam dari Barus juga dapat dipastikan memberi implikasi kepada masyarakat Pakpak. Adapun jalur Minang diduga bahwa ketika perang paderi terjadi hampir mencakup seluruh wilayah tanah Batak dan diduga juga termasuk Pakpak di dalamnya. Selain itu juga ada dugaan bahwa para niagawan perantau Minang memberi pengaruh dalam memperkenalkan Islam ke Pakpak melalui jalur rumah makan dan proses asimilasi perkawinan dengan gadis-gadis Pakpak.
  3. Penelitian ini menemukan setidaknya ada 3 (tiga) gelombang perkembangan Islam di Pakpak, yaitu gelombang pertama adalah gelombang penetrasi awal Islam ke Pakpak melalui jalur Aceh, Baru dan Minang. Gelombang pertama ini Islam berkembang sangat masif dalam masyarakat Pakpak karena masih dalam bentuk yang perkenalan. Bahkan, pernah juga mengalami kestagnasian disebabkan pengembang Islam kembali ke Aceh. Kemudian, gelombang kedua Islam melalui kontak dengan Kota Medan yang tidak hanya melibatkan para penyebar Islam, tetapi juga pada gelombang kedua ini telah ada upaya pembangunan masyarakat Islam melalui jalur pendidikan dan pengiriman anak-anak masyarakat Islam Pakpak ke panti-panti asuhan yang dibawah asuhan organisasi-organisasi keagamaan seperti Al-Washliyah, Muhammadiyah dan Itithadiyah. Selanjutnya, gelombang ketiga perkembangan Islam mutakhir diawali dari kembalinya sebagian anak-anak Pakpak yang “menyantri” di panti-panti asuhan organiasi keagamaan ke Pakpak dan mereka menduduki posisi penting dalam upaya penyebarluasan Islam di Pakpak, selain itu media masa dan eletronik juga memiliki peran signifikan dalam proses penyebarluasan Islam di Pakpak, serta terakhir ditemukan banyaknya gerakan-gerakan Islam revivalis seperti jamaah tabligh dan salafi juga terlibat dalam upaya penyeberluasaan Islam di daerah ini, walaupun tentu saja ideologi keagamaan masing-masing lebih mengemuka dibading dakwah Islamnya.

 

  1. B.     Saran-saran

Untuk melengkapi kesimpulan yang telah dikemukan di awal, maka berikut ini akan diberikan beberapa saran-saran yang dianggap penting dan berkaitan dengan temuan-temuan penelitian.

  1. Kepada Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat untuk memberikan perhatian pada masalah keagamaan yang ada di daerah ini. Sebab, berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa banyaknya informasi yang masuk dan berkembang ke Pakpak sangat memberi implikasi terhadap munculnya gerakan-gerakan yang tidak hanya kontas terhadap masalah kesatuan masyarakat, tetapi juga dapat mengarah pada sesuatu yang sangat bertentangan dengan kesatuan bangsa dan negara. Untuk itu, pemerintah juga harus terlibat dalam upaya memperhatikan perkembangan-perkembangan mutakhir yang terjadi di masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan masalah keagamaan.
  2. Kepada masyarakat Islam Pakpak berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan, bahwa dalam perkembangan mutakhir banyak sekali gerakan-gerakan revivalis masuk ke Pakpak, yang mana gerakan ini sangat kontras dengan identitas Islam masyarakat Pakpak yang mampu mengakumulasi adat dan budaya dalam kehidupan masyarakatnya. Untuk itu, mewaspadai gerakan-gerakan keagamaan yang dapat menggeser posisi Islam khas Pakpak sangat memberi pengaruh pada keamanan dan kenyamanan masyarakat yang telah mapan terbangun dalam satu ikatan adat dan budaya masyarakatnya.
  3. Kepada penelitian dan pengkaji daerah Islam minoritas sangat menarik kalau penelitian selanjutnya diarahkan bagaiaman proses penetrasi dan perkembangan gerakan Islam revivalis di komunitas Islam minoritas tersebut. Sebab, berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa gerakan-gerakan ini tidak hanya berkembang di kota-kota besar, tetapi juga telah berkembang secara luas di daerah-daerah Islam minoritas.[]

 

 

 

 

 


[1]Menurut pengkaji Pakpak umumnya memasukkan etnis ini sebagai bagian etnis Batak, walaupun etnik Pakpak sendiri. Ery Soedewo, “Jejak Keindiaan (Hindu-Buddha) dalam Kebudayaan Pakpak”, dalam Berkala Sangkhakala, vol. xiii no. 26, September 2010, h. 41-42

[2]Menurut Baharuddin Aritonang kebudayaan Islam masuk ke dalam kehidupan orang Batak umumnya berasal dari Minang, bukan hanya dari segi kuliner, tetapi juga partuturon. Baharuddin Aritonang, Orang Batak Berpuasa (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2007), h. 87.

[3]J. Boangmanalu, Peny., Preases Pdt. Cyrellus Simanjuntak: Pendidik, Misionaris dan Motivator (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), h. 407.

[4]Merisdawati Limbong, “Migrasi Orang Batak Toba di Sidikalang (1964-1985)” (Skripsi: Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara, 2010), h. 10.

[5]Menurut Daniel Perret sebagian besar penduduk sekitar Barus adalah orang Batak yang berasal dari daerah Toba, di sebelah Barat dan Selatan Danau Toba, hanya sebagian kecil orang Batak Toba tetap pada kepercayaan tradisional atau beragama Islam, sedangkan sebagian besar lainnya memeluk agama Kristen secara bertahap, terutama agama Protestan sejak kedatangan misi Jerman bernama Rheinishe Missionsgesellshaft pada tahun 1961. Kegiatan misi ini dilanjutkan oleh gereja-gereka lokal dan yang terbesar di antaranya HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Daniel Perret, “Kuburan Batak Modern dari Daerah Barus”, dalam Claude Guillot, peny., Lobu Tua: Sejarah Awal Barus (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001), h. 197.

[6]J. Boangmanalu, Preases Pdt. Cyrellus Simanjuntak, h. 407-408.

[7]Flores Tanjung, et.al, Dairi dalam Kilatan Sejarah (Medan: Perdana Publishing, 2011), h. 14.

[8]Ery Soedewo, Situs dan objek arkeologi di Kabupaten Pakpak Bharat dan Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara (Medan: Balai Arkeologi Medan, 2009), h. 12.

[9]Baskoro Daru Tjahjono, “Memimpikan Meseum yang Menarik Pengunjung”, dalam dalam Berkala Sangkhakala, vol. xiii, no 26, September 2010, h. 183.

[10]Bungaran Antonius Simanjuntak, Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945: Suatu Pendekatan Antropologi Budaya dan Politik (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006), h. 43.

[11]Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indoensia (Jakarta: Balai Pustaka, 1986), h. 23.

[12]Suffri Jusuf, Hubungan Internasional dan Politik Luar Negeri: Sebuah Analisis Teoritis dan Uraian tentang Pelaksanaanya (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1989), h. 11.

[13]Nicholas J. Spyman, The Geography of the Peace (New York: Harcourt Brace, 1944), h. 37-38.

[14]Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia (Jakarta: Gunung Mulia, 2004), h. 103.

[15]Nugroho Nitisusanto, Masalah penelitian Sejarah Kontemporer: Suatu Pengalaman (Jakarta: Yayasan Idayu, 1978), h. 36.

[16]Istilah “99 tikungan” ini dimaksudkan untuk menjelaskan banyaknya tikungan yang dilalui untuk sampai ke Pakpak. Sejauh penelitian dilakukan tidak diketahui secara pasti berapa jumlah sebenarnya tikungan yang dilalui menuju Pakpak, tetapi dapat dipahami bahwa penyebutan “99 tikungan” jelas sebagai penegasan banyaknya tikungan yang dilalui.

[17]Penyebutan orang yang berdomisili di Kota Medan dimaksudkan bahwa di Kota Medan tidak ditemukan adanya pemandangan sebagaimana yang ditemukan jalan menuju Pakpak. Sebab, di Kota Medan hanya ditemukan gedung-gedung perkantoran dan perumahan tidak sebagaimana jalan yang dilalui untuk sampai ke Pakpak, maka tentu saja orang yang berdomisili di Kota Medan akan mendapatkan suasana yang berbeda dengan apa yang didapatkan di Kota Medan dengan jalan yang dilalui untuk sampai ke Pakpak.

[18]Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik, peny., Pakpak Bharat dalam Angka: in Figure (Pakpak Bharat: BPS Kabupaten Pakpak Bharat, 2012), h. 1.

[19]Ibid.,

[20]Menurut penelitian Claude Guillot dan Ludvik Kalus di Barus ini banyak ditemukan inskripsi Islam yang tertua (atau satu dari kedua yang tertua) di Nusantara karena dapat ditentukan berasal dari abad ke 10 atau 11. Banyak artefak lain (piring besar dengan inskripsi Kufi serta berbagai wadah dari kaca, dari keramik dan dari batu) membuktikan adanya hubungan erat antara Barus dan Timur Tengah. Claude Guillot dan Ludvik Kalus, “Batu Nisan Hamzah Fansuri” dalam Claude Guillot dan Ludvik Kalus, Inskripsi Islam Tertua di Indonesia (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan Ecole Francaise d’Extrem Orien dan Forum Jakarta-Paris, 2008), h. 90.

[21]Dada Meuraxa, Sejarah Masuknya Islam di Bandar Barus, Sumatera Utara: Lobu Tuo, Fansur Barus lebih dahulu dari Sriwijaya, Lemuri, Perlak, Pasai dan Majapahit (Medan: Sasterawan, 1973), h. 6.

[22]Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik, peny., Pakpak Bharat dalam Angka, h. 2.

[23]Wawancara dengan Mansur Berutu Tanggal 01 September 2012 di Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat.

[24]Ibid.,

[25]Pakpak Bharat dalam Angka, h. 19.

[26]Mansehat Manik, Silsilah Pakpak dengan Manik Pergetteng-getteng Sengkut dan Hubungannya terhadap Marga-marga Pakpak lainnya (Medan: Penerbit Mitra Medan, 2010), h.6-26.

[27]Ery Soedewo, “Jejak Keindiaan (Hindu-Buddha) dalam Kebudayaan Pakpak”, dalam Berkala Sangkhakala, vol. xiii no. 26, September 2010, h. 41.

[28]Mariana Makmur, et.al., Aspek-aspek Kultural Etnis Pakpak: Suatu Ekspolari tentang Potensi Lokal (Medan: Monoro, 2002), h. 2.

[29]Uli Kozok, Warisan Leluhur: Sastra Lama dan Aksara Batak (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 1999), h. 14.

[30]Ibid.,

[31]Makmur, et.al, Aspek-aspek Kultural Etnis Pakpak, h. 2.

[32]Flores Tanjung, et.al, Dairi dalam Kilatan Sejarah (Medan: Perdana Publishing, 2011), h. 11.

[33]Ibid.,

[34]Wawancara dengan Kerani Berutu Tanggal 01 September 2012 di Pakpak Bharat.

[35]Menurut catatan Ahmad M. Sewang bahwa sejak abad XVI hampir semua jalur perdagangan dikuasai oleh pedagang muslim, seperti pesisir Sumatra, pesisir utara Pulau Jawa. Berdasarkan hal ini penyebaran Islam melalui jalur niaga merupakan proses penetrasi yang paling kuat pengaruhnya dalam proses islamisasi di daerah-daerah yang dikunjungi niagawan muslim. Ahmad M. Sewang, Islamisasi Kejaraan Gowa: Abad XVI sampai XVII (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005), h. 109.

[36]Sentral utama Islam bersumber dari Barus kemudian untuk selanjutnya berkembang ke Aceh dan selanjutnya masuk ke Minang. Berdasarkan hal ini sebagaimana yang disebut Soekmono ada kesan bahwa daerah Batak yang merupakan bagian dari Barus sendiri terkesan dilampaui, maka tidak mengherankan kalau Islam di Batak justeru belakangan masuk dibanding daerah lainnya. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, vol. 3 (Yogyakarta: Kanisius, 1973), h. 48.

[37]Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia (Jakarta: Gunung Mulia, 2004), h. 103.

[38]Ibid., 103.

[39]Wawancara dengan Kerani Berutu Tanggal 01 September 2012 di Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat.

[40]Ibid.,

[41]Claude Guillot, Lobu Tua: Sejarah Awal Barus (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001), h.4.

[42]Flores Tanjung, et.al, Dairi dalam Kilatan Sejarah (Medan: Perdana Publishing, 2011), h. 15.

[43]Ibid.,

[44]Th. van den End, Harta dalam Bejana: Sejarah Ringkas Gereja (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), h. 268.

[45]Bungaran Antonius Simanjuntak, Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945: Suatu Pendekatan Antropologi Budaya dan Politik (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006), h. 44.

[46]Simanjuntak, Struktur Sosial, h. 44-45.

[47]Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra 1784-1847 (London: Curzon Press, 1987), h. 21.

[48]Wawancara dengan Kerani Berutu Tanggal 01 September 2012 di Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Pakpak Bharat.

[49]Wawancara dengan Saidup Berutu Tanggal 01 September 2012 Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat.

[50]Kanuragan adalah ilmu untuk beladiri secara supranatural. Ilmu ini mencakup kemampuan bertahan terhadap serangan dan kemampuan untuk menyerang dengan kekuatan luar biasa. Dalam tradisi Islam Indonesia kanuragan ini sangat dikenal di kalangan masyarakat NU, khususnya pesantren. Hairus Salim, Kelompok Paramiliter NU (Yogyakarta: LKiS, 2004), h. 88.

[51]Martin van Brunnessan mencatat bahwa naik haji menggunakan jasa kapal laut ini terus berlangsung sekitar akhir abad ke 19 dan awal abd 20. Martin van Bruinessan, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1995), h. 18.

[52]Wawancara dengan Burhanuddin Sitompul (Alumni Zending Islam) Tanggal 05 November 2012 di Medan.

[53]Wawancara dengan Zainal Arifin Berutu Tanggal 01 September 2012 di Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat.

[54]Menurut Madchan Anies acara tahlilan juga sering disebut kenduri. Agaknya, istilah ini berasal dari kata-kata yang diucapkan oleh imam tahlil ketika mengantar atau meng-alamatkan bacaan tahlil dengan memulai membaca al-Fatihah, yaitu kata ila hadhrati ruh yang artinya pahala bacaan ini diperuntukkan kepada arwah…. Mengantar bacaan tahlil dengan kata-kata tersebut juga dinamakan meng-hadhari yang dalam ucapan orang awam menjadi “kandorohi” dan dari kata-kata ini rupanya ucapan berubah menjadi “kenduri”. Madchan Anies, Tahlil dan Kenduri: Tradisi Santri dan Kiai (Yogyakarta: LKiS, 2009), h. 4.

[55]Wawancara dengan Zainal Arifin Berutu Tanggal 01 September 2012 di Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat.

[56]Ibid.,

[57]Flores Tanjung, et.al, Dairi dalam Kilatan Sejarah (Medan: Perdana Publishing, 2011), h. 14.

[58]Ery Soedewo, “Jejak Keindiaan (Hindu-Buddha) dalam Kebudayaan Pakpak”, dalam Berkala Sangkhakala, vol. xiii no. 26, September 2010, h. 41-42.

[59]Lister Berutu dan Nurbani Padang, Tradisi dan Perubahan: Konteks Masyarakat Pakpak (Medan: Grasindo Monoratama 2006), h. 4.

[60]Wawancara dengan Kerani Berutu Tanggal 01 September 2012 di Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat.

[61]Ibid.,

[62]Menurut Kerani Berutu asal usul marga Berutu berasal dari berutu sejenis penyakit kulit yang berbentuk berutu yang kemudian selanjutnya dijadikan sebagai marga oleh masyarakat Pakpak. Ibid.,

[63]Ibid.,

[64]Wawancara dengan Saidup Berutu Tanggal 01 September 2012 di Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat.

[65]Wawancara dengan Burhanuddin Sitompul (Alumni Zending Islam) Tanggal 05 November 2012 di Medan.

[66]Ibid.,

[67]Deliar Noer, The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942 (Singapore: Oxford University Press, 1973), h. 6-7.

[68]Wawancara dengan Burhanuddin Sitompul (Alumni Zending Islam) Tanggal 05 November 2012 di Medan.

[69]Ibid.,

[70]Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik, peny., Pakpak Bharat dalam Angka: in Figure (Pakpak Bharat: BPS Kabupaten Pakpak Bharat, 2012), h. 61-62

[71]Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik, peny., Pakpak Bharat dalam Angka: in Figure (Pakpak Bharat: BPS Kabupaten Pakpak Bharat, 2012), h. 54.

[72]Ibid., h. 84.

[73]Ibid., h. 62.

Pengaruh Komunikasi Massa Terhadap Budaya Masyarakat

Posted on

Pengaruh Komunikasi Massa Terhadap Budaya Masyarakat

(dalam Pendekatan Cultural Studies)

 

Oleh: Muhammad Husni Ritonga

 

Abstrak

            Cultural studies adalah gagasan Karl Marx yang berpandangan kapitalisme telah menciptakan kelompok elit yang berkuasa untuk melakukan eksploitasi terhadap kelompok yang tidak berkuasa dan lemah. Pengaruh kontrol kelompok berkuasa terhadap yang lemah menjadikan kelompok yang lemah merasa tidak memiliki kontrol atas masa depan mereka. Teori cultural studies mememiliki landasan bahwa manusia, komunikasi, masyarakat dan budaya saling berpengaruh satu sama lain yang disebut dengan teori logika depedensi.  Teori ini ingin menjelaskan bagaimana keempat hal tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi. Konsep cultural studies menurut Morison dapat dipahami dari beberapa aspek, di antaranya adalah Pertama, Ideologi budaya, Kedua, Hegemoni Kebudayaan; Ketiga, Struktur kekuasaan; dan Keempat, Decoding informasi.

 

Kata Kunci: Cultural Studies dan Komunikasi Massa

 

A.    Pendahuluan

I

stilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris “communication” berasal dari kata latin “communication”, dan bersumber dari kata “communis” yang berarti sama. Sama di sini  maksudnya adalah sama makna. Menurut Carl I. Hovland, ilmu komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap. Secara terminologi komunikasi adalah … is the whole process used to reach other minds (seluruh proses yang dipergunakan untuk mencapai pikiran-pikiran orang lain).[1] Dalam Longman Dictionary of Contemporary English memberikan defenisi kata “communicate” sebagai .. to make opinios, information etc, known or understood by others (upaya untuk membuat pendapat, menyatakan perasaan, menyampaikan informasi dan sebagainya agar diketahui atau dipahami oleh orang lain).

              Perkembangan masyarakat yang dipacu oleh kemajuan teknologi komunikasi yang semakin canggih menunjukkan pengaruh yang kuat terhadap perkembangan media massa, tetapi di lain pihak secara timbal balik ini menimbulkan dampak yang teramat kuat pula terhadap masyarakat. Para pakar komunikasi mengkhawatirkan pengaruh media massa ini bukan menimbulkan dampak yang positif konstruktif, melainkan yang negatif destruktif. Karena dengan adanya media massa dunia ini teramat kecil, masyarakat dapat berkomunikasi, melihat dan mendapatkan informasi dari lintas budaya yang berbeda. Tulisan ini akan menjelaskan apa pengertian cultural studies, bagaimana pengaruh komunikasi massa terhadap masyarakat dan budaya, apa teori komunikasi massa dalam kajian cultural studies serta bagaimana komunikasi lintas budaya dalam pembangun.

  1. B.     Pengertian Cultural Studies

            Cultural berasal dari bahasa Latin “colere” berarti mengolah, mengerjakan, yaitu mengolah tanah atau bertani.[2] Sedang dalam bahasa Indonesia cultural diartikan dengan kebudayaan maka cultural studies dapat dipahami tentang studi tentang kebudayaan. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kebudayaan diartikan “sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat, kegiatan usaha batin, akal dan sebagainya”.[3] Menurut Sutan Takdir Ali Syahbana dalam bukunya “Antropologi Baru” mengatakan bahwa,  kebudayaan adalah seluruh yang kompleks, yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan seluruh kecakapan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.[4]

Sedangkan menurut Lary A. Samovar dan Richard E. Porter kebudayaan adalah sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan, ruang, konsep alam semesta objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok.[5] Tidak jauh berbeda dengan pengertian ini menurut Clifford Geertz kebudayaan itu adalah “merupakan sistem mengenai konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk simbolik, yang dengan cara ini manusia dapat berkomunikasi, melestarikan dan mengembangkan pengetahuan dan sikapnya terhadap kehidupan”.[6]

            Menurut Geertz kebudayaan adalah ekspresi simbolik individu dan kelompok, pemosisian kebudayaan sebagai sistem simbol ini mengandung empat persoalan penting  yang kemudian menjadi dasar agumen untuk melakukan hubungan komunikasi terhadap sesama manusia. Pertama, tentang batas-batas dari ruang budaya yang mempengaruhi pembentukan simbol dan makna yang ditransmisikan secara historis tersebut. Berbagai bentuk ekspresi kebudayaan dalam konteks ini berada dalam satu wilayah kebudayaan yang batas-batasnya mengalami suatu pergeseran yang dinamis; Kedua, batasan-batasan dari kebudayaan tersebut yang menentukan kontruksi makna dipengaruhi hubungan kekuasaan yang melibatkan sejumlah aktor. Dalam hal ini dibangun—bahkan diubah dalam—suatu ruang dengan serangkaian pilihan nilai dan kepentingan yang dimiliki masing-masing aktor atau agen dengan tingkat kekuasaan yang berbeda; Ketiga, pola hubungan kekuasaan ini kemudian mengejewantah dalam identitas kelompok dan kelembagaan, yang menjadikan realitas objektif dan menentukan cara pandang antar kelompok; Keempat, identitas yang terbentuk melalui serangkaian simbol selain diterima juga menjadi objek pembicaraan, perdebatan dan gugatan  yang menegaskan perubahan  yang mendasar dalam batasan batasan kebudayaan.

            Dengan demikian, kebudyaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengarahkan segenap potensi batin yang dimilikinya. Di dalam kebudayaan tersebut terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istiadat dan sebagainya. Kesemuanya itu—selanjutnya—digunakan sebagai kerangka acuan  atau blue print oleh seseorang dalam menjawab berbagai masalah yang dihadapinya. Kebudayaan juga tampil sebagai pranata yang secara terus menerus dipelihara oleh para pembentuknya dan generasi selanjutnya yang diwarisi kebudayaan tersebut.

Kebudayaan terlihat dalam pola-pola bahasa dan dalam bentuk-bentuk kegiatan dan perilaku yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan-tindakan penyesuaian diri, dan gaya komunikasi yang memungkinkan orang-orang tinggal dalam suatu masyarakat di suatu lingkungan geografis tertentu pada suatu tingkat perkembangan teknis tertentu dan pada suatu saat tertentu. Kebudayaan juga berkaitan dengan sifat-sifat dari objek-objek materi yang memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Kebudayaan meliputi semua bentuk perilaku yang diterima selama suatu periode kehidupan. Bahkan, kebudayaan kita secara pasti mempengaruhi kita sejak dalam kandungan hingga meninggal dunia, dan setelah matipun kita dikuburkan dengan cara-cara yang sesuai dengan kebudayaan kita, maka pantaslah jika kebudayaan itu dikatakan mencakup semua karsa, rasa dan cipta manusia.

  1. C.    Teori Komunikasi Massa dalam Cultural Studies

            Pada dasarnya, Cultural studies mememiliki landasan bahwa manusia, komunikasi, masyarakat dan budaya saling berpengaruh satu sama lain yang disebut dengan teori logika depedensi.  Teori ini menjelaskan bagaimana keempat hal tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi.  Teori cultural studies pertama kali diperkenalkan oleh Honggart dan Raimond Williem pada tahun  1950-an yang meneliti para pekerja di Inggris pasca perang dunia kedua. Selanjutnya, dikembangkan secara mendalam oleh Stuart Hall, ia mengatakan media adalah instrumen kekuasaan kelompok elit yang berfungsi menyampaikan pemikiran kelompok yang mendominasi masyarakat, terlepas dari apakah pemikiran itu efektif atau tidak. Sebagai instrumen kelompok elit yang berkuasa, media bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan dan untuk tetap memegang kontrol terhadap masyarakat. Di sisi lain, masyarakat yang merupakan kelompok yang tidak berkuasa hanya menerima pemikiran dan pengaruh media atas diri mereka.[7]

            Menurut Morison konsep cultural studies dapat dipahami dari beberapa aspek di antaranya. Pertama, Ideologi budaya, melalui pendekatan budaya penganut paham cultural studies sepakat bahwa budaya adalah kumpulan makna-makna. Masyarakat adalah subjek yang menciptakan makna tersebut secara aktif dan terus menerus. Pamaknaan simbol-simbol tersebut selalu berbeda. Karena perbedaan tersebut terjadi perbedaan pemaknaan terhadap simbol atau perang budaya. Perbedaan terjadi ketika sebuah sistem budaya menginginkan pemaknaan “A” pada simbol “A” sementara budaya lain menginginkan makna “A” adalah “B”. Budaya yang berhasil menanamkan makna lebih dalam menjadi budaya pemenang dan pengontrol masyarakat. Akhirnya, ketika ia menjadi satu satunya ideologi budaya yang menjadi sandaran masyarakat maka terjadilah imperialisme kebudaya. Kedua, Hegemoni Kebudayaan, istilah hegemoni berasal dari bahasa Yunani, hegeisthai (to lead?). Konsep hegemoni banyak digunakan oleh sosiolog untuk menjelaskan fenomena terjadinya usaha untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa. Penguasa di sini memiliki arti luas, tidak hanya terbatas pada penguasa negara (pemerintah), tetapi hegemoni juga bisa didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya—dengan atau—tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar (common sense).[8]

            Hegemoni adalah konsep yang mewakili pengaruh, kekuasaan atau dominasi kelompok sosial tertentu atas kelompok lainnya. Hegemoni budaya berarti kontrol sebuah kelompok atas kelompok lainnya melalui budaya.[9] Hegemoni budaya dicontohkan pada masa dulu istri hanya berada di dapur, sumur dan kasur (pekerja domestik) dan suami harus mencari nafkah (pablik). Sedangkan sekarang ideologi tersebut telah berubah di mana para istri banyak yang memilih pekerja publik dan suami pekerja domestik untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarga.  Hegemoni dalam kasus ini terjadi ketika ideologi tersebut berhasil mengontrol dan menguasai perilaku masyarakat, di mana para istri benar-benar berada di rumah. Karena manusia secara aktif memberikan pemaknaan terhadap simbol-simbol budaya dan persaingan budaya terus menerus terjadi, hegemoni budaya bersifat berubah-ubah.

Ketiga, Struktur kekuasaan, teori cultural studies ini memandang manusia merupakan bagian dari kekuasaan. Setiap orang merupakan bagian kekuasaan pada tingkat yang berbeda. Kompetisi dalam perebutan kekuasaan seringkali terjadi untuk menentukan makna. Umumnya yang menang adalah kelompok yang berada di puncak hirarki sosial, yaitu media. Dalam hal ini, media menentukan apa makna dari berbagai simbol, masyarakat—cenderung hanya—menerima makna-makna tersebut.

Keempat, Decoding, ketika pesan dikirimkan kepada masyarakat, maka ia akan menerima dan membandingkan pesan-pesan tersebut dengan makna yang sebelumnya yang telah disimpan dalam ingatannya. Proses inilah yang disebut dengan decoding. Proses decoding mendapat perhatian dalam cultural studies karena ia menentukan arti pesan bagi seseorang.[10]

            Kajian komunikasi massa ditandai dengan dua pendekatan yang bertentangan, yaitu kelompok empiris dan kelompok kritis.[11] Kelompok empiris ditandai dengan penelitian kualitatif dan empirisme (mendasarkan pengetahuan pada observasi dan percobaan) mereka sering fokus pada pengaruh komunikasi massa, sedangkan konteks budaya yang lebih luas tempat komunikasi massa tidak diperdulikan. Kelompok kritis ini melakukan pendekatan yang lebih filosofis menekankan pada struktur sosial yang lebih luas di mana komunikasi massa itu terjadi dan fokus pada isu siapa yang mengontrol suatu sistem komunikasi. Ahli teori kritis cendrung mengkritik empiris karena mereka secara tidak tepat menerapkan metode ilmu fisika  pada manusia dan masyarakat karena fokus penelitian mereka yang terlalu sempit serta pengabaian adanya kepentingan yang besar terhadap kepemilikan serta pengendalian media. Periset empiris cendrung menyerang ahli teori kritis karena membuat kesimpulan tanpa disertai bukti-bukti, karena mengganti argumen dengan ilmu pengetahuan, dan karena pengulangan beberapa ide dasar secara terus menerus dan tanpa menambah pengetahuan baru.

            Sedangkan dalam pendekatan kajian komunikasi budaya sependapat dengan teori kritis,[12] dan menolak pendekatan teori yang dipakai oleh kelompok empiris. Pakar teori budaya mengkaji lingkungan simbolik yang diciptakan media massa dan mempelajari peran media massa pada sektor budaya dan kemasyarakatan. Untuk menyebut misalnya James Carey—menggunakan pendekatan kajian budaya untuk—mengkritik tajam pada banyak penelitian tentang komunikasi massa. Pakar ini berpendapat bahwa penelitian tentang komunikasi massa telah didominasi oleh model transmisi komunikasi, di mana komunikasi dipandang sebagai penerima sinyal atau pesan ketempat yang jauh dengan tujuan pengendalian. Carey menawarkan sebuah model pengganti yang ia sebut pandangan ritual pada komunikasi. Pendapat ini tidak pada eksistensi pesan di udara, tetapi pada masa pemeliharaan masyarakat; bukan pada penyampaian informasi tetapi pada refresentasi kepercayaan bersama. Dari pendapat ritual komunikasi menurut Carey ini dapat dipahami bahwa perilaku membaca koran misalnya tidak dimaksudkan untuk mengirim dan memperoleh informasi dan lebih diartikan sebagai menghadiri ibadah keagamaan.

D.    Memahami Komunikasi Lintas Budaya dan Pembangunan

            Menurut Josep A. Devito dalam bukunya “Komunikasi Antar Manusia” bahwa komunikasi lintas budaya (cross cultural communications) adalah proses komunikasi antara orang-orang dari kultur yang berbeda, di mana mereka memiliki orientasi kepentingan, kepercayaan, nilai, tata cara berperilaku kultural yang berbeda.[13] Sedangkan William B. Hart menjelaskan bahwa komunkasi antar budaya adalah sebuah studi yang menekankan pada efek kebudayaan terhadap komunikasi.

Namun yang jelas, kalau diperhatikan defenisi komunikasi lintas budaya yang dikemukan sebelumnya, paling tidak akan dapat ditemukan benang merah antar dua kata “komunikasi” dan “budaya”. Kedua kata ini menjadi istilah kata kunci yang sangat penting untuk dipahami, jika ingin memahami komunikasi lintas budaya.           Sebagaimana dijelaskan oleh Edward T Hall bahwa terasa akan sulit kita untuk memisahkan dan membedakan antara “komunikasi” dan “budaya”, sehingga komunikasi juga budaya “culture is communication” dan “communication is culture.

Berbicara mengenai bagaimana kaitannya komunikasi lintas budaya dengan pembangunan. Terlebih dahulu yang perlu dipahami adalah bahwa paradigma pembangunan dalam suatu masyarakat yang berjalan di tengah kemajemukan budaya masyarakat. Secara positif  pembangunan dapat diartikan sebagai usaha yang terencana dalam mengembangkan sektor-sektor ekonomi, sosial dan budaya kekhasan suatu masyarakat. Dalam konteks negara-negara berkembang gagasan pembangunan (development) “nyaris” menjadi “agama baru”. Artinya, pembangunan menjanjikan harapan baru kepada masyarakat, untuk memecahkan masalah kemiskinan dan keterbelakangan yang dihadapi berjuta-juta rakyat di dunia ketiga.[14]

            Untuk konteks Indonesia, pembangunan dirumuskan secara luas mengingat hakikat pembangunan yang menyangkut berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Nilai-nilai ideal pembangunan harus dilaksakan secara universal dan menyentuh langsung dengan kehidupan realistik. Lebih jauh, untuk melihat makna pembangunan di Indonesia, maka konsep pembangunan di negara Indonesia dituangkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagaimana yang dikutip oleh Effendy yang berbunyi:

            “Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan sebuah masyarakat Indonesia. Hal ini berarti, bahwa pembangunan itu tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah, seperti pangan, sandang, perumahan, kesehatan dan sebagainya atau kepuasan batiniah serta pendidikan, rasa aman, bebas mengeluarkan pendapat yang bertangung jawab, rasa keadilan dan sebagainya, melainkan keselarasan, keserasian dan keseimbangan keduanya bahwa pembangunan itu merata di seluruh tanah air; bahwa bukan hanya untuk suatu golongan dan sebagian dari masyarakat, tetapi untuk seluruh masyarakat dan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat sebagai perbaikan tingkat hidup, yang berkeadilan sosial, yang menjadi sosial, yang menjadi tujuan dan cita-cita kemerdekaan kita”.[15]

            Dari paparan ini, yang menjadi kendala pembangunan selanjutnya adalah bagaimana menyamakan pemahaman terhadap masyarakat dalam mewujudkan pembangunan itu sendiri. Dapatkah masyarakat sebagai objek sekaligus subjek pembangunan itu secara sadar dan partisipatif untuk dapat menerima dan mendukung pembangunan yang akan dilakukan? Munculnya kekhawatiran-kekhawatiran tersebut diakibatkan karena seringnya terjadi konflik antara etnik yang melahirkan prasangka. Sementara itu, prasangka tetap menjadi sumber yang mengakibatkan kurang efektifnya komunikasi antar pribadi di kalangan intra etnik maupun antar etnik. Menurut Liliweri beberapa hal yang mengakibatkan terjadinya prasangka tersebut adalah 1) Kecenderungan berprasangka terhadap orang yang bersaing dengan kita, apalagi dia berasal dari kelompok etnik lainnya; 2) Etnisitas melahirkan sikap etnosentrisme; 3) Kecenderungan yang menunjukan bahwa setiap hari kita menetapkan perbandingan jarak sosial dan diskriminasi antara orang dalam etnik dengan orang di luar etnik dan; 4) Kemajuan-kemajuan pembangunan yang berlangsung, misalnya saja modernisasi, pendidikan, kesehatan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang menuntut kualifikasi SDM yang profesional, sehingga menggeser status dan peran anggota etnik tertentu.

            Adanya perspektif yang berbeda tentang pembangunan dan penerapannya di masyarakat, perkembangan nilai-nilai baru dan nilai-nilai baru dan nilai-nilai lama yang banyak bertentangan satu sama lainnya. Jika ini tidak dipahami, ini pun akan menjadi faktor penghambat majunya pembangunan. Untuk itu Susanto menjelaskan bahwa sangat perlu diadakan seleksi antara nilai-nilai lama maupun nilai-nilai baru yang menunjang pembangunan.[16] Upaya untuk memadukan dan menyampaikan gagasan pembangunan tersebut kepada masyarakat diperlukan suatu proses komunikasi yang efektif. Komunikasi yang mampu menyampaikan suatu pesan (message) kepada seseorang atau khalayak (masyarakat) untuk mensinkronkan sikap dan perilakunya. Pada tataran ini, menurut penulis perlu adanya komunikasi lintas budaya, sebagai upaya penanaman pemahaman betapa pentingnya pembangunan dalam negara multi kultural. Jelasnya, pada tataran ini, komunikasi lintas budaya dalam pembangunan merupakan upaya penyampaian gagasan dan keterampilan-ketrampilan pembangunan dari yang memprakarsai pembangunan yang ditujukan kepada masayarakat luas. Menurut Nasution bahwa dalam proses penyampaian pesan, diharapkan adanya kesadaran yang empatik antara komunikan pembangunan dan komunikator pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembangunan tersebut.[17]

  1. E.     Pendekatan Teori Komunikasi Lintas Budaya Dalam Pengembangunan

            Menurut Mulya dan Rakhmat bahwa dalam dekade 1960-an dan 1970-an, berbagai peristiwa telah menimbulkan pengaruh besar di dunia. Pembangunan yang cepat dan luas dalam bidang transfortasi dan komunikasi menyebabkan dunia semakin “susut”. Kita memasuki era baru, di mana mobilitas manusia telah meningkat sehingga jarak tidak lagi merupakan masalah. Pesawat-pesawat jet dapat membawa kita ke mana saja dengan waktu yang singkat; orang-orang di seluruh dunia bergerak. Para pedagang-pedagang internasional, mahasiswa-mahasiswa asing, diplomat-diplomat dan terutama turis-turis masuk dan keluar dari aneka ragam budaya yang sering tampak asing dan kadang-kadang misterius. Kini kita mempunyai banyak kesempatan untuk melakukan hubungan-hubungan antar budaya dalam hidup kita sehari-hari”.[18]

            Para peneliti yang berminat tarhadap studi komunikasi antar budaya selalu bertanya, teori apa saja yang patut digunakan untuk mengkaji tema-tema komunikasi antar budaya? Satu jawaban yang pertama adalah teori-teori komunikasi antar budaya juga bersumber dari teori-teori komunikasi yang telah digunakan dalam tradisi ilmu komunikasi, yang di dalamnya termasuk teori yang bersumber dari disiplin lain yang telah digunakan. Jika dipernyataan lagi dalam kaitannya dengan teori komunikasi lintas budaya dalam pembangunan. Jawabannya menurut penulis, juga harus tetap berangakat dari sumber teori-teori komunikasi yang ada dan teori-teori pembangunan. Pemahaman antara komunikasi lintas budaya dengan kompleksitas pembangunan, secara operasional akan mempermudah akselarasi pembangunan suatu bangsa.

Bagaimana teori-teori komunikasi umum dapat disadur dan dipersandingkan sebagai acuan dasar kerangka komunikasi lintas budaya untuk kemudian dijadikan jembatan dalam pelaksanaan pembangunan. Menurut Gundykunst—sebagaimana dikutip oleh Liliweri—memperkenalkan bahwa paling tidak ada lima pendekatan teoritis dalam ilmu komunikasi yang diasumsikan dapat menjelaskan komunikasi antar budaya, yaitu 1) Teori komunikasi berdasarkan analisis kebudayaan implisit; 2) Teori komunikasi berdasarkan regularitas peran; 3) Teori-teori yang berkaitan erat dengan interaksi antar budaya (jaringan matateorikal, teori pendekatan situasi, pendekatan masalah, pendekatan yang berpusat pada nilai budaya (values centered aprroach-val/com, teori cordinated management of meanig/CMM); 4) Teori yang bersumber dari tradisi retorika; dan 5) Teori yang bersumber dari teori sistem.

            Komunikasi lintas budaya dalam pembangunan merupakan suatu kegiatan atau proses komunikasi yang menginginkan perubahan besar-besaran dalam sikap, mental dan tingkah laku manusia. Perubahan-perubahan ini menimbulkan impact komunikasi pembangunan. Untuk mengubah mental, sikap ataupun tingkah laku seseorang adalah tidak mudah. Apabila hanya dititik beratkan saja pada unsur teknis komunikasinya, serta kurang memperhatikan faktor paling, penting dan menentukan, yaitu manusia itu sendiri maka banyak kemungkinan tujuan komunikasi pembangunan itu akan gagal. Tetapi sebaliknya, kurang memperhatikan segi-segi teknis komunikasinya yang dekat melekat pada dimensi budaya maka komunikasi  pembangunan, ada kemungkinan akan gagal juga, semua itu tergantung dari situasi yang dihadapi. Kebutuhan akan komunikasi pembangunan dirasakan sangat mendesak untuk diimplementasikan, terutama yang berhubungan dengan perkembangan telekomunikasi (media massa) sebagai media yang paling efektif dan lintas geografis dan ini sudah dirasakan jauh sebelum abad globalisasi informasi ini:

            “Peran komunikasi dalam pembangunan merupakan tema pokok pembicaraan, seminar, diskusi-diskusi para ahli komunikasi, terutama dinegara-negara sedang berkembang dalam dua dasawarsa terakhir ini. Apabila kita ”menenggok” kembali pada masa 20 tahun yang lalu, maka sarana komunikasi di negara-negara berkembang masih terbatas pada media cetak. Sekarang semuanya telah berubah. Teknologi komunikasi berkembang semakin pesat, terutama radio dan televisi. Perkembangan televisi menyebabkan “jarak psikologis” mendekatkan “jarak geogarafis” antara bangsa”.[19]

            Sistem komunikasi pembangunan harus melihat pula bahwa pada umumnya di setiap negera yang berkembang di samping ada komunikasi massa yang modern, masih juga terdapat suatu sistem komunikasi tradisional. Karenanya komunikasi pembangunan harus selalu memperhitungkan adanya ”first-step flow dan ”second-step flow” dalam proses komunikasi tersebut. Dalam banyak hal letak arti pentingnya para informasi leaders ataupun para opinion leaders. Misalnya, radio-radio di desa, siaran-siaran pedesaannya itu diikuti kelompok-kelompok pendengar dengan para opinion berperan di dalamnya.[20]

  1. F.     Peran Media Massa Dalam Komunikasi Antar Budaya

            Komunikasi antarbudaya adalah merupakan salah satu bidang, kajian dalam komunikasi. Liliweri menjelaskan, bahwa konsep utama yang mewarnai komunikasi antarbudaya (interculture communication) adalah konsep kebudayaan dan konsep komunikasi.[21] Kalau komunikasi antarbudaya mendekati objek melalui pendekatan kritik budaya maka komunikasi lintas budaya lebih menekankan perbandingan pola-pola komunikasi antar pribadi di antar peserta komunikasi yang berbeda kebudayaan.[22]

Sebagai makhluk sosial dan berbudaya, manusia dalam kehidupannya tidak dapat dipisahkan dari proses komunikasi yang terikat oleh budaya, sebagaimana budaya berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Karenanya, hubungan sesama manusia yang mempunyai latar belakang budaya yang berbeda-beda akan berlangsung secara humanis, ketika sebuah hubungan proses komunikasi berjalan secara baik dan berkesinambungan. Dari sudut ini, manusia telah memanfaatkan komunikasi untuk mentranformasikan dirinya dalam sebuah dinamika sosial. Di mana hubungan yang dimulai dalam diri (intrapersonal) ke individu lain (interpersonal) sampai kepada khlayak sosial.

            Meskipun dalam situasi pesatnya perkembangan media informasi saat ini, sehingga beberapa pakar komunikasi telah melahirkan teori-teori yang tidak lagi menempatkan media massa sebagai segalanya yang mempunyai kemampuan dan keampuhan dalam menyebarkan pesan dan menimbulkan pengaruh yang luar biasa, seperti halnya teori hipodermik. Namun, media massa akan tetap relevan untuk menjadi alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. Demikian halnya dengan konteks komunikasi lintas budaya dalam pembangunan, tentunya media massa tidak dapat dipisahkan dari perannya sebagai sumber informasi bagi masyarakat. Peranan media massa dalam pembangunan nasional adalah sebagai agent of social change. Letak peranannya adalah dalam hal membantu mempercepat proses peralihan masyarakat yang tradisional menjadi masyarakat yang modren. Khususnya peralihan dari kebiasaan-kebiasaan yang menghambat pembagunan ke arah sikap yang baru yang tangkap terhadap pembaharuan demi pembangunan. Bagaimanakah perubahan itu dapat terjadi? Agaknya, bagi masyarakat multikultural dapat terhambat, ini sudah menjadi kenyataan yang tidak terbantahkan dan faktanya memang demikian. Kontak budaya yang berbeda telah menimbulkan perubahan-perubahan pada kebiasaan-kebiasaan dan kepercayaan secara berangsur-angsur. Namun, perubahan dapat pula terjadi dengan cepat, manakala bangsa penakluk memaksakan pola budaya mereka pada bangsa yang dikalahkan.[23]

            Kerap kali budaya berpotensi untuk menghambat pembangunan, hal ini sama rumitnya dengan merubah kebiasaan-kebiasaan lama maupun memperkenalkan cara-cara baru yang erat kaitannya dengan kebiasaan-kebiasaan dan kepercayaan-kepercayaan lain yang berbeda. Di sinilah sesungguhnya peran strategis dari komunikasi lintas budaya perlu untuk dipahami dan diketahui oleh para komunikator-komunikator pembangunan. Pembangunan diharapkan terlaksana secara suka rela dimana secara individu mengambil bagian didalamnya dan iformasi tentang pembangunan diterima secara merata. Sikap paksaan dalam pembangunan diganti oleh sikap membujuk dan memberikan kesempatan partisipasi pada setiap aggota masyarakat; di samping itu, arus informasi ditingkatkan.

            Pada dasarnya, mekanisme suatu pembangunan sifatnya sederhana. Pertama, penduduk harus didasarkan akan arti penting suatu perubahan yang tidak mungkin terwujud dengan mengendalikan kebiasaan-kebiasaan dan sikap sekarang; Kedua, perubahan itu harus ditunjang oleh sikap-sikap yang dekat sekali dengan usaha pemenuhan kebutuhan. Setiap bangsa yang ingin meningkatkan proses pembangunan, harus menyandarkan seluruh masyarakatnya akan arti penting, pembangunan akan memberi kesempatan kepada mereka untuk memenuhi di alam pembangunan.

Peran media massa tidak diragukan lagi keberadaannya dalam proses pelaksanaan pembangunan. Karena proses pembangunan, baik fisik maupun non fisik yang dinikmati oleh suatu bangsa adalah merupakan hasil proses komunikasi. Tidak ada pembangunan yang dikerjakan sendiri. Bahkan, jika dikerjakan sendiri pun proses dan pelaksanaan pembangunan itu akan menyangkut pihak lain dan itu butuh komunikasi. Media massa dalam proses komunikasi berperan sebagai the extension of men, sebagai instrumen komunikasi massa. Karena itu fungsi exstension of men atau perpanjangan tangan manusia harus dioptimalkan.

  1. G.    Penutup

            Cultural studies dapat dipahami dengan studi tentang kebudayaan sebagaimana kata Clifford Geertz kebudayaan itu adalah “merupakan sistem mengenai konsepsi-konsepsi yang “diwariskan” dalam bentuk simbolik, yang dengan cara ini manusia dapat berkomunikasi, melestarikan dan mengembangkan pengetahuan dan sikakapnya terhadap kehidupan”. Teori cultural studies mememiliki landasan bahwa manusia, komunikasi, masyarakat dan budaya saling berpengaruh satu sama lain yang disebut dengan teori logika depedensi, teori ini ingin menjelaskan bagaimana keempat hal tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi.

Konsep cultural studies menurut Morison dapat dipahami dari beberapa aspek  di antaranya. Pertama, Ideologi budaya; Kedua, Hegemoni Kebudayaan; Ketiga, Struktur kekuasaan; dan Keempat Decoding informasi. Komunikasi lintas budaya (cross cultural communications) adalah proses komunikasi antara orang-orang dari kultur yang berbeda, di mana mereka memiliki orientasi kepentingan, kepercayaan, nilai, tata cara berprilaku kultural yang berbeda. Sedangkan Liliweri menjelaskan bahwa komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaan. Media massa dalam proses komunikasi berperan sebagai the extension of men, sebagai instrumen komunikasi massa. Karena itu, fungsi exstension of men atau perpanjangan tangan manusia harus dioptimalkan.

 

Daftar Pustaka

 

Alisjahbana, Sutan Takbir, Antropologi Baru.  Jakarta: Dian Rakyat, 1986.

Depari, Eduard, Peran Komunikasi Massa Dalam Pembangunan.  Yogyakarta: UGM Press, 1995.

Devito, Yoseph A., Komunikasi Antar manusia.  Jakarta: Profesional Books, 2007.

Effendi, Onong Uchajana, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek.  Bandung: Remaja Rosda Karya, 1998.

Fakih, Mansour, et.al, Bunga Rampai Teori Pembangunan Dalam Kerangka Studi Tentang Oruop.  Bandung: Indeco de Unice, 1993.  

Geertz, Clifford, The Interpretation of Cultures: Selected Essays.  New York: Basic Books, 1973.

Liliweri, Alo, Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.

Morissan dan Andy Corry Wardhany, Teori Komunikasi.  Jakarta: Ghalia Indonesia, 2009.

Morissan, et.al., Teori Komunikasi Massa.  Jakarta, Ghalia Indonesia, 2010.

Mulya, Dedi dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antar Budaya.  Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001.

Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia.  Jakarta: Balai Pustaka, 1991.

Poespowardojo, Pembangunan Nasional dalam Perpektif Budaya Sebuah Pendekatan Filsafat.  Jakarta: Gramedia Widiasrana, 1993.

Riyanto, Pratikno, Komunikasi Pembangunan.  Bandung: Alumni, 1979.

Samovar, Lary A. dan Richard E. Porter, Intercultural Communication: A Reader.  California: Wadsworth Publishing Company, 1982.

Severin, Werner J. dan James W. Tankard, Teori Komunikasi Sejarah Metode dan Terapan di Dalam Media Massa.  Jakarta: Kencana, 2008.

Strinati, Dominic, An Introduction to Theories of Popular Culture.  London: Routledge, 1995.

Susanto, Astrid S., Komunikasi Massa.  Jakarta: Depdikbud, 1986.

Wursanto, Etika Komunikasi Kantor. Jogjakarta: Kanisius, 1994.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1]Wursanto, Etika Komunikasi Kantor (Jogjakarta: Kanisius, 1994), h. 4.

[2]Poespowardojo, Pembangunan Nasional dalam Perpektif Budaya Sebuah Pendekatan Filsafat (Jakarta: Gramedia Widiasrana, 1993), h. 63.

[3]W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), h. 156.

[4]Sutan Takbir Alisjahbana, Antropologi Baru (Jakarta: Dian Rakyat, 1986), h. 207.

[5]Lary A. Samovar dan Richard E. Porter, Intercultural Communication: A Reader (California: Wadsworth Publishing Company, 1982), h.18.

[6]Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures: Selected Essays (New York: Basic Books, 1973), h. 89.

[7]Morissan, et.al., Teori Komunikasi Massa (Jakarta, Ghalia Indonesia, 2010), h. 162.

[8]Dominic Strinati, An Introduction to Theories of Popular Culture (London: Routledge, 1995), h. 165.

[9]Morissan, et.al., Teori Komunikasi Massa, h. 166.

[10]Ibid., h. 171.

[11]Werner J. Severin dan James W. Tankard, Teori Komunikasi Sejarah Metode dan Terapan di Dalam Media Massa (Jakarta: Kencana, 2008), h. 18.

[12]Teori kritis menunjukkan ketertarikannya untuk mengemukakan adanya suatu bentuk “penindasan sosial” dan mengusulkan suatu pengaturan kekuasaan (power arrangements) dalam upaya mendukung emansipasi dan mendukung terwujudnya masyarakat yang lebih bebas dan lebih terpenuhi kebutuhannya. Memahami adanya penindasan untuk menghapus ilusi dan janji manis yang diberikan suatu idiologi atau kepercayaan dan mengambil tindakan untuk mengatasi kekuasaan yang menindas. Morissan dan Andy Corry Wardhany, Teori Komunikasi (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2009), h. 41.

[13]Yoseph A. Devito, Komunikasi Antar manusia (Jakarta: Profesional Books, 2007), h.479.

[14]Mansour Fakih, et.al, Bunga Rampai Teori Pembangunan Dalam Kerangka Studi Tentang Oruop (Bandung: Indeco de Unice, 1993), h.7.

[15]Onong Uchajana Effendi, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1998), h. 89.

[16]Astrid S. Susanto, Komunikasi Massa (Jakarta: Depdikbud, 1986), h. 66.

[17]Zulkarimen Nasution, Lop Cit, h.4

[18]Dedi Mulya dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antar Budaya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h.11.

[19]Eduard Depari, Peran Komunikasi Massa Dalam Pembangunan (Yogyakarta: UGM Press, 1995), h. xiii.

[20]Pratikno Riyanto, Komunikasi Pembangunan (Bandung: Alumni, 1979), h.105.

[21]Alo Liliweri, Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. 4.

[22]Ibid., h.22.

[23]Depari, Peran Komunikasi Massa, h. 45.

JURNALISTIK ISLAM

Posted on

K

Suka tidak suka bahwa dunia jurnalistik, baik media cetak maupun media elektronik  (komunikasi massa) selalu terlibat dan tidak akan bisa lepas dengan gatekeepers, regulator, media dan filters sebelum pesan sampai kepada khlayak banyak. Sadar atau tidak sadar dalam proses tersebut, pesan bisa mengalami reduksi, defiasi maupun manipulasi oleh berbagai pihak dan kepentingan dengan tujuan mendapatkan efek yang diinginkan pada audience/khlayak ramai. Oleh karena itu jurnalistik pada media komunikasi massa memiliki peran yang signifikan dalam penyampaian pesan terhadap khalayak ramai.

            Pada prinsipnya komunikasi secara umum dengan komunikasi Islam adalah berbeda, prinsip komunikasi Islam berupa free and Balance flow pf information yang dipandang lebih adil dan manusiawi bila di lihat komunikasi secara umum hanya sebatas free flow of information. Percaya atau tidak sejarah munculnya dunia pers itu sendiri berasal sejarah perjuangan manusia tentang kebebasan berbicara setiap anggota masyarakat. Maka di Amerika Serikat ada pasal 19 mengatakan bahwa setiap orang mempunyai kebebasan untuk mencari, menerima dan menyebarkan informasi atau idea melalui media massa tanpa ada hambatan. Maka di dunia Barat ada istilah  News Free Flow  (pengaliran berita-berita bebas).

            Maka kita dapat menyaksikan penyebaran berita yang tidak seimbang antara di dunia Timur dan dunia Barat. Begitu berat tugas jurnalistik Islam dalam menyeimbangkan kesenjangan informasi yang diterima khalayak. Setuju atau tidak setuju faktor internal, sosok jurnalis merupakan pihak yang paling disorot dalam penyebaran berita, disamping ada faktor yang lainnya. Di samping itu sebagai makhluk sosial, seorang wartawan juga mempunyai sikap, nilai, kepercayaan dan orientasi tertentu dalam politik, agama, ideologi dan aliran dimana semua komponen itu berpengaruh terhadap hasil kerjanya (media content), sehingga kerap kali media tersebut terlibat dalam sebuah hegemoni (politik,agama,  budaya atau ideologi).

 

Kata Kunci: Prinsip Jurnalisti Islam

 

  1. I.                   Pendahuluan

Sejarah jurnalistik yang diukir oleh  Gutenberg, yang kemudian mengubah Eropa pada abad ke-15 serta melahirkan komunikasi massa melalui penyebaran informasi/berita. Segala yang berkaitan dengan berita inilah yang merupakan masalah sentral dalam kehidupan jurnalistik.[1]

Dilihat dari faktanya, penyebaran berita dilakukan oleh media komunikasi massa, pekerjaannya adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka kesibukan utama media massa adalah mengkonstruksikan berbagai realitas yang akan disiarkan. Media menyusun realitas dari berbagai peristiwa yang terjadi terjadi hingga menjadi cerita atau wacana yang bermakna. Pembuatan berita di media pada dasarnya adalah penyusunan realitas-realitas hingga membentuk sebuah cerita atau wacana yang bermakna. Dengan demikian seluruh isi media tiada lain adalah realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality) dalam bentuk wacana yang bermakna.[2] Oleh karena itu profesional jurnalisme sangat dibutuhkan dalam suatu negara yang demokratis, walau apapun bentuk perubahan kedepan, apakah perubahan ekonomi, politik, sosial dan perubahan yang lainnya yang lainnya.

Dalam jurnalistik tidak ada istilah yang dinamakan “jurnalistik Islam”, yang ada hanyalah jurnalistik yang bercirikan Islam. Fungsi dan kegiatan yang dilakukannya sama saja seperti jurnalistik pada umumnya, akan tetapi yang menjadi beda dari jurnalistik biasa dengan jurnalistik yang bercirikan Islam ialah berita atau informasi yang disampaikannya. Jurnalistik yang bercirikan Islamiyah, lebih menonjolkan informasi tentang larangan dan perintah Allah swt. Jurnalistik ini bertujuan untuk mempengaruhi khalayak untuk berprilaku sesuai ajaran Islam.[3]

Cara penyampaian jurnalistik yang bercirikan Islam ini jelas berbeda dengan jurnalistik pada umumnya. Jurnalistik yang bercirikan Islam selalu menghindari hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam. Jurnalistik Islam adalah jurnalisti dakwah. Seorang wartawan muslim harus menjadikan jurnalistik Islam sebagai “ideology” dalam profesinya. Karena dakwah merupakan kewajiban yang melekat pada setiap muslim.

Dalam persepektif Islam penanggung jawab jurnalistik terhadap hukum masyarakat, dan jurnalistik itu sendiri tidak cukup, yang lebih penting dari itu adalah, semua yang terlibat dalam pers diminta untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada Allah swt: dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 71 yang intinya “jurnalistik” dalam melaksanakan tugasnya hendaknya dengan penuh kesadaran bahwa profesinya adalah sebagai amanah Allah swt, umat dan perubahan. Karena itu pers selalu siap mempertanggung jawabkan pekerjaannya kepada Allah swt.

  1. II.                Pengertian Jurnalistik

Istilah jurnalistik, diambil dari sebuah media yang dikeluarkan oleh Caesar romawi yaitu Acta Durna, Acta Diurna bukanlah sebuah surat kabar, tetapi hanyalah sebuah papan pengumuman yang dipasang di tengah kota Romawi, yang berisi berita-berita resmi ke caesaran dan berita lainnya, yang setiap orang bebas membaca dan mengutipnya. Selain kata diurnal juga dikenal kata diurnarius atau diurnari, yaitu seseorang yang tugasnya mencari berita. Dari kata-kata inilah kata jurnalistik muncul, diurnari yang sangat terkenal saat itu adalah Chrestus dan Caelius Rufus.[4]

Selain itu jurnalistik juga berasal dari bahasa Belanda yaitu journalistiek, seperti halnya dengan istilah bahasa Inggris (journalism), merupakan terjemahan dari bahsa latin (Diurnal) yang berarti harian atau setiap hari.atau jurnalistik adalah Journal yang berarti pewartaan atau catatan harian.[5]  Jurnalistik juga berasal darai bahasa Perancis Do jour yang berarti hari. Journal berarti catatan harian tentang hal-hal yang dianggap penting yang terjadi pada hari itu.[6]

Oleh karena itu orang yang melakukan pekerjaan Jurnalistik, dalam istilah ilmu publisistik adalah hal-hal yang berkaitan dengan menyiarkan berita atau ulasan berita tentang peristiwa sehari-hari yang umum dan aktual (catatan tentang kejadian sehari-hari atau dapat juga berarti surat kabar). Secara terminologi jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit dan menulis surat kabar, majalah atau berkala lainnya.[7] MacDougall menyebutkan bahwa journalisme adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta, dan melaporkan pristiwa.[8] Kegiatan untuk mengetahui apa yang terjadi merupakan  kunci lahirnya jurnalistik.

Secara sederhana jurnalistik dapat didefenisikan sebagai tekhnik mengelola berita mulai dari mendapatkan bahan sampai menyebarluaskan kepada khalayak, apa saja yang terjadi di dunia ini apakah itu fakta peristiwa atau pendapat yang diucapkan seseorang, jika diperkirakan akan menarik perhatian khalayak, akan merupakan bahan dasar bagi jurnalistik dan akan merupakan bahan berita untuk dapat disebarluaskan kepada masyarakat.

Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informasi saja. ini terbukti pada Akta Diurna sebagi produk jurnalistik pertama pada zaman Romawi kuno ketika Kaisar Julius Caesar berkuasa. Dalam perkembangan masyarakat selanjutnya, surat kabar yang bisa mencapai rakyat secara massal dipergunakan oleh kaum idealis untuk melakukan sosial control, sehingga surat kabar tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga persuasif. Bukan saja menyiarkan informasi, tetapi juga membujuk dan mengajak khalayak untuk mengambil sikap tertentu, agar berbuat sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Bentuk jurnalistik yang bersifat persuasif, adalah tajuk rencana (editoral).

Jurnalistik dalam bentuk sederhana mulai dikenal ketika Julius Caesar kenjadi kaisar Romawi. Waktu itu ia mengeluarkan peraturan agar kegiatan-kegiatan senat setiap hari diumumkan kepada khalayak dengan ditempel pada semacam papan pengumuman yang dinamakan Acta Diurna. Berbeda dengan media berita  masa kini yang datang di rumah para pembaca, pada waktu itu orang-orang yang datang pada media berita. Karena itu disamping ada keinginan untuk membaca berita pada Arca Diurna, sekelompok khalayak merasa segan untuk meninggalkan rumah untuk datang di papan berita itu.[9]

Batasan jurnalistik menurut Adinegoro adalah, keahlian dan keterampilan seseorang dalam mencari, mengumpulkan, mengolah dan menyebar luaskan berita/karangan, artikel kepada khalayak seluas-luasnya dan secepat-cepatnya.[10]Oleh karena itu jurnalistik merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana cara atau teknik mencari bahan berita hingga menyusunnya menjadi berita atau laporan yang menarik.

  1. III.             Tugas dan Tanggung Jawab Jurnalistik/Wartawan Sesungguhnya

            Tugas dan tanggung jawab utama seorang wartawan,  bukan tertuju kepada pemilik perusahaan pers, atau kepada redakturnya, bukan pula kepada pemerintahannya atau kepada mereka yang memberikan berita, tugas utamanya adalah untuk khalayak ramai, bukan hanya sebagian/salah satu pihak saja, jikalau seorang wartawan memberikannya kepada salah satu pihak tersebut di atas, ia sebenarnya bukan wartawan yang baik.[11] Wartawan bebas menginformasikan realitas yang ditemuinya sesuai dengan kaidah dan kode etik jurnalistik yang unversal. Dalam hal menyampaikan realitas berita, seorang wartawan bertanggung jawab terhadap pembacanya.

            Jurnalis atau orang yang terlibat dalam komunikasi massa harus mempunyai tanggung jawab dalam memberitakan sesuatu apa yang diberitakan oleh media massa harus bisa dipertanggungjawabkan. Jadi, jurnalis tidak hanya sekedar menyiarkan informasi tanpa bertanggung jawab akan dampak yang ditimbulkannya. Tanggung jawab ini bisa kepada Tuhan, masyarakat, profesi atau dirinya sendiri.

            Tanggung jawab tentunya mempunyai dampak positif. Dampak positif yang terasa adalah media massa akan berhati-hati untuk menyiarkan dan menyebarkan informasi. Media tidak bisa seenaknya memberikan informasi atau mengarang cerita agar mdeianya laris di pasaran. Jurnalis adalah profesi yang dituntut untuk bertanggung jawab terahadap apa saja yang dikemukakannya. Bahwa tujuan utama dari jurnalis adalah menyediakan informasi yang akurat dan terpercaya kepada warga masyarakat agar dengan informasi tersebut mereka dapat berperan membangun sebuah masyarakat yang bebas.

            Mengenai tanggung jawab, Lois W. Hodges dalam Responsible Journalisme menyatakan bahwa ada tiga kategori tanggung jawab yang diterapkan dalam dunia pers, adalah:

  1. Tanggung jawab berdasarkan penugasan
  2. Tanggung jawab berdasarkan kontrak
  3. Tanggung jawab yang timbul dari diri sendiri.[12]

            Sebagai sebuah profesi, maka wartawan terikat kepada kode etik dan kriterianya. Kode etik dimaksudkan sebagai norma yang mengikat pekerjaan yang ditekuni, sedangkan kriteria dimaksudkan sebagai alat seleksi karena tidak setiap orang dapat dengan bebas memasuki lingkaran sesuatu profesi. Lakshamana Rao menyebutkan empat kriteria bahwa pekerjaan itu sebagai suatu profesi, adalah:

  1. Harus terdapat kebebasan dalam pekerjaan itu
  2. Harus ada panggilan dan keterikatan dengan pekerjaan itu
  3. Harus ada keahlian
  4. Harus ada tanggung jawab  yang terikat pada kode etik pekerjaan tadi.[13]

            Kebebasan tetaplah penting, hanya dengan kebebasanlah berbagai informasi bisa disampaiakan kepada masyarakat. Media massa yang tidak mempunyai kebebasan dalam menyiarkan beritanya, ibarat sudah kehilangan sifat dasarnya. Bagaimana mungkin ia akan bisa memberitakan kebobrokan dikalangan masyarakat tanpa ada kebebasan yang dimiliki pers untuk mengungkap dan menyiarkan.

Selain itu  riset Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dan dari para ahli media yang tergabung dalam Committee journalist menyimpulkan bahwa paling tidak ada sembilan inti prinsip jurnalistik yang harus dikembangkan, adalah:

  1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran
  2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga masyarakat
  3. Inti jurnalisme adalah disiplin untuk melakukan verifikasi
  4. Para wartawan harus memiliki kebebasan dari sumber yang mereka liput
  5. Wartawan harus mengemban tugas sebagai pemantau yang bebas terhadap kekuasaan.
  6. Jurnalisme harus menyediakan forum untuk kritik dan komentar publik
  7. Jurnalisme harus berusaha membuat yang penting menjadi menarik dan relevan
  8. Wartawan harus menjaga agar berita proporsional dan komprehensif
  9. Wartawan itu memiliki kewajiban utama terhadap suara hatinya.[14]

            Tanggung jawab tersebut tidak berarti media tidak boleh memiliki kebebasan, tidak berarti pula pengekangan. Kebebasan jurnalistik ini juga mutlak dimilki media massa. Dengan kata lain, kebebasan dan tanggung jawab sama-sama penting. Oleh karena itu kita sering mendengar istilah kebebasan yang bertanggung jawab, semua orang bebas, tetapi bebas disini harus bisa dipertanggung jawabkan dan bukan sebebas-bebasnya.

Kebebasan tetaplah penting, hanya dengan kebebasanlah berbagai informasi bisa disampaiakan kepada masyarakat. Media massa yang tidak mempunyai kebebasan dalam menyiarkan beritanya, ibarat sudah kehilangan sifat dasarnya. Bagaimana mungkin ia akan bisa memberitakan kebobrokan dikalangan masyarakat tanpa ada kebebasan yang dimiliki jurnalistik untuk mengungkap dan menyiarkan.

 

Kewajiban yang diemban wartawan melahirkan tanggung jawab yang harus mereka pikul. Akar dari tanggung jawab ini terutama berasal dari kenyataan bahwa kita ini selain sebagai induvidu juga menjadi anggota masyarakat, dengan keputusan dan tindakan kita, dapat mempengeruhi orang lain. Semakin besar kekuasaan dan kemampuan kita mempengaruhi orang lain, maka semakin besar pula kewajiban moral yang ditanggung.

 

IV. Kode Etik Jurnalistik

Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asai manusia yang dilindungi Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.

Dalam pelaksanaan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat. Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas, serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati kode etik sebagai berikut:

 

Pasal 1

Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak beritikad buruk.

Pasal 2

Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan jurnalistik.

 

Pasal 3

Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberikan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dengan opini yang menghakimi, serta menetapkan atas praduga tak bersalah.

Pasal 4

Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis dan cabul.

 

 

Pasal 5

Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyeiarkan identitas korban kejahatan susiala dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

Pasal 6

Wartawan Indonesia tidak menyalah gunakan profesi dan tidak menerima suap.

Pasal 7

Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitasnya maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “of the record” sesuai dengan kesepakatan.

Pasal 8

Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Pasal 9

Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

Pasal 10

Wartawan Indonesi segera mencabut, meralat dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar dan atau pemirsa.

Pasal 11

Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara propesional.

Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan dewan pers. Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh organisasi wartawan dan atau perusahaan pers.[15]

 

 

 

V. Juranlistik Islam

Ada pepatah sederhana mengatakan “membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya ilmu adalah buku “ ungkapan itu sepintas terlihat sederhana akan tetapi jika di simak, memilki makna yang dalam. Sejalan dengan firman Allah SWT. surat al-‘Alaq ayat pertama “iqra” mengandung makna baca tulis, dari wahyu yang pertama tergambar perintah Allah SWT. Kepada manusia untuk mengggoreskan pena supaya dapat dibaca orang lain. Goresan-goresan  pena itu dari dahulu sampai saat ini bahkan sampai  akhir zaman nanti dibutuhkan dan dinantikan kebanyakan manusia. Karenanya sejak awal Islam telah mengajak manusia untuk mengenalkan baca tulis, kemudian berkembang di abad moderen ini dikenal dengan  media cetak (surat kabar, buku, tabloid, dan lain-lain).

Jurnalistik Islam dapat dimaknai sebagai “suatu proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan-muatan nilai Islam, khususnya yang menyangkut agama dan ummat Islam kepada khalayak, serta berbagai pandangan dengan persepektif ajaran Islam”. Dapat juga jurnalistik Islam dimaknai sebagai “proses pemberitaan atau pelaporan tentang berbagai hal yang sarat dengan muatan dan sosialisasi nilai-nilai Islam”. Jurnalistik Islam bisa dikatakan sebagai crousade journalism, yaitu jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, yakni nila-nilai Islam. Jurnalistik Islam mengemban misi ‘amar ma’ruf nahi munkar ‘(Q.S. Ali Imran ayat: 104).

Dalam hal ini seorang jurnalis atau wartawan muslim dituntut untuk selalu menjadikan Al-Qur’an dan hadis sebagai landasan dalam memberikan informasi kepada khalayak. Hal ini dimaksudkan agar berita yang diperoleh oleh khalayak luas atau masyarakat dapat dipertanggungjawabkan secara langsung oleh sipembuat berita yaitu wartawan itu sendiri.  Kelengkapan al-Quran dengan jurnalistik Islam yang membiaskan pengaruh sangat luas, eksis dalam hubungan keduanya yang seakan-akan saudara kembar atau pinang dibelah dua. Bahwa al-Quran kata-kata Tuhan sedangkan jurnalistik adalah “tulisan tangan manusia”.[16]

Secara sederhana jurnalis Islam itu dapat difahami seorang da’I atau sekelompok umat manusia yang menyampaikan pesan-pesan Islam kepada Umat manusia.[17] Menyampaikan informasi-informasi/pesan-pesan Islam melalui media semestinya melalui media Islam juga, tapi mampukah media Islam itu benar-benar mewujudkan secara nyata ruh keislaman itu dalam kehidupan media?

Dilihat kenyataan sekarang ini begitu dahsyatnya perkembangan media cetak dan media elektronik (komunikasi massa), tapi  yang manakah media Islam? berapakah jurnalis Islam yang benar-benar menyampaikan dakwah Islam?  Berapa persenkah isi berita tentang dunia Islam? Atau dari sekian banyak media berapa persenkah isi media terhadap pesan-pesan/informasi-informasi Islam?

Jurnalistik Islam sangat erat kaitannya dengan komunikasi Islam itu sendiri, komunikasi Islam adalah informasi yanga diterima khalayak pada media informasi. Sedangkan jurnalistik Islam adalah seorang jurnalis/wartawan atau dapat juga dikatakan da’i yang menyampaikan pesan-pesan keislaman kepada khalayak.

Komunikasi Islam merupakan bidang kajian baru yang menarik perhatian sebahagian akedemisi di berbagai perguruan tinggi. Seperti pada bulan Januari 1993, jurnal media, Culture and Society yang terbit di London, memberi liputan kepada komunikasi Islam. Pengakuan satu jurnal komunikasi yang terbit di Barat terhadap komunikasi Islam tersebut  dapat dipandang sebagai suatu tantangan bagi kaum intelektual muslim terutama pakar komunikasi untuk mencari identitas sendiri sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya Islam.[18]

Komunikasi Islam yang masih dalam taraf pengembangan, tentu saja  masih menggunakan atau meminjam teori-teori komunikasi secara umum, yang kemudian dimodifikasi dengan komunikasi Islam. Melihat kenyataan umur  keilmuan komunikasi Islam yang masih tergolong masih muda, maka wajar komunikasi Islam masih menggunakan teori komunikasi secara umum.

Melihat latar belakang munculnya komunikasi Islam yang masih baru, tentu memerlukan perjuangan yang masih panjang dan berat bagi jurnalis Islam.  Oleh karena itu Quo vadis jurnalis Islam? dengan kenyataan bahwa kapitalis lebih dominan di dunia ini, mereka lebih memiliki kekuatan di segala bidang kehidupan. Ditambah lagi dengan keadaan umat Islam itu sendiri terlalu sibuk dengan pemahaman keislaman masing-masing, terlalu sibuk dengan kebenaran partai-partai keislaman masing-masing, sehingga kurang memperhatikan tali persaudaran sesama kaum Muslimin.[19]

Selain itu faktor yang sangat dominan membuat para jurnalistik pada media Islam kurang mampu mengimbangi media Barat tidak lain karena faktor ekonomi dan politik. Para pengamat pengaliran berita Internasional mengatakan bahwa sistem komunikasi  massa dikuasai oleh agensi berita internasional dari negara-negara maju, terutama negara-negara Barat. Empat agensi berita berita internasional yang paling besar, yaitu Associated (AP), United Press International (UPI) dari Amerika Serikat, Agence France Presse (AFP) dari Perancis, dan Reuter dari  Inggris, tetap merupakan sumber utama berita internasional bagi negara-negara Dunia Ketiga.[20]

Karenanya bagaimana dunia Islam/jurnalistik Islam mampu mengimbangi kekutan media Barat supaya Informasi yang mengalir kepada masyarakat seimbang, maka Galtung mengatakan bahwa pengaliran informasi di dunia cendrung tidak seimang (imbalence). Publik Barat hanya sedikit mengetahui tentang Islam, kemudian informasi yang sedikit cendrung bersifat negatif. Akibatnya publik Barat hanya mengetahui Islam sebagai agama yang menyukai tindakan kekerasan, miskin, bodoh, kelaparan dan terkebelakang.[21] Dasar apa negara Barat membuat berita yang tidak adil terhadap dunia Islam? Apakah dunia barat tidak memiliki etika jurnalistik? Apakah etika jurnalistik itu hanya berlaku bagi dunia Timur?

Begitulah media Barat, undang-undang negara Barat pasal 19 Universal Declaration of Human Righ yang mengatakan bahwa setiap orang mempunyai kebebasan untuk mencari, menerima dan menyebarkan informasi atau idea melalui media massa tanpa ada hambatan. pernyataan ini menjadi dasar bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya untuk memperjuangkan News Free Flow (pengaliran berita-berita bebas). [22]

Soal bicara dan berpendapat memang berkaitan dengan sejarah pertumbuhan pers, pers lahir dari sejarah perjuangan manusia tentang kebebasan berbicara setiap anggota masyarakat. Bahkan pada perjalanan selanjutnya, hingga saat ini, pers tetap dipandang sebagai kekuatan moral yang mampu menggerakkan semangat demokrasi.[23] Dalam hal ini perlu digaris bawahi, itulah perbedaan komunikasi Islam dengan komunikasi secara umum. Prinsip komunikasi Islam berbeda dengan prinsip komunikasi secara umum, prinsip komunikasi Islam berupa free and Balance flow pf information yang dipandang lebih adil dan manusiawi bila di lihat komunikasi secara umum hanya sebatas free flow of information.

 

Paling tidak dalam komunikasi Islam ada nilai-nilai etika yang menjadi pegangan jurnalis Islam, adalah sebagai berikut:

  1. Jujur

Kejujuran dalam berkomunikasi, yakni menyampaikan pesannya secara benar dan berdasarkan fakta dan data tidak memutar balikkannya merupakan hal yang utama untuk diperhatikan bagi seorang muslim. Seorang penyamapai berita yang tidak jujur (bohong) sangat begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, bahkan dalam pragmentasi sejarah Rasulullah begitu juga dalam tradisi hadist Rasulullah. Istilah hadist maudhu’ (bohong) dapat membawa kepada kesesatan, kebinasaan dan kecelakaan besar. Beberapa ayat al Qur’an yang menegaskan tentang kejujuran ini dengan sebutan shidiq, amanah. Dengan komitmen kejujuran dalam menyampaikan berita seperti di atas, maka seorang muslim dalam berkomunikasi menurut al Qur’an tidak boleh berdusta (QS:31:6)

  1. Adil

Adil adalah tidak memihak. Dalam menjelaskan proses berkomunikasi al Qur’an telah membimbing kita agar berkomunikasi secara adil dan tidak memihak. Adil dan tidak memihak yang dimaksud disini adalah tidak mengabaikan status sosial seseorang atau kelompok ketika kita harus menyampaikan seluruh informasi. Bagaimana kita agar berkomunikasi atau menyampaiakan informasi secara seimbang baik terhadap kaum kerabat, pejabat dan dengan fakir miskin sekalipun. Kata adil yang erat kaitannya dengan komunikasi atau penyampaian informasi terdapat pada (Q.S. 6: 152)

Seorang jurnalis yang adil, akan menempatkan dirinya untuk tidak menimbulkan keberpihakan. Karena kata adil juga berarti sama dan seimbang dalam memberikan balasan, seperti qishas, diat dan berbagai pidana lainnya. Seorang jurnalis yang adil juga menyangkut keberanian untuk mengatakan yang benar dan yang salah terhadap siapapun.

  1. Bertanggung jawab

Bertanggung jawab. Sikap bertanggung jawab merupakan sikap yang sangat penting untuk dipelihara dalam prilaku seorang muslim dalam segala aktifitasnya. Al Qur’an sangat banyak mengingatkan kita agar bertanggung jawab terhadap setiap pesan dan janji yang telah kita sampaikan. Rasa tanggung jawab secara tegas telah mengingatkan kepada kita ini bukan hanya dikarenakan pesan yang disampaiakan tersebut menyangkut kepentingan seseorang atau kelompok, melainkan kesadaran yang tinggi terhadap Allah swt. Seorang jurnalis yang bertanggung jawab akan menganalisa setiap perkataan dengan hati-hati, memperhitungkan setiap akibat yang mungkin dan secara sadar menimbang dengan nilai-nilai Islam.

  1. Benar-benar akurat

Informasi dan pesan yang akurat. Penyampaian informasi yang tidak jelas sumbernya dan valid datanya adalah sangat potensial untuk menimbulkan fitnah. Maka dengan itu al Qur’an secara tegas telah mengingatkan kepada kita agar sangat berhati-hati dan tidak terjebak kepada informasi bohong.

  1. Dan lain-lain

 

Itulah Islam agama yang indah dan sangat toleran terhadap semua agama dan semua golongan manusia, agama yang rahmatallil’alamin. Tergantung kepada orang Islam sajalah yang harus menyadarkan diri, bagaimana dapat menyeimbangkan jurnalis Islam dengan jurnalis barat sebagai media dakwah Islamiyah. Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa dakwah adalah bentuk yang teristimewa dari komunikasi, maka media-media komunikasi dapat dipergunakan untuk berdakwah.

Walaupun komunikasi Islam terbilang baru, dan belum mampu menyeimbangkan informasi dengan dunia Barta, tetapi paling tidak di Indonesia pada era reformasi ini, pers berbasis agama bermunculan. Kebanyakan adalah pers Islam. Beberapa penerbitan Islam yang lahir di masa reformasi antara lain Sabili, Hidayah, Suara Islam, Hidayatullah, dan lain-lainnya yang berbasis agama. Itu menunjukkan jurnalis Islam cukup peduli terhadap perkembangan dunia pers saat ini.

Disayangkan, yang terjadi sekarang pada sebuah media adalah, media yang lebih ideologis umumnya muncul dengan konstruksi realitas yang bersifat pembelaan terhadap kelompok yang sealiran, dan penyerangan terhadap kelompok yang berbeda haluan. Oleh karena itu untuk menyeimbangkan jurnalisme Islam dengan jurnalis Barat, tidak berlebihan jika penulis menawarkan konsep yang ada di dalam al-Quran surat al-‘Imran ayat 103 (dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…).      

Ajaran Islam itu tidak hanya sekedar ditulis di atas kertas, akan tetapi ajaran Islam itu dapat diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Apapun profesi kita, prinsip-prinsip ajaran Islam wajib dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Makanya antara jurnalistik secara umum dengan jurnalistik Islam ada segi perbedaan, tidak hanya sekedar menyampaikan informasi, akan tetapi bagaimana informasi dapat merubah manusia ke arah yang lebih baik, adil dan manusiawi.

 

V. Prinsip Jurnalisti Islam

Catatan sejarah Islam menunjukkan, komunikasi Nabi Muhammad saw dalam menyampaikan pesan atau informasi mengenai nilai-nilai, dan ajaran Islam, frekuensinya cukup tinggi dan variatif, guna menata kehidupan manusia yang seimbang. Melalui proses komunikasi, Nabi Muhammad telah mengekspresikan ajaran Islam, memberi pengertian, mempengaruhi interpretasi dan merubah prilaku manusia. Pada proses komunikasi yang membawa efek kebersamaan ternyata dapat menciptakan saling kebergantungan antara satu dengan yang lainnya dengan ukhuwah Islamiyah maupun dalam kerangka jihad.

Fenomena menarik lainnya dari isyarat komunikasi Islam adalah, komunikasi berlangsung sebagai tindakan internasional dalam menjawab berbagai persoalan, memunculkan gagasan atau ide-ide yang dimunculkan dari proses komunikasi itu sendiri. Kajian Komunikasi Islam tidak terlepas dari prinsip-prinsip Fundamental begitu juga halnya dengan jurnalistik Islam, yang menjadi krangka dasar bangunan Islam dalam tatanan kehidupan yang seimbang antara duniawi dan ukhrawi. Bangunan Islam dibentuk oleh etika religious Islam. Oleh karena itu jurnalistik Islam harus ditopang oleh pilar bangunan itu dalam bergerak menuju masa depan yang lebih baik.

1. Prinsip Tauhid. Dalam Islam pandangan yang palin utama dan paling mendasar mengenai manusia dan jagat raya adalah tauhid. Dari pilar satu memunculkan tuntunan akan pengabdian manusia kepada Tuhan sang Pencipta. Dengan menggunakan konsep ketuhanan, maka jurnalistik Islam dalam merebut tempat bagi manusia, untuk otoritas dan lembaga harus dalam kerangka pengabdian kepada Allah. Dengan demikian konsep tauhid jika dilaksanakan akan memberikan prinsip dalam menentukan batas legitimasi atau suatu sistem dalam jurnalistik Islam.

2. Prinsip Tanggung Jawab. Dalam persepektif agama, maka Islam dilihat sebagai agama yang bersifat mission, dimana syiar-syiar pesannya harus terus berlangsung dalam kehidupan manusia. Dengan prinsip tanggung jawab, maka jurnalistik Islam mempunyai visi dan misi serta komitmen yang tinggi dalam menyadari jurnalistik Islam adalah amanah Sang Khalik yang akan dimintai pertanggung jawabannya. Oleh karena itu pada koridor ini prinsip jurnalistik Islam adalah dalam doktrin “amar ma’ruf nahi munkar” (QS. 3:10).

3. Prinsip Ummah/hablum minannas

Jurnalistik Islam tidak terlepas dari misi ajaran agama Islam, dimana misi itupun terdapat dalam al Qur’an dan hadist. Sedangkan pada proses komunikasinya, kedudukan al Qur’an dan hadist adalah sebagai sumber/rujukan dari pprilaku komunikasi dan pesan-pesan yang disampaiakan. Dilihat dari persepektif ini maka jurnalistik Islam berada pada siklus al-Qur’an dan hadist yang inipun sekaligus menjadi ciri khasnya. Dalam proses komunikasi antar manusia al Qur’an telah memberikan ketentuan-ketentuan yang disimpulkan menjadi enam prinsip yaitu: Qaulan sadidan (QS. 4 ; 9-33:70), qaulan balighan (QS. 4:630, qaulan maysuran (QS. 17:33), qaulan layyinan (QS. 20:44), qaulan kariman (QS. 17:23), dan qaulan ma’rufan (QS. 4:5). Keenam prinsip ini merupakan kata kunci yang mengajarkan manusia bagaimana seharusnya ia berkomunikasi  pada saat komunikasi itu berlangsung.

 

  1. Kesimpulan

Jurnalistik/Wartawan adalah salah satu gatekeeper yang ikut menentukan hitam-putihnya informasi pada media komunikasi massa. Maka sangat dibutuhkan profesionalisme seorang jurnalisme Islam dalam menyampaikan Informasi.

Fikih Jurnalistik adalah hal-hal yang harus ditempuh, sesuai dengan hukum Islam, dalam berbagai kegiatan jurnalistik yang meliputi mencarai, memperoleh, memiliki, menyimpan, menolah dan menyampaiakn informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan media yang tersedia. Atau kumpulan hukum syari’at yang berhubungan sebagian tahap kerja jurnalistik, hingga sampai pada tujuannya.

Sehingga apabila seorang jurnalis menempuh hal-hal yang terdapat dalam fikir jurnalistik tersebut maka penulis menyakini akan terciptanya jurnalistik-jurnalistik yang profesional, berakhlak mulia dan disenangi juga disayangi oleh masyarakat pada umumnya, dan kalau diperhatikan antara UU pers dengan kode etik jurnalistik itu sangat sesuai dengan ajaran atau norma-norma dalam Islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Quran Terjemah, 2007, Depag Jakarta.

Suf Kasman.  2004, Jurnalisme Universal (Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah Bi Al-Qalam Dalam Al-Quran), Khazanah Pustaka Keilmuan: Jakarta.

 Asep Saeful Muhtadi.  1999, Jurnalistik Pendekatan Teori dan Peraktek), Logos:Jakarta.

Syukur Kholil, 1999, Liputan Agensi-Agensi Berita Internasional Tentang Dunia Islam Dalam Surat Kabar Indonesia, Medan.

Tatarian, R 1978, News Flow in the Third World : An Overview. Dalam Philip, C.H (Ed), The Third World and Press Freedom. New York: Praeger Publisher dalam Kholil, Syukur, 1999, Liputan Agensi-Agensi Berita Internasional Tentang Dunia Islam Dalam Surat Kabar Indonesia, Medan.

Roy Pakpahan. 1998. Penuntun jurnalistik Terpadu Bagi Kalangan LSM. Jakarta INPI-Pact-SMPI.

Onong Uchana Efendy. 1988. Ilmu Komunikasi Teori dan praktek. Bandung: remadja Rosda Karya.

Drs. J.B. Wahyudi. 1991. Komunikasi Jurnalistik Pengetahuan Praktis Kewartawanan Surat Klabar, Majalah, Radio dan Televisi. Bandung: Penerbit  Alumn.

Dja,far Husin Assegaff. 1985. Jurnalistik Masa Kini  Pengantar Ke Praktek Kewartawanan. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Curtis D. MacDougall, Interpretatif reporting, Macmillan Publishing Co., Inc., New Yoek, 1972 dalam buku Prof. Dr. Muhammad Budyatna, M.A. 2006, Jurnalistik Teori dan Praktek, Bandung: Rosda Karya

Adinegoro. Publisistik dan Djurnalistik, Gunung Agung Jakarta, tahun 1961.

 

 


                [1] Prof. Dr. Muhammad Budyatna, M.A.2006.  Jurnalistyik Teori dan Praktek, Bandung : Rosdakarya, hlm. 3.

                [2] Ibnu Hamad. 2004. Konstruksi Realitas politik Dalam Media Massa. Granit: Jakarta, hlm. 11-12.

[3] http//: kancahkreatif.blogspot.com/2011/02pers-dalam-Islam-dakwah-bilqalam.html

                [4] Roy Pakpahan. 1998. Penuntun jurnalistik Terpadu Bagi Kalangan LSM. Jakarta INPI-Pact-SMPI, hlm. 1.

                [5] Onong Uchana Efendy. 1988. Ilmu Komunikasi Teori dan praktek. Bandung: remadja Rosda Karya, hlm. 196.

                [6] Drs. J.B. Wahyudi. 1991. Komunikasi Jurnalistik Pengetahuan Praktis Kewartawanan Surat Klabar, Majalah, Radio dan Televisi. Bandung: Penerbit  Alumn, hlm. 86.

                [7] Dja,far Husin Assegaff. 1985. Jurnalistik Masa Kini  Pengantar Ke Praktek Kewartawanan. Jakarta : Ghalia Indonesia, hlm. 9.

                [8] Curtis D. MacDougall, Interpretatif reporting, Macmillan Publishing Co., Inc., New Yoek, 1972 dalam buku Prof. Dr. Muhammad Budyatna, M.A. 2006, Jurnalistik Teori dan Praktek, Bandung: Rosda Karya, hlm. 15

                [9] Onong. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Citra Aditiya Bakti, 2003. hlm 95-96.

                [10] Adinegoro. Publisistik dan Djurnalistik, Gunung Agung Jakarta, tahun 1961. Dalam Op-cit. Wahyudi hlm. 86.

                [11] M.L. Stein, 1988, Bagaimana Menjadi Wartawan, terjemahan Nancy Simanjuntak. Jakarta : Bina Aksara, hlm.48.

                [12] Luwi Ishwara. 2007. Catata-Catatan Jurnalisme Dasar. Kompas: Jakarta, hlm. 15-16 dalam Lois W. Hodges, “defining Press Responsibility”, dalam Deni Elliot (ed), “Responsible Journalisme (Beverly Hills: sage Publication, 1986).

                [13]Asep Saeful Muhtadi.  1999, Jurnalistik Pendekatan Teori dan Peraktek), Logos:Jakarta, hlm. 35. Dalam Assegaff, tahun 1985 halaman 19./

                [14]Op-cit. Luwi Ishwara. hlm. 7-13.

                [15] http://id.wikisource.org/wiki/kode_etik_jurnalistik.diunduh padatanggal 5 September 2013

                [16]Suf Kasman.  2004, Jurnalisme Universal (Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah Bi Al-Qalam Dalam Al-Quran), Khazanah Pustaka Keilmuan: Jakarta, hlm xi.

                [17] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Tarjemah, (3:104).

                [18] Dr. H. Syukur Kholil, MA. 2007, Komunikasi Islam, Bandung: Citapustaka Media, hlm. 6

                [19] Al-Quran dan terjemah, surat al-Imaran ayat 104.

            [20] Tatarian, R 1978, News Flow in the Third World : An Overview. Dalam Philip, C.H (Ed), The Third World and Press Freedom. New York: Praeger Publisher dalam Kholil, Syukur, 1999, Liputan Agensi-Agensi Berita Internasional Tentang Dunia Islam Dalam Surat Kabar Indonesia, Medan, hlm.1.

               

                [21] Galtung (1992) dalam Ibid Syukur Kholil, hlm. 88.

                [22]  Op-Cit. Syukur Kholil. 1999. Hlm. 89.

                [23]  Op-cit. Asep Saeful Muhtadi.   hlm. 14

SEJARAH PERKEMBANGAN PERIKLANAN

Posted on

Abstraksi

            Iklan yang memuat sebuah pesan dan disampaikan oleh komunikator ternyata telah ada sejak ribuan tahun silam. Pada mulanya berbentuk sangat sederhana yakni disampaikan melalui lisan. Perkembangannya pun mengalami perubahan yang sangat signifikan. Ditandai dengan metode dan media dari alamiah sampai kepada ilmiah, antara lain adalah:  melalui lisan/komunikasi langsung (word of mouth), gesture/bahasa tubuh,  berteriak di gerbang kota, dan  pesan berantai yang berupa pengumuman. Selain itu, iklan pada masanya juga menggunakan ukiran (pada kepingan tanah liat), pahatan di piramida, relief di dinding-dinding bangunan, logo, tanda, serta simbol-simbol visual (papan nama). Melalui tulisan medianya berupa: batu, tanah liat, papirus, kulit binatang, dan juga kertas. Namun sekarang seiring perubahan besar sejak manusia mengenal teknologi bahkan kini semakin canggih, iklan turut mengalami perubahan yang begitu luar biasa. Metode dan media yang tadinya tradisional berubah dan berkembang semakin kontemporer. Alhasil, kemasannya pun semakin kreatif dan inovatif.      

Kata kunci:  iklan, periklanan, advertising, persuasif.     

A. Antara Iklan dan Periklanan                                                                 

Iklan dan periklanan adalah dua hal yang berbeda namun memiliki hubungan yang berkaitan erat satu sama lainnya. Jika iklan merujuk kepada satu bentuk atau hasil dari serangkaian proses yang berkepanjangan, sementara periklanan merupakan manifestasi ataupun kegiatan untuk menghasilkan sebuah iklan. Periklanan tidaklah sesederhana bahasanya, tetapi mencakup beberapa tahapan yang panjang. Tidak hanya berbicara mengenai menciptakan sebuah iklan, istilah ini juga merambah kepada proses atau kegiatan setelahnya yakni mempromosikan, memasarkan, dan rentetan kegiatan lainnya.

Istilah iklan (bahasa Melayu) berasal dari kata I’lan (bahasa Arab) yang artinya meneriakkan secara berulang-ulang. Istilah lain dari iklan adalah reklame, pengaruh bahasa Perancis reclame yang asalnya dari bahasa Latin reclamare, artinya menyerukan. Di masa lalu banyak orang Indonesia menyebutnya advertensi, terpengaruh bahasa Belanda advertentie. Saat ini orang lebih akrab dengan istilah advertising (bahasa Inggris), berasal dari bahasa Latin advertere yang artinya berpaling, memusatkan perhatian kepada sesuatu. Jadi, secara sederhana iklan dapat diartikan menyerukan informasi atau membuat audiens berpaling, memperhatikan pesan.[1]

Definisi mengenai iklan pun beragam ada yang berpendapat bahwa iklan ialah tindakan-tindakan yang ditujukan untuk menarik perhatian umum atas suatu jenis barang atau jasa dengan cara membangkitkan keinginan pembeli guna memiliki barang atau jasa tersebut. Pendapat lain mengatakan iklan merupakan suatu kekuatan yang menarik yang ditujukan kepada kelompok pembeli tertentu. Hal ini dilaksanakan oleh produsen atau pedagang supaya dapat mempengaruhi penjualan barang atau jasa dengan cara yang menguntungkan baginya.

Menurut salah satu ahli iklan adalah penyampaian pesan lewat media-media secara sugestif untuk mengubah, menggerakkan tingkah laku atau minat masyarakat untuk melakukan sesuatu yang bersifat positif.[2] Sedangkan menurut pakar periklanan dari Amerika, S. William Pattis (1993) iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi dan mempromosikan produk dan jasa kepada seseorang atau pembeli yang potensial. Tujuannya adalah mempengaruhi calon konsumen untuk berfikir dan bertindak sesuai dengan keinginan si pemasang iklan.[3]

Iklan atau advertising dapat didefinisikan sebagai “any paid form of nonpersonal communication about an organization, product, service, or idea by an identified sponsor (setiap bentuk komunikasi nonpersonal mengenai suatu organisasi, produk, servis, atau ide yang dibayar oleh satu sponsor yang diketahui).[4]

Pengertian lainnya, iklan adalah seni menyampaikan apa yang ditawarkan atau dijual untuk mendapatkan perhatian dan menempatkan produk secara unik kedalam pikiran konsumen dengan alat bantu. Iklan juga disebut sebagai segala bentuk pesan tentang suatu produk atau jasa yang disampaikan lewat suatu media dan ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat. Ada tiga istilah yang umum dipakai di Indonesia untuk menyebut advertising:

  • Reklame: Reclame (Belanda), Reclamare (Perancis)
  • Advertensi: Advertentie (Belanda), Advertising (Inggris), Ad-vertere (Latin: Pengoperan gagasan ke pihak lain)
  • Iklan: I’lan atau I’lanun artinya informasi (Arab)

Tampaknya istilah dari Arab inilah (yaitu I’lan, yang oleh karena menggunakan lidah Indonesia melafalkannya menjadi kata ‘iklan’) kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia untuk menyebut advertensi.[5]

Beberapa ahli memaknai iklan dalam beberapa pengertian. Ada yang mengartikan dalam sudut pandang komunikasi, murni periklanan, pemasaran, dan ada pula yang memaknai dalam perspektif psikologi. Kesemua definisi tersebut membawa konsekuensi arah yang berbeda-beda. Bila dalam perspektif komunikasi cenderung menekankan sebagai proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan. Dalam perspektif iklan cenderung menekankan pada aspek penyampaian pesan yang kreatif dan persuasif yang disampaikan melalui media khusus. Perspektif pemasaran lebih menekankan pemaknaan iklan sebagai alat pemasaran, yaitu menjual produk. Sementara dalam perspektif psikologi lebih menekankan aspek persuasif pesan.[6]

Dari pengertian iklan sebagaimana telah disebutkan sekalipun terdapat beberapa perspektif yang berbeda-beda, namun sebagian besar definisi mempunyai kesamaan. Kesamaan tersebut dapat dirangkum dalam bentuk prinsip pengertian iklan, dimana dalam iklan mengandung enam prinsip dasar, yaitu: (1) adanya pesan tertentu, (2) dilakukan oleh komunikator / sponsor, (3) dilakukan dengan cara non personal, (4) disampaikan untuk khalayak tertentu, (5) dilakukan dengan cara membayar, dan (6) mengharapkan dampak tertentu.[7]

Berkaitan dengan istilah berikutnya yakni periklanan, menurut Rendra Widyatama dalam bukunya Pengantar Periklanan istilah ini di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh Soedardjo Tjokrosisworo (seorang tokoh pers nasional).

Periklanan adalah komunikasi komersil dan nonpersonal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khalayak target melalui media bersifat massal seperti televisi, radio, koran, majalah, direct mail (pengeposan langsung), reklame luar ruang, atau kendaraan umum.[8]

Definisi lain dari periklanan adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan pembuat barang, atau pemasok jasa dengan masyarakat banyak atau sekelompok orang tertentu yang bertujuan untuk menunjang upaya pemasaran. Komunikasi dilakukan dengan menggunakan gambar, suara atau kata-kata, gerak atau bau yang disalurkan melalui media atau secara langsung.[9]

Di Indonesia, Masyarakat Periklanan Indonesia mengartikan iklan sebagai segala bentuk pesan tentang suatu produk atau jasa yang disampaikan lewat suatu media dan ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat. Sementara istilah periklanan diartikan sebagai keseluruhan proses yang meliputi persiapan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan penyampaian iklan.[10]

Jadi dari beragam uraian definisi yang telah diberikan di antara keduanya baik iklan maupun periklanan, jelaslah bahwa iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi, sedangkan periklanan merujuk kepada hal yang lebih kompleks lagi yaitu perjalanan panjang sebuah bentuk komunikasi atau apa yang disebut dengan iklan. Disinilah letak perbedaan sekaligus keterkaitan antara keduanya.

B. Sejarah Periklanan

            Mungkin kita tidak menyadari, bahwa ternyata iklan sebenarnya merupakan praktek penyampaian pesan yang sudah lama dilakukan manusia. Bahkan sejak zaman Neolitikum (kira-kira 5000 tahun Sebelum Masehi), orang sudah melakukan apa yang sekarang sebut dengan beriklan. Mengapa? Jawabnya cukup sederhana. Sebagaimana telah disebutkan, iklan pada prinsipnya adalah sebuah upaya penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan, maka aktivitas tersebut, sama dengan kegiatan komunikasi. Jadi secara prinsip, aktivitas iklan adalah aktivitas komunikasi.[11]

 

1. Periklanan Klasik

            Pada masa ini iklan memiliki bentuk yang sangat sederhana karena lahirnya secara alamiah, sebagian terjalin dalam bentuk sehari-hari di tengah masyarakat yang masih berada pada era yang jauh tertinggal dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi. Ditambah lagi bahasa yang mereka miliki ikut menentukan baik model ataupun metode hingga media beriklan pada waktu itu.

1.1. Awal munculnya Iklan

Menurut Jack Angel (1980), bentuk iklan yang paling awal adalah disampaikan melalui komunikasi lisan. Yaitu penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikannya dalam bentuk personal yang dilakukan secara tatap muka melalui mulut ke mulut (word of mouth). Praktek semacam ini oleh para ahli sejarah periklanan disebut sebagai bentuk mentransfer pesan. Apakah dalam penyampaian ide tersebut menggunakan media atau tidak, tidak banyak dipersoalkan. Bentuk kegiatan iklan semacam ini terjadi khususnya ketika zaman Batu Muda, yang terjadi kurang lebih 5000 tahun sebelum masehi. Pada saat itu, manusia saling menukar barang yang mereka miliki dengan saling berkomunikasi melalui komunikasi lisan. Anda jangan membayangkan bahasa yang digunakan dalam menyampaikan pesan tersebut seperti bahasa yang kita gunakan sekarang.[12]

Pada saat itu, bahasa yang disampaikan masih sangat sederhana dan cenderung sangat tidak terstruktur dengan baik dan efektif. Bahkan karena belum banyak terjadi kesepakatan dalam melambangkan sebuah konsep dan ide dalam sebentuk kata-kata, pesan akhirnya banyak disampaikan dengan bantuan bentuk komunikasi non verbal visual melalui gerak tubuh (gestural). Pesan yang disampaikan sangat sederhana. Visualisasi pesan menjadi ikut berperan dan sangat dibutuhkan. Artinya masyarakat lebih mudah menyampaikan pesan bilamana benda yang dipercakapkan ada di depan mata. Sebaliknya, bilamana obyek yang diperbincangkan tidak dilihat secara bersama, maka kesulitan komunikasi akan terjadi. Dengan demikian, iklan yang mereka lakukan umumnya membutuhkan kehadiran barang.[13]

Para arkeolog meyakini, advertising sudah ada sejak zaman dulu. Advertising dilakukan dalam berbagai bentuk mempublikasikan berbagai peristiwa (event) dan tawaran (offers). Metode iklan pertama yang dilakukan oleh manusia sangat sederhana. Pemilik barang yang ingin menjual barangnya akan berteriak di gerbang kota menawarkan barangnya pada pengunjung yang masuk ke kota tersebut. Iklan sudah dikenal manusia dalam bentuk pesan berantai (word of mouth) yang bentuknya pengumuman-pengumuman. Pesan berantai itu disampaikan dari mulut ke mulut untuk membantu kelancaran proses jual-beli.[14]

Dalam ribuan tahun-tahun awal orang beriklan untuk mempromosikan dua hal, tempat dan jasa. Pesan iklan dalam bentuk tertulis mulai ditemukan pada masa Babylonia 3000 SM berupa kepingan tanah liat (clay tablet) bertuliskan prasasti tentang pedagang salep, penulis dan pembuat sepatu.[15]

Peninggalan Mesir dan Yunani Kuno berupa pengumuman-pengumuman di dinding dan naskah di daun papirus, memberikan pengumuman tentang datangnya kapal pembawa anggur, rempah-rempah, logam barang-barang dagangan baru, acara-acara (pertarungan gladiator) yang bakal digelar, budak yang lari dari tuannya. Orang-orang Roma mengecat dinding untuk mengumumkan perkelahian gladiator. Iklan pada zaman ini hanya berupa surat edaran. Karena masih banyak yang buta huruf, pengumuman-pengumuman itu dibacakan oleh tukang teriak kota (town crier) yang biasa didampingi pemain musik.[16]

Pada masa Yunani Kuno, praktek periklanan lisan masih banyak dilakukan oleh para penjaja barang (salesman) yang berteriak keliling kota. Menurut Jack Angel (1980), praktek periklanan semacam ini mendapat tempat karena kebanyakan masyarakat (sekalipun kelas atas), banyak yang tidak mampu baca tulis. Mereka akan lebih mengerti simbol-simbol visual bukan tertulis dan komunikasi verbal.[17]

Di kota Athena misalnya, para penjaja tersebut menawarkan produk kosmetik merek Aesclyptos yang saat itu sangat terkenal. Dalam menawarkan kosmetiknya, para penjual mengkomunikasikannya melalui nyanyian semacam puisi. Bentuk nyanyian itu mereka gunakan untuk lebih memikat calon konsumen. Salah satu contoh dari syair puisi yang disampaikan tersebut sebagaimana dituliskan oleh Dunn (Dunn & Barban, 1978);

“For eyes that are shining, for cheeks like the dawn,

                        for beauty that lasts after girl hood is gone

                        for prices in reason, the woman who knows,

                        will buy her cosmetics of Aesclyptos.”

 

Bila syair tersebut diterjemahkan secara bebas berarti:

“Demi mata bersinar, demi pipi bagaikan fajar,

Demi kecantikan yang hanya akan sirna sesudah masa remaja itu purna,

Demi harga sebagai alasannya, kaum wanita yang mengerti,

Akan membeli kosmetik Aesclyptos.”[18]

 

Lewat barisan kata-kata yang tertuang dalam puisi tersebut tampak bahwa bahasa persuasif iklan sudah ada dan dikenal dalam metode beriklan pada masa itu. Dengan gaya bahasa memujuk / merayu tersirat fakta bahwa metode beriklan pada masa ini mengalami peningkatan / perubahan.

Bangsa Mesopotamia dan Babilonia di zamannya terkenal memiliki peradaban modern. Pedagang-pedagang mereka menyewa perahu-perahu dan mengutus pedagang keliling mengantar hasil produksi ke konsumen mereka yang tinggal jauh di pedalaman. Di zaman ini pedagang keliling dan model pemasaran dari pintu ke pintu (door to door) sudah dikenal dan menjadi model pemasaran utama. Sementara itu di belahan dunia lain seperti Mesir terlihat pula proses penyebaran informasi tentang barang kepada konsumen dilakukan melalui pahatan di dinding piramida.[19]

Kemudian bentuk iklan mengalami perkembangan menjadi relief-relief yang diukir pada dinding-dinding. Penggalian puing-puing Herculaneum membuktikan hal itu, yakni ketika ditemukan gambar dinding yang mengumumkan rencana penyelenggaraan pesta pertarungan gladiator. Pada zaman Caesar, banyak toko di kota-kota besar yang telah memulai memakai tanda dan simbol atau papan nama. Itulah media utama dalam beriklan pada masyarakat Romawi di masa itu.[20]

Menurut Rendra Widyatama dalam bukunya Pengantar Periklanan bahwa pada masa itu juga metode beriklan melalui logo, tanda (sign) dan simbol-simbol visual ditujukan untuk menandakan ciri khas produk mereka dengan produk yang lain, sekaligus sebagai penanda keunggulan produknya. Selain itu beliau menambahkan metode beriklan seperti ini juga dilakukan untuk menyampaikan pesan propaganda politik. Hal ini dibuktikan lagi saat penggalian reruntuhan kota Herculaneum persis di kota Pompei. Puing-puing tersebut menunjukkan bahwa beriklan saat itu tidak hanya berkaitan dengan pesan produk namun juga merambah kepada pesan politik yang dilakukan oleh para politisi dalam bentuk grafiti sebagai propaganda guna menarik masyarakat agar memilih dirinya saat pemilihan umum. Iklan yang sama juga banyak dijumpai di Yunani.

Kondisi tersebut terjadi di Eropa pada masa Julius Caesar banyak toko dan penginapan yang sudah pakai tanda, papan nama, atau simbol, untuk membantu mereka yang buta huruf. Misalnya penginapan dengan simbol Man in The Moon, Three Squirrels, Hole in The Wall. Sementara itu bukti-bukti adanya pesan politik yang tampak di Pompei berupa banyaknya lukisan seorang tokoh politisi dan meminta dukungan suara dari masyarakatnya.[21]

Periklanan di zaman Romawi nampaknya lebih maju selangkah dari cara-cara yang dilakukan sebelumnya. Selain karena penyebaran informasi secara sepihak melalui pahatan pada dinding kota (relief) maka telah terjalin sistem pertukaran informasi secara cepat antara produsen dan konsumen. Keistimewaan sistem perdagangan di zaman Romawi nampak karena mereka mulai mengarahkan pesan dan produk pada segmen pasar jelas karena segmen itu telah direncanakan terlebih dahulu. Dimana pengantaran barang dilakukan setelah konsumen dipersuasi dengan informasi tentang barang-barang tersebut. Pada zaman Romawi ini penggunaan tanda, simbol atau papan nama juga mulai banyak dipasang di toko-toko. Bukti ini bisa dilihat dari stempel batu milik T. Vindaius Ariovertstus yang isinya menjajakan “obat paling mujarab dan tidak terkalahkan” dengan merek Chloron yang ditemukan di Inggris.[22]

Ketika manusia mulai mengenal tulisan, praktek beriklan sebagaimana era sekarang baru mulai dilakukan. Pada zaman ini, bentuk iklan sudah bergerak maju yaitu menggunakan sarana media tulis. Saat itu media iklan yang paling banyak digunakan adalah media yang disediakan oleh alam, seperti batu, tanah liat, daun papirus, kulit binatang, dan semacamnya. Sekalipun sudah mengenal tulisan, namun kegiatan beriklan yang disampaikan melalui komunikasi lisan tidak serta merta berhenti. Penyampaian pesan iklan melalui komunikasi lisan terus dilakukan.[23]

Perkembangan iklan juga bertambah lagi setelah manusia menemukan kertas menggantikan media tulis yang ada. Menurut literatur, Cina merupakan bangsa pertama yang menemukan kertas, yaitu pada tahun 1275. Melalui media ini, manusia tidak lagi banyak menggunakan kulit binatang, dedaunan, batu dan tanah liat untuk menuliskan pesan iklannya.[24] Menurut Burhan Bungin dalam bukunya Konstruksi Sosial Media Massa, pada masa ini kebiasaan menulis iklan dalam bentuk relief mulai dialihkan ke kertas. Dijelaskannya pula bahwa peralihan pesan-pesan iklan dari relief kota Pompei ke atas kertas untuk pertama kali dilakukan di Cina di saat kertas ditemukan. Selanjutnya dikembangkan dengan penemuan mesin cetak yang pertama kali oleh Guttenberg di Mainz, Jerman. Dari sini dimulailah penyebaran pesan iklan melalui media cetak.[25]

 

1.2 Setelah Mesin Cetak Ditemukan

            Ketika sistem percetakan ditemukan oleh Guttenberg pada tahun 1450 dan muncul sejumlah surat kabar mingguan, iklan semakin sering digunakan untuk kepentingan komersial. Pada masa ini juga lahir majalah, poster, pamflet, dan sebagainya, maka iklan kemudian berkembang sangat pesat. Namun perkembangan periklanan pada masa-masa sesudah itu menunjukkan sejarah yang amat sulit, terutama merencanakan perkembangan proses perhatian yang spesifik dan informasi ke dalam sistem pelembagaan informasi komersial dan persuasi, dikaitkan dengan perubahan masyarakat dan ekonomi.[26]

Penyebaran informasi periklanan pada seluruh periode dalam masyarakat Inggris, yaitu melalui para penulis, penyiar, dan wartawan. Mereka memulainya pada beberapa organisasi dalam 17 abad lalu dengan mendirikan majalah dan surat kabar.[27] Iklan cetak pertama muncul di Inggris tahun 1472, yaitu berbentuk poster tentang terbitnya buku-buku doa gereja. Iklan Siquis muncul di Inggris pada akhir abad 15 berupa iklan tempel (want ad/iklan cari). Iklan ini mengandung unsur “siapapun mengetahui” atau “siapapun yang menginginkan”. Surat kabar pertama terbit di London tahun 1650, surat kabar tersebut menggunakan cara-cara pemberitaan berbentuk iklan.[28]

Dengan pertumbuhan yang begitu pesat dari surat kabar di tahun 1690-an, volume periklanan juga terus meningkat pesat. Walaupun sifatnya terbatas, namun para produsen barang dan jasa telah membiayai periklanan, karena mereka tahu bagaimana cara mendapatkan keuntungan darinya. Sehingga dari buku dan alat tulis, kosmetik dan barang-barang lainnya, mulai menggunakan jasa periklanan, dengan begitu periklanan makin lama makin berkembang.[29]

Pada tahun 1650 The Weekly News, mulai menyertakan iklan. Awalnya iklan yang dipasang masih bersifat terselubung, karena masih belum dikenal cara-cara yang lebih profesional dalam penanganannya. Barang-barang yang ditawarkan umumnya tentang barang kebutuhan pribadi dan keluarga, semacam makanan ringan, obat-obatan dan perumahan. Banyaknya iklan obat-obatan karena di Inggris saat itu tengah berjangkit banyak penyakit yang menyebabkan puluhan ribu orang meninggal dunia.[30]

Perkembangan iklan makin meningkat ketika masa revolusi industri terjadi. Iklan cetak berkembang lebih cepat di Inggris ketika Richard Steele menerbitkan surat kabar bertajuk Tatler pada tahun 1709. Pada tahun 1711 Richard Steele bersama-sama dengan Joseph Addison menerbitkan surat kabar Spectators didominasi oleh iklan-iklan produk minuman (seperti teh, kopi, dan coklat), iklan real estate, buku, mainan anak, obat-obatan, iklan personal (pernikahan, kematian, mutasi pekerjaan dan lain-lain) serta iklan lowongan pekerjaan. Kedua adalah adanya kecepatan pembangunan infrastruktur seperti jaringan kereta api, jalan raya, lalu lintas perairan, sehingga semakin mempermudah distribusi produk industri dan penyebaran media periklanan.[31]

Faktor lain atas pesatnya perkembangan periklanan juga didorong oleh suksesnya berbagai penerbitan yang ada. Agaknya, berbagai penerbitan tersebut juga dapat tumbuh karena masyarakat yang dapat membaca terus mengalami peningkatan. Bisnis periklanan juga makin bertambah pesat pada tahun 1920 ketika dunia cetak-mencetak mulai mampu menerbitkan materi cetakan secara berwarna. Selain itu, pesatnya bidang periklanan juga ditopang dengan digunakannya teknik-teknik baru dalam beriklan sebagaimana dikenalkan oleh para pekerja periklanan semacam Benyamin Franklin, Edgar Allan Poe, oleh J Walter Thompson, George Rowell, Francis Wayland Ayer dan sebagainya.[32]

Perkembangan masyarakat terus berlangsung, iklan pun terus berkembang seirama sejarah peradaban manusia pada suatu masa. Pada awal abad ke-16 dan 17, iklan terbanyak yang tampil adalah iklan yang berhubungan dengan budak belian, kuda, serta produk-produk baru seperti buku dan obat-obatan. Sedangkan Amerika Serikat sendiri baru memulai mengenal iklan pada awal abad ke-18. Iklan yang berkembang pada masa itu ditujukan untuk masyarakat Eropa yang ditujukan untuk menjual tanah-tanah garapan di Amerika. Salah satu iklan itu menyebutkan tersedianya tanah perkebunan seluas 150 hektar di daerah Philadelphia.[33]

Perdagangan periklanan tidak mudah diprediksi dan tidak mudah pula untuk menentukan perkembangannya. Di Cina, perubahan yang mendasar tidak sederhana dan harus dimengerti dalam hubungan perkembangan yang khusus pula. Misalnya, walaupun perusahaan produksi yang jumlahnya banyak, namun periklanan menjadi kebutuhan vital demi kepentingan ekonomi. Pada tahun 1850-an, satu abad setelah Johnson mengkritik perkembangan periklanan di Inggris yang sudah memasuki era industrialisasi, periklanan di surat kabar semakin besar.[34]

Di Amerika surat kabar yang pertama memasang iklan adalah Boston Newsletter pada tahun 1704. Benjamin Franklin dipandang sebagai orang Amerika pertama yang memperkaya informasi dari iklan dengan menambah suatu tekanan pada segi ilustrasi sehingga efek iklan makin kuat.[35]

Lembaga periklanan pertama di AS didirikan oleh Francis Ayer di Philadephia pada tahun 1841. Dengan nama N.W Ayer & Son. Periklanan yang ditata dengan cara bisnis modern baru dikenal tahun 1892 ketika N.W Ayer mulai memperbarui teknik penyampaian pesan untuk mempersuasi konsumen dengan merencanakan, menciptakan dan menjalankan kampanye iklan atas permintaan pengiklan. Pada tahun 1839, penemuan fotografi telah memberikan kemudahan dalam proses pembuatan iklan dan menambah kredibilitas dan dunia baru bagi kreativitas iklan.[36]

Di Amerika selanjutnya perkembangan periklanan media cetak surat kabar kemudian merambah pada media majalah, bulan Juli 1844 iklan majalah pertama secara khusus muncul di majalah Southern Messenger, di bawah arahan Edgar Allan Poe.[37]

Pada akhir abad ke-19, bisnis di Amerika mengalami kemajuan. Kemajuan tersebut mendorong para pebisnis melakukan inovasi-inovasi baru, diantaranya membuat pasar swalayan. Sebenarnya konsep department store bukanlah asli Amerika, namun awalnya muncul di Perancis. Pasar swalayan adalah tempat belanja berbagai barang apa saja, namun disediakan di bawah satu atap bangunan toko tanpa harus keluar masuk berbagai toko, dimana seluruh keluarga dapat menikmati. Atas munculnya bentuk pasar swalayan ini, kebutuhan akan iklan secara besar-besaran juga muncul, menggunakan surat kabar, majalah dan direct mail. Munculnya pasar swalayan yang menyebabkan meningkatnya aktivitas beriklan juga memunculkan perusahaan yang khusus menangani iklan direct mail, misalnya Montgomery Ward di kota Chicago.[38]

Masih di Amerika, media iklan juga banyak mengalami perkembangan. Ketika di Inggris surat kabar yang terbit setiap hari mampu menjangkau seluruh negeri secara cepat, maka di Amerika, hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Penerbitan yang melayani setiap hari hingga ke seluruh penjuru Amerika sulit dilakukan, kecuali penerbitan tersebut bersifat periodik dan tidak dilakukan secara harian. Hal itu disebabkan oleh keadaan geografis dimana letak kota-kota di Amerika sangat berjauhan. Untuk mengiklankan produk secara nasional hingga ke seluruh penjuru kota, sulit dilakukan karena membutuhkan banyak media harian surat kabar. Sementara di sisi lain, kebutuhan untuk mengiklankan produk secara nasional makin kuat. Keadaan itu memunculkan pengembangan media periklanan baru, yaitu majalah yang mampu mengcover secara nasional.[39] Munculnya teknologi komunikasi seperti telepon, telegraf, dan juga film masa periode ini membawa kemajuan tersendiri bagi dunia periklanan.

2. Periklanan Kontemporer

            Setelah melalui beberapa tahapan yang panjang, maka pada masa ini periklanan mulai berkembang sangat pesat dan maju. Medianya pun semakin beragam tidak hanya terbatas pada media konvensional atau pun klasik. Begitu juga metode yang dipakai juga beragam.

2.1 Mengawali Masa Kontemporer

Pada awal abad ke-19 perkembangan periklanan makin cepat. Terlebih ketika industri mulai memasuki pasaran global. Periklanan akhirnya menjadi bisnis tersendiri yang menghasilkan keuntungan jutaan dolar. Ia juga menjadi salah satu bidang pekerjaan yang cukup menjanjikan. Pekerjaan iklan, tidak saja membutuhkan kemampuan orang untuk menyusun kata-kata, namun juga memerlukan banyak orang dengan beragam keahlian dan penguasaan bidang ilmu. Dunia periklanan modern juga tidak hanya terjadi pada Amerika dan Eropa. Perkembangan juga terjadi di berbagai belahan Negara lain di dunia. Kemajuan dunia iklan juga banyak dipengaruhi oleh kemampuan teknik cetak, khususnya cetak warna.[40]

Dalam aspek isi pesan iklan juga mengalami perkembangan yang cepat. Dalam menyusun pesan iklan, pada tahun 1930-an, teknik penggunaan unsur salesmanship mulai digunakan. Dalam teknik tersebut, iklan menjadi lebih mempunyai daya jual. Iklan tidak lagi berkesan kaku, namun seperti seorang salesman yang menghadapi calon konsumen. Selain itu, iklan juga melibatkan bintang film terkenal, sehingga membangun citra di tengah masyarakat bahwa para bintang itu juga menggunakan produk sebagaimana diiklankan. Rupanya, teknik identifikasi dalam dunia periklanan sudah mulai diterapkan.[41]

Perkembangan iklan sempat terpukul akibat Perang Dunia II. Ketika itu, resesi ekonomi melanda dunia, sehingga membuat banyak pengusaha bangkrut dan gulung tikar. Ribuan pabrik tutup. Akibatnya, bisnis iklan juga ikut terpukul, karena jumlah pemasang iklan merosot tajam. Tidak pelak keadaan itu membuat banyak biro iklan menutup usahanya. Kepercayaan terhadap iklan media cetak mulai berkurang.[42]

Lesunya dunia iklan ternyata tidak berlarut-larut. Dengan ditemukannya media radio, mulai memberikan semangat baru kepada para pengiklan untuk merancang pesan-pesan iklan yang lebih kreatif. Sekalipun tarif iklan radio lebih mahal, namun pengiklan radio tetap saja bertambah. Media ini mulai dilirik karena sifatnya yang serempak, jangkauannya ternyata lebih luas dan mampu menembus wilayah geografis yang sulit sekalipun yang selama ini justru sulit ditembus media cetak.[43]

Ketika era radio tengah menikmati kejayaannya, pada tahun 1930-an, lahir media baru: televisi. Televisi yang muncul pada tahun 1941 merupakan ekspansi media yang paling besar. Setelah Perang Dunia II, iklan di media televisi berkembang dengan cepat dan terus memantapkan diri sebagai media periklanan terbesar. Karena sifatnya yang mampu menghadirkan suara sekaligus gambar gerak, media ini pun mulai dilirik oleh pengiklan. Tercata dalam sejarah, pada tahun 1948 iklan televisi pertama yang dipelopori oleh J Walter Thompson mulai ditayangkan. Pada awalnya, iklan televisi masih bersifat terselubung. Namun pada akhirnya, iklan televisi makin terbuka. Pengaruh iklan televisi makin meningkat dibanding media cetak dan radio ketika pada tahun 1955 televisi berwarna mulai diperkenalkan.[44]

Menurut Rendra Widyatama dalam bukunya Pengantar Periklanan bahwa pada akhir tahun 1940-an dan awal 1950-an iklan mengalami masa keemasan. Ditandai dengan kondisi dimana konsumen berusaha menaikkan status sosialnya melalui konsumsi barang-barang modern, sehingga pada era ini kreatif iklan berfokus pada penonjolan keistimewaan produk yang secara implisit menunjukkan pada penerimaan sosial, gaya, kemewahan dan kesuksesan. Namun setelah itu pada tahun 1960-an, iklan mengalami pergeseran penekanan dari keistimewaan produk menjadi citra atau personalitas merek. Aneka produk pun ditempeli dengan sejumlah citra-citra yang kemudian menjadi simbol kesuksesan dan kemewahan. Dan pada tahun-tahun ini iklan disebut “The Image Era of Advertising”.      

            Pada akhir 1980-an, iklan masuk dalam era post-industrial. Menurut Rendra Widyatama, era ini dimulai ketika masyarakat menyadari akan lingkungan hidup dan munculnya ketakutan akan ketergantungan dengan sumber alam, sehingga pada saat itu, iklan justru digunakan untuk mendorong masyarakat agar mengurangi konsumsi. Produk-produk yang mengklaim diri sebagai ramah lingkungan mulai diiklankan. Perusahaan-perusahaan pun gencar mengkampanyekan diri sebagai perusahaan yang sadar lingkungan. Pada tahun-tahun ini, perusahaan yang dipandang mempunyai kesadaran lingkungan, dinilai sebagai perusahaan yang lebih baik sehingga pada gilirannya lebih diterima dan disukai oleh masyarakat.[45]

Pada awal abad 20, iklan kembali mendorong masyarakat untuk menambah konsumsinya. Dalam bukunya Pengantar Periklanan, Rendra Widyatama menggambarkannya bahwa tiap produk berupaya agar dirinya dicitrakan dalam gaya hidup tertentu yang dikonstruksikan mempunyai status sosial yang lebih baik dibanding yang lain. Iklan pun dijadikan sebagai sarana untuk pengkondisian khalayak sasaran agar siap menerima produk yang dihasilkan.

Pada masa kini, periklanan semakin pesat perkembangannya. Iklan banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Kini, iklan telah menjadi bisnis besar. Kreativitas mulai beraneka ragam, sehingga periklanan menjadi lebih bervariasi. Media yang digunakan tidak lagi hanya bertumpu pada surat kabar, majalah, radio dan televisi semata, namun juga menggunakan beragam media lain.[46]

Munculnya beragam media akhirnya juga mempengaruhi dunia periklanan. Berbagai media yang muncul menyebabkan iklan mulai bergeser paradigma dalam pemasangannya, yaitu dari penggunaan media yang paling banyak / luas jangkauannya menjadi media yang paling spesifik yang mampu menjangkau khalayak sasarannya. Sehingga kini perusahaan kecil pun dapat menggunakan media televisi untuk menyampaikan pesannya.[47]

2.2 Periklanan Kreatif

Periklanan modern sesungguhnya terjadi sekitar tahun 1842, ketika Volney B Palmer untuk pertama kalinya menggunakan istilah Advertising Agency. Ia mendirikan sebuah biro iklan pertama di Philadelphia, Amerika Serikat. Awal kantornya adalah perwakilan dari banyak surat kabar di Amerika Serikat, tempat menjual Koran langganan juga tempat memasang iklan lalu kemudian menjadi Advertising Agency atau juga biasa disebut biro iklan. Kemunculan biro iklan Itu sendiri disebabkan adanya gap yang terjadi antara klien dan penerbit, karena dikala itu belum bagusnya infrastruktur yang ada. Media cetak harus diedarkan memakai kereta kuda maupun kereta api.[48]

Iklan modern sendiri yang mulai berkembang tahun 1960-an, jauh berbeda dengan periklanan masa lampau. Pada tahun ini, periklanan menemukan bentuknya yang modern dengan karya-karya kreatif yang menakjubkan. Perintis iklan dengan landasan karya kreatif yang digarap secara apik ini dipelopori oleh seri iklan mobil kodok Volkswagen yang menampilkan judul-judul seperti ‘Think Small” dan “Lemon”. Iklan-iklan Volkswagen inilah yang meletakkan dasar positioning dan unique selling proposition (USP) dalam periklanan yang masih dipegang hingga kini. Konsep ini mengikat (associate) setiap brand dengan satu specific idea yang khas yang menancap di benak konsumen.[49]    

Di akhir 1980 dan awal 1990 memperlihatkan kemunculan TV Kabel dan MTV, sebagai bagian darinya. Sebagai pionir dalam konsep musik-video, pelayanan MTV merupakan sebuah tipe periklanan yang baru. Konsumen lebih menyimak pesan yang diiklankan MTV dibandingkan dengan membeli setelah mendapat informasi dari media lain. Saat tv kabel dan tv satelit mengalami peningkatan secara umum, beberapa saluran berada di posisi puncak, termasuk saluran yang seluruh durasinya berisi iklan seperti QVC, Home Shopping Network, dan Shop tv.[50]

Pemasaran melalui internet membuka batas baru bagi periklanan dan memberikan kontribusi pada “boomingnya” “dot-com” tahun 1990. Seluruh perusahaan terus beroperasi semata-mata dalam bidang periklanan, dan menawarkan segalanya untuk kupon berlangganan internet gratis. Memasuki abad ke-21 sejumlah website, termasuk ‘mesin pencarian google’ memulai perubahan dalam dunia periklanan on-line dengan mengekspansi relevansi kontekstual, tidak menonjolkan iklan dibandingkan dengan pemberian bantuan dan lebih utama ketimbang membanjiri konsumen dengan brosur. Hal ini menandai kebangkitan trend periklanan interaktif.[51]

Penyebaran pesan melalui iklan, secara relatif menelan biaya dari GDP sehingga menyebabkan perubahan yang cukup signifikan dalam pemilihan media. Di Amerika misalnya, pada tahun 1925 media iklan yang utama adalah surat kabar, majalah, nyala lampu trem, dan poster-poster. Periklanan menghabiskan anggaran sekitar 2,9% dari GDP. Sejak 1998, televisi dan radio menjadi media periklanan yang utama dan menghabiskan dana dari GDP yang lebih rendah, sekitar 2,4%. Dilihat dari tujuan, penyajian, sampai ke anggaran yang dibelanjakan iklan mengalami kemajuan yang sangat pesat.[52]

Periklanan terus berkembang dari tahun ke tahun dalam percaturan industri dan ekonomi dunia. Dengan sistem pengendalian yang baik, iklan telah menyumbangkan jasa reproduksi komoditas yang besar bagi perkembangan industri, senyampang dengan itu kebutuhan periklanan terus meningkat sampai sekitar $85.000.000 per tahun. Surat kabarlah yang paling banyak menikmati keuntungan peningkatan ini sampai mencapai setengah dari keuntungan mereka. Seratus tahun berikutnya, pada awal abad ke-19, surat kabar tetap menikmati keadaan ini. Sehingga iklan menjadi sebuah sistem yang tak terpisahkan dengan semua percaturan bisnis perusahaan. Dan di saat dunia mulai mengenal televisi pada tahun 1960, peran iklan menjadi lebih popular lagi. Bersamaan dengan itu pula, iklan televisi mulai mengendalikan dominasi periklanan sampai saat ini.[53]

 

Penutup         

Periklanan tidak hanya ada pada zaman modern sekarang ini, namun kehadirannya telah ada ribuan tahun silam sejak manusia mulai saling berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada mulanya iklan yang mereka upayakan masih sangat sederhana yaitu dalam bentuk lisan dan ditujukan untuk saling menukar barang yang mereka miliki. Bahasa mereka pun pada waktu itu juga masih sangat sederhana dan cenderung sangat tidak terstruktur dengan baik dan efektif, sehingga cara beriklan seperti yang mereka praktekkan ini terkadang mengalami hambatan. Umumnya mereka menambahkan bahasa tubuh (gesture) agar terjadi kesepakatan ketika menyampaikan pesan iklan yang mereka upayakan. Tak cukup dengan itu saja, kehadiran benda yang dimaksud turut pula dihadirkan pada saat praktek beriklan tadi berlangsung.

Setelah masa-masa tersebut periklanan pada prakteknya mengalami perkembangan. Tadinya beriklan hanya ditujukan untuk saling menukar barang namun sudah berubah untuk memberitahukan adanya penawaran sebuah barang (produk). Hal ini ditandai dengan metode berteriak di gerbang kota dan pesan berantai (word of mouth) yang berbentuk pengumuman. Dalam bentuk lain misalnya ukiran yang terdapat pada kepingan tanah liat (clay tablet) mirip seperti prasasti digunakan oleh para pedagang salep, penulis dan pembuat sepatu sebagai sarana beriklan untuk menawarkan produknya kepada orang-orang. Ada juga yang berteriak keliling kota untuk menjajakan barangnya (di masa sekarang disebut dengan salesman). Disini metode beriklan mengalami kemajuan, sebab bahasa yang dipakai si penjaja barang tadi menggunakan bahasa persuasif. Ia berusaha merangkai kata-kata agar menarik orang mau mendengar dan akhirnya mau membeli barangnya.

Media lain yang digunakan untuk beriklan adalah pahatan di dinding piramida, relief yang diukir di dinding, logo, tanda, dan simbol/papan nama. Kemudian setain itu, beriklan yang disampaikan lewat tulisan menggunakan media dari alam seperti batu, tanah liat, papirus, kulit binatang, dan kertas. Sekarang setelah ditemukannya teknologi dan bahkan semakin canggih, maka media beriklan memiliki corak dan ragam yang luar biasa banyak. Dimulai dari radio, televisi, dan yang paling mutakhir adalah internet menambah nuansa periklanan yang semakin modern.


                [1] Rakhmat Supriyono, Desain Komunikasi Visual, (Yogyakarta: ANDI, 2010), h. 127.

                [2] Freddy Adiono, Komunikasi Grafis (Departemen Pendidikan Nasional, 2000), h. 8.

                [3] Ruangdosen, Introduction to Advertising, http://www.wordpress.com. diakses tanggal 26 Pebruari 2012.

                [4] Morissan, Periklanan: Komunikasi Pemasaran Terpadu, (Jakarta: Kencana, 2010), h. 17.

                [5] Rendra Widyatama, Pengantar Periklanan, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2009), h. 14.

                [6] Rendra Widyatama, Pengantar Periklanan…, h. 15.

                [7] Ibid, h. 16.

                [8] Monle Lee & Carla Johnson, Prinsip-Prinsip Pokok Periklanan dalam Perspektif Global: Terj.,(Jakarta: Prenada Media, 2004), h. 3.

                [9] Ruangdosen, Introduction to …, diakses tanggal 26 Pebruari 2012.

                [10] Rendra Widyatama, Pengantar Periklanan…, h. 16.

                [11] Ibid, h. 49.

                [12] Rendra Widyatama, Pengantar…, h. 50.

                [13] Ibid.

                [14] Ruangdosen, Introduction to …, diakses tanggal 26 Pebruari 2012.

                [15] Ads.my.id, Sejarah Periklanan Sebelum Penemuan Mesin Cetak, http:www.ads.my.id/sejarah-periklanan-sebelum-penemuan-mesin-cetak/, diakses tanggal 29 Juli 2013.

                [16] Ads.my.id, Sejarah Periklanan…, diakses tanggal 29 Juli 2013.

                [17] Rendra Widyatama, Pengantar Periklanan…, h. 50.

                [18] Ibid, h. 50-51.

                [19] Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa: Kekuatan Pengaruh Media Massa, Iklan Televisi, dan Keputusan Konsumen Serta Kritik terhadap Peter L. Berger & Thomas Luckmann, (Jakarta: Kencana, 2011), h. 73.  

                [20] Ibid, h. 73-74.

                [21] Lihat Ads.my.id, Sejarah Periklanan…,diakses tanggal 29 Juli 2013.

                [22] www.kinozuke.blogspot.com, Basic Advertising: Sejarah Perkembangan Periklanan, http://www.basic-advertising.blogspot.com/2009/06/sejarah-perkembangan-periklanan.html?m=1, diakses tanggal 31 Juli 2013.

                [23]  Rendra Widyatama, Pengantar …, h. 14.

                [24]  Ibid, h. 56.

                [25] Lihat pula www.kinozuke.blogspot.com, Basic Advertising…, diakses tanggal 31 Juli 2013.

                [26] Lihat Burhan Bungin, Konstruksi Sosial…, h. 74.

                [27] Ibid.

                [28] www.kinozuke.blogspot.com, Basic Advertisin…, diakses tanggal 31 Juli 2013.

                [29] Burhan Bungin, Konstruksi Sosial…, h. 74.

                [30] Rendra Widyatama, Pengantar Periklanan…,  h. 57.

                [31] Rendra Widyatama, Pengantar Periklanan…,  h. 57.

                [32] Ibid, h. 58.

                [33] Ibid, h. 74-75.

                [34] Burhan Bungin, Konstruksi Sosial…, h.75.

                [35] Ibid.

                [36] Burhan Bungin, Konstruksi Sosial…, h.75.

                [37] Ibid.

                [38] Rendra Widyatama, Pengantar Periklanan…  h. 58.

                [39] Ibid, h. 58-59.

                [40] Rendra Widyatama, Pengantar Periklanan…  h. 59.

                [41] Ibid, h. 58.

                [42] Ibid, h. 60.

                [43] Rendra Widyatama, Pengantar Periklanan…  h. 60.

                [44] Ibid,  h. 61.

                [45] Rendra Widyatama, Pengantar Periklanan…  h. 61-62.

                [46] Ibid, h. 63.

                [47] Ibid.

                [48] Dendy Triadi dan Addy Sukma Bharata, Ayo Bikin Iklan! Memahami Teori dan Praktek Iklan Media Lini Bawah, (Jakarta: PT.Elex Media Komputindo, 2010), h. 2.

                [49] Ads.my.id, Sejarah Periklanan…, diakses tanggal 29 Juli 2013.

                [50] Ibid.

                [51] Ibid.

                [52] Ibid.

                [53]  Burhan Bungin, Konstruksi Sosial …, h. 76.